Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Ujung halaman seratus dua puluh empat itu sudah melipat dua kali, menciptakan bekas tekukan putih yang mulai dekil akibat bekas minyak dari jempol kanan milik Anto. Di teras perpustakaan daerah yang pengap oleh aroma kertas tua dan keringat pengunjung, ia duduk menghadap sebuah meja kayu lapuk yang salah satu kakinya diganjal lipatan kardus mi instan agar tidak bergoyang. Di hadapannya, sebuah buku novel terjemahan dengan sampul lusuh bergambar siluet kota tua menjadi satu-satunya pembatas jarak antara dirinya dan Gita, perempuan yang sore itu sibuk mengikat rambutnya yang agak basah karena sisa gerimis luar ruangan.
"Buku ini aku pinjam seminggu lagi ya, To. Tanggung, tinggal dua bab terakhir," kata Gita sambil menggeser segelas es teh manis yang plastik pembungkusnya sudah mulai berembun parah hingga membasahi beberapa lembar catatan kuliah di atas meja.
Anto tidak langsung mengangguk, melainkan memandangi permukaan buku tersebut dengan tatapan yang sulit diartikan oleh siapa pun yang lewat. Buku itu sebenarnya bukan miliknya, melainkan aset perpustakaan yang masa pinjamnya sudah lewat tiga hari dari tanggal stempel merah di lembar belakang. Baginya, keterlambatan mengembalikan buku dan denda seribu rupiah per hari bukanlah masalah besar, melainkan alasan logis yang sengaja ia pelihara agar memiliki jadwal tetap untuk bertemu Gita di selasar bangunan tua ini setiap hari Selasa sore.
"Asal jangan sampai hilang saja, Rin. Kemarin petugas di dalam sudah mulai memandangi jaminan kartu tandaku dengan muka masam," sahut Anto sambil menarik bungkus rokok dari saku kemejanya, lalu buru-buru memasukkannya kembali setelah melihat papan larangan merokok yang terpaku miring di tiang semen dekat kepala mereka.
Gita tertawa kecil, suara tawa yang pendek namun cukup untuk meredam deru mesin angkot yang sedang ngetem mencari penumpang di seberang pagar perpustakaan. Hubungan mereka berdua berjalan di atas ketidakjelasan yang dirawat dengan sangat rapi melalui perantara benda-benda pinjaman, mulai dari buku novel, kaset lagu lama yang pitanya sudah agak meral, sampai urusan pinjam jas hujan plastik ketika langit kota mendadak bocor tanpa sempat memberi peringatan terlebih dahulu. Ada kesepakatan tidak tertulis di antara mereka bahwa meminjam adalah cara paling aman untuk terus terikat tanpa perlu menuntut sebuah komitmen yang sering kali berakhir merepotkan di usia mereka yang baru menginjak awal dua puluhan.
Anto masih ingat betul bagaimana awal mula novel lusuh itu berpindah tangan di halte bus dekat kampus, tiga minggu yang lalu. Saat itu Gita sedang menggerutu karena kehabisan ongkos pulang akibat dompetnya tertinggal di laci meja belajar, dan Anto datang menawarkan tebengan motor sembari menyodorkan buku tersebut sebagai pengalih perhatian agar suasana di sepanjang jalan tidak terlalu kaku. Sejak sore itu, buku tersebut menjelma menjadi surat pengantar yang sah untuk setiap percakapan panjang mereka tentang apa saja, mulai dari dosen killer yang pelit nilai hingga mimpi-mimpi kelas pekerja yang sering kali kandas di ujung bulan.
"Kamu sudah dengar kabar tentang pendaftaran magang di bank swasta dekat alun-alun itu?" tanya Gita tiba-morrow, matanya beralih menatap ujung sepatunya yang mulai mengelupas bagian kulit sintetisnya.
Anto menggeser posisi duduknya hingga kursi kayu yang ia duduki mengeluarkan bunyi berderit yang cukup nyaring di selasar yang mulai sepi dari aktivitas pengunjung. "Sudah. Tapi kudengar mereka hanya menerima dua orang dari jurusan kita, dan kriteria indeks prestasinya agak tidak masuk akal untuk ukuran mahasiswa yang sering bolos kuliah seperti aku," jawab Anto dengan nada realistis, mencoba menutupi rasa rendah diri yang mendadak muncul setiap kali membahas masalah masa depan pasca kampus.
Gita membalik halaman buku di hadapannya secara acak, menciptakan suara gesekan kertas yang ritmis dan menenangkan di telinga Anto. "Aku mau mencoba memasukkan berkas ke sana besok pagi. Kalau diterima, mungkin aku tidak akan sering-sering punya waktu luang untuk sekadar mampir ke perpustakaan ini lagi," ucap Gita pelan, hampir menyerupai bisikan yang kalah bersaing dengan suara klakson kendaraan di jalan raya luar.
Kalimat itu mendarat dengan bobot yang cukup berat di kepala Anto, menghancurkan skenario-skenario pertemuan Selasa sore yang sudah ia susun rapi dalam kepalanya untuk beberapa bulan ke depan. Ia memandangi jemari Gita yang masih setia memegang pinggiran halaman buku, menyadari bahwa ruang dan waktu yang selama ini mereka bagi dengan cuma-cuma lewat perantara buku pinjaman ini perlahan-lahan mulai digilas oleh kenyataan hidup yang menuntut langkah kaki lebih cepat. Meminjam buku adalah cara Anto menahan Gita agar tidak melangkah terlalu jauh dari jangkauan pandangannya, namun ia tahu betul bahwa tidak ada barang pinjaman yang bisa disimpan selamanya tanpa harus dikembalikan ke tempat asalnya.
"Baguslah kalau begitu. Setidaknya salah satu dari kita ada yang punya kesibukan jelas daripada menumpuk denda buku di tempat pengap ini," kata Anto akhirnya, memaksakan sebuah senyuman kasual yang terasa sangat hambar di sudut bibirnya yang mulai kering.
Gita tidak membalas ucapan itu, ia hanya menutup buku novel terjemahan tersebut dengan sebuah hentakan kecil yang pelan, lalu memasukkannya ke dalam tas kain miliknya dengan gerakan yang sangat hati-hati, seolah-olah sedang mengemas barang pecah belah yang gampang hancur. Matahari sore mulai turun ke balik atap seng perumahan warga di seberang jalan, menyisakan warna temaram yang membuat bayangan mereka berdua memanjang di lantai selasar perpustakaan yang berdebu tipis.
"Aku pulang duluan ya, To. Angkot jurusan rumahku biasanya sudah jarang kalau lewat jam lima sore," kata Gita sambil berdiri dari kursinya dan membenahi letak tas kain di pundak kirinya yang tampak sedikit turun akibat beban buku di dalamnya.
Anto tetap duduk di kursinya, memandangi sosok Gita yang mulai melangkah menjauh menyusuri koridor semen menuju pintu gerbang besi luar yang catnya sudah mengelupas parah. Ia melihat bagaimana perempuan itu sempat berhenti sejenak di dekat pos satpam untuk memeriksa isi tasnya sekali lagi, memastikan buku pinjaman itu aman dari kemungkinan basah jika gerimis kembali turun mengguyur kota. Anto menarik napas panjang, merasakan sisa aroma kertas tua dan es teh manis yang mulai menguap habis di atas meja kayu di hadapannya, meninggalkan sepi yang kembali merayap naik dari sela-sela lantai semen yang retak tanpa ada tanda-tanda akan berhenti.