Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Romantis
The Morning We Meet Again
0
Suka
17
Dibaca
Flash Fiction ini masih diperiksa oleh kurator

"Halo, Evelyn!"

Mendengar namanya disebut, Evelyn mau tak mau mengalihkan pandangan dari novel yang sedang dibacanya.

Dia mendongak dan mendapati seorang pria bertubuh tinggi tegap berdiri di hadapannya, sedikit menghalangi cahaya dari dinding kaca lebar yang membatasi ruang tunggu dengan landasan pacu

Evelyn membisu. Matanya melebar beberapa saat sebelum akhirnya beralih menyapu ruang tunggu yang pagi itu begitu ramai dengan para penumpang yang menanti untuk terbang. Kentara sekali dia menghindari beradu mata dengan pria itu.

"Boleh aku duduk di sini?" Pria itu kembali berbicara.

Tanpa menunggu jawaban, dia duduk di kursi kosong di samping Evelyn.

"Apa kabar?" lanjutnya kemudian.

Evelyn yang awalnya berusaha tidak mengacuhkan terpaksa bersuara.

"Baik."

Hanya itu yang keluar dari bibir tipis Evelyn. Dia kembali menatap novel di pangkuannya, berusaha mengalihkan rasa gugup yang tiba-tiba menyergap.

"Agatha Christie? Seleramu masih belum berubah."

Tampaknya pria itu tak menyerah untuk menarik perhatian Evelyn. Akhirnya Evelyn menghela napas dan menutup novel bersampul putih miliknya.

"Seperti yang kamu lihat. Aku tidak banyak berubah, termasuk selera membacaku."

Kalimat yang keluar dari mulut Evelyn bernada dingin, namun hatinya menghangat seiring beradunya kedua mata mereka. Warna coklat itu, warna yang sudah lama dia rindukan.

Senyum tersungging di bibir pria itu. Menampilkan sederet gigi putih nan rapi. Mata Evelyn memanas. Sudah dua tahun dia tidak melihat senyum hangat itu.

Apa arti senyum itu?

Apakah dia sudah dimaafkan?

Pertanyaan itu menyeret Evelyn kembali ke pertemuan terakhir mereka dua tahun lalu, pada sebuah dini hari yang dingin dan basah karena hujan. Tepat dua bulan setelah Evelyn menghancurkan hatinya.

Ting tong…

Satu, dua, tiga, empat, lima, Evelyn terus menghitung. Pada hitungan kesebelas seberkas cahaya terang menyeruak dari celah pintu yang terbuka.

"Ada apa?"

Suara parau menyambutnya.

Apakah dia sakit?” batin Evelyn.

Rasa khawatir merayap di dadanya. Namun bukan pertanyaan itu yang harus dia sampaikan.

"Selamat ulang tahun, Bi. Maafkan aku."

Semenit berlalu. Tak ada jawaban dari balik pintu yang bahkan tidak terbuka sempurna. Sebuah rantai pengunci masih menahannya. Evelyn gentar. Akankah maafnya diterima jika pintu itu saja tidak lagi terbuka untuknya.

"Pulanglah. Di luar dingin."

Pintu kembali tertutup. Membawa pergi cahaya yang sempat menerangi koridor apartemen yang remang itu. Evelyn mengerti, maafnya sudah terlambat.

"Evelyn! Hei!"

Lambaian tangan di depan wajah Evelyn membawanya kembali ke alam nyata. Tampaknya sudah cukup lama dia tertegun melamunkan masa lalunya dengan pria itu.

"Maaf. Aku sedikit melamun."

Evelyn salah tingkah. Sekali lagi dia membuang pandangannya. Namun tatapan mata itu berhenti di tempat yang salah. Benda berkilau di jari manis kiri pria itu menyita perhatiannya.

Cincin? Apakah dia sudah tidak sendiri?” Evelyn bergumam dalam hati.

Sejujurnya, bukan hal yang mustahil jika pria di hadapannya sudah mempunyai tambatan hati yang baru. Dua tahun bukan waktu yang sebentar. Mungkin, itu alasannya bisa menyapa Evelyn dengan begitu riang—karena luka-lukanya telah sembuh sempurna.

Seperti tahu arah tatapan Evelyn, pria itu buru-buru memindahkan tangan kirinya dari pangkuan, lalu beranjak berdiri.

"Aku permisi ke toilet sebentar. Boleh aku titip barang-barangku?" tanya pria itu sambil menunjuk ransel hitam dan tas kecil yang tergolek di atas bangku kosong di samping kanannya.

"Tentu saja," jawab Evelyn.

Pria itu beranjak pergi. Evelyn kembali membuka novelnya. Namun setelah membaca beberapa paragraf, dia kembali menutupnya. Bayangan cincin di jari manis pria itu tak kunjung lepas dari benaknya.

“Makasih, ya.” Suara itu kembali mengejutkan Evelyn untuk kesekian kalinya.

“Ah, i… iya. Nggak masalah,” jawab Evelyn tergagap.

“Aku duluan, ya. Pesawatku sudah mau berangkat,” pamit pria itu sembari menyampirkan ransel ke bahunya.

Evelyn mengangguk. Mulutnya kehilangan kata-kata.

Pria itu melambaikan tangan, tersenyum ramah, lalu beranjak pergi. Evelyn memandangi punggung itu sampai menghilang dari pandangan. Detik berikutnya dia baru sadar sebuah tas kecil masih tergolek di sampingnya.

Evelyn meraihnya dan berlari mengejar. Saat itulah sebuah buku catatan terjatuh dari kantong tas. Tergeletak di lantai dengan posisi terbuka dan menampilkan sebuah foto yang terselip di sela-sela halamannya.

Dia mengenali wajah-wajah yang tersenyum bahagia itu dan jantungnya mendadak berdegup kencang. Jemarinya perlahan bergerak mendekat, tapi seseorang mendahuluinya. Saat mengangkat wajah, Evelyn kembali menemukan mata cokelat milik pria itu—memandangnya dengan tatapan yang sulit diartikan.

“Kenapa kamu masih menyimpan foto kita?” Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari mulut Evelyn.

Sayangnya, pria di hadapannya hanya membisu. Tangannya meraih tas kecil di genggaman Evelyn, lalu memasukkan buku catatan itu ke dalamnya.

“Terima kasih.”

Dia tersenyum, lalu berbalik dan melangkah menjauh hingga akhirnya menghilang dari pandangan Evelyn.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Romantis
Flash
The Morning We Meet Again
Asri Lestari
Novel
Do Not Cry Anymore!
Sugiati
Novel
Bronze
Akhirnya Jadian
Rahmatika Yuniarti
Novel
Heartbeat
Viky Aulia Safitri
Novel
Bersamalah dengannya, dan menjadi sepasang arti
Nina Karlina
Novel
Renjana
Arbiana
Novel
Bronze
See U Later Boy
Ludiamanta
Novel
Seminggu 7 Hari
Fahmi Poetra
Novel
Bronze
After Ecstasy
Varenyni
Novel
SEPAKAT SEPAKET
Wiwiet Rahma Sari
Komik
Bronze
Taring Unordinary Families
Muhammad aris Setiawan
Skrip Film
Underage Marriage (Scipt)
Ika Karisma
Skrip Film
AFTER YOUR WEDDING DAY
Reiga Sanskara
Flash
Patah Hati
Awang Nurhakim
Flash
Siasat Lucu Menahan Kepergianmu Lewat Denda Perpustakaan
kutipan.izs
Rekomendasi
Flash
The Morning We Meet Again
Asri Lestari
Novel
Tak Ada Lagi Kita
Asri Lestari
Flash
Lagu Terakhir
Asri Lestari
Cerpen
Sungai Ayung Punya Cerita
Asri Lestari
Cerpen
Kupu-Kupu Biru
Asri Lestari