Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Romantis
Di Balik Jaket Hijau
0
Suka
897
Dibaca

Hujan turun tipis di Jakarta malam itu. Lampu-lampu jalan memantul di aspal yang basah, membentuk garis-garis cahaya seperti luka panjang di kota yang tidak pernah benar-benar tidur.

Arga Mahendra mematikan layar laptopnya perlahan.

Di ruang rapat lantai tiga puluh dua itu, semua orang baru saja selesai memujinya. Direktur termuda. CEO paling visioner. Pendiri aplikasi transportasi terbesar kedua di Indonesia.

Tapi tidak satu pun dari mereka tahu kalau Arga merasa asing dengan perusahaan yang ia bangun sendiri.

“Driver kita harus lebih disiplin.”

“Bonus dipotong saja kalau rating turun.”

“Komplain pelanggan meningkat.”

Kalimat-kalimat itu terus terngiang di kepalanya.

Mereka bicara tentang pengemudi seperti mesin. Bukan manusia.

Arga berdiri di depan jendela gedung tinggi itu dan melihat ribuan motor berlalu di bawah sana. Jaket hijau. Helm penuh goresan. Wajah-wajah lelah.

Mereka adalah alasan perusahaan itu hidup.

Namun ia sadar… dirinya sudah terlalu jauh dari mereka.

Malam itu juga, Arga mengambil keputusan gila.

Ia akan turun ke jalan.

Bukan sebagai CEO.

Tapi sebagai pengemudi ojek online biasa.

Dua hari kemudian, seorang driver baru bernama “Bima” resmi terdaftar di aplikasi.

Tak ada yang tahu identitas aslinya.

Arga memotong rambutnya lebih pendek, memakai masker lusuh, jaket hijau bekas, dan motor tua hasil pinjaman dari satpam apartemennya.

Order pertama masuk pukul enam pagi.

“Antar nasi uduk.”

Sederhana.

Namun saat mengambil pesanan di warung kecil dekat stasiun, ia melihat sesuatu yang selama ini tidak pernah muncul di laporan perusahaan.

Seorang ibu tua berdiri sendirian membungkus makanan sambil batuk-batuk.

“Maaf ya, Nak, lama sedikit,” katanya pelan.

Arga tersenyum kecil.

“Tidak apa-apa, Bu.”

Order itu hanya menghasilkan sembilan ribu rupiah.

Sembilan ribu.

Arga menatap layar ponselnya lama.

Di kantornya, sembilan ribu bahkan tidak cukup untuk kopi rapat.

Namun di jalanan, angka itu didapat dengan hujan, panas, dan risiko kecelakaan.

Hari demi hari berlalu.

Arga mulai menjalani hidup yang sama seperti jutaan driver lainnya.

Ia makan di pinggir jalan.

Tidur sebentar di masjid.

Menunggu order sambil memandangi lampu merah.

Kadang dapat pelanggan baik.

Kadang dihina.

“Cepetan dong, Mas! Saya telat!”

“Motor Anda bau bensin.”

“Jangan muter-muter, ya!”

Suatu malam, ia mengantar seorang pria mabuk dari klub malam.

Di tengah perjalanan, pria itu menepuk helm Arga keras.

“Eh driver… kalian enak ya kerja tinggal narik.”

Arga diam.

Pria itu tertawa kecil.

“Kalau saya jadi kalian sih malas hidup.”

Kalimat itu terasa seperti tamparan.

Arga ingin marah.

Ingin bilang kalau perusahaan tempat pria itu memesan layanan dipimpin olehnya.

Tapi ia hanya menggenggam gas lebih erat.

Karena untuk pertama kalinya dalam hidup, ia mengerti bagaimana rasanya dianggap rendah.

Seminggu kemudian, Arga bertemu lelaki bernama Pak Darto.

Usianya hampir enam puluh.

Rambutnya sudah putih separuh.

Motor tuanya bahkan sering mogok.

Mereka bertemu di warung kopi dekat flyover.

“Baru narik ya?” tanya Pak Darto.

Arga mengangguk.

“Masih belajar, Pak.”

Pak Darto tertawa kecil.

“Kerjaan ini bukan soal kuat bawa motor. Tapi kuat hati.”

Kalimat itu tinggal lama di kepala Arga.

Malam itu mereka berbincang banyak.

Pak Darto ternyata mantan buruh pabrik yang terkena PHK. Anak pertamanya kuliah, sedangkan istrinya sakit diabetes.

“Kalau saya berhenti narik sehari, dapur bisa berhenti ngebul,” katanya sambil tersenyum lelah.

Arga menunduk.

Di kantor, ia pernah menyetujui pemotongan insentif demi “efisiensi”.

Sekarang ia melihat sendiri wajah orang yang terkena dampaknya.

Bukan angka.

Bukan grafik.

Tapi manusia.

---

Suatu sore hujan deras mengguyur kota.

Order Arga sepi.

Ia berteduh bersama beberapa driver lain di bawah jembatan.

Di sana, ia mendengar banyak cerita.

Ada yang motornya ditarik leasing.

Ada yang tetap narik meski demam.

Ada yang belum pulang dua hari karena mengejar target bonus.

Namun anehnya, mereka tetap bisa tertawa.

Saling berbagi rokok.

Saling meminjamkan uang lima ribu.

Saling membantu mendorong motor mogok.

Arga yang selama ini hidup di gedung mewah mendadak merasa kecil.

Ia punya segalanya.

Tapi orang-orang itu punya sesuatu yang tidak dimiliki banyak pejabat perusahaan:

Ketulusan.

---

Malam paling mengubah hidupnya datang tanpa peringatan.

Sekitar pukul sebelas, ia mendapat order menuju rumah sakit.

Penumpangnya seorang gadis kecil berusia sekitar delapan tahun bersama ayahnya.

Anak itu sesak napas.

Sang ayah panik.

“Mas tolong cepat… anak saya asma.”

Arga langsung melaju menerobos hujan.

Lampu merah diterjang perlahan.

Air hujan menampar wajahnya.

Di belakang, gadis kecil itu terus batuk.

Untuk pertama kalinya sejak bertahun-tahun, Arga merasa benar-benar takut.

Bukan takut kehilangan uang.

Bukan takut bisnis rugi.

Tapi takut terlambat menyelamatkan seseorang.

Mereka tiba di rumah sakit tepat waktu.

Sang ayah hampir menangis.

“Terima kasih, Mas… saya belum bisa bayar lebih.”

Arga menggeleng.

“Tidak apa-apa, Pak.”

Pria itu menggenggam tangan Arga erat sebelum berlari masuk membawa anaknya.

Dan malam itu Arga duduk sendirian di parkiran rumah sakit sambil menatap hujan.

Matanya basah.

Bukan karena air hujan.

Tapi karena akhirnya ia sadar sesuatu:

Perusahaannya bukan cuma aplikasi.

Bukan sekadar teknologi.

Melainkan jembatan hidup bagi banyak orang.

Sebulan setelah penyamarannya dimulai, Arga kembali ke kantor pusat.

Para direksi terkejut melihat penampilannya yang lebih kurus dan kulitnya yang menggelap.

Rapat besar dimulai pagi itu.

Semua petinggi hadir.

Salah satu direktur mulai berbicara tentang rencana pemotongan bonus baru.

Namun Arga memotongnya.

“Tidak jadi.”

Ruangan hening.

Arga berdiri perlahan.

“Saya baru saja hidup sebagai driver selama satu bulan.”

Semua orang membeku.

Ia mengeluarkan helm hijaunya dan meletakkannya di meja rapat.

“Mulai hari ini, sistem insentif diperbaiki. Dana kesehatan driver ditambah. Dan setiap pengambil keputusan di perusahaan ini wajib turun ke jalan minimal seminggu sekali.”

Tak ada yang berani bicara.

Arga menatap mereka satu per satu.

“Kita membangun perusahaan ini di atas keringat mereka. Jangan pernah lupa itu.”

Beberapa bulan kemudian, perubahan besar terjadi.

Banyak driver mulai merasakan sistem yang lebih manusiawi.

Pak Darto mendapat bantuan pengobatan untuk istrinya.

Driver yang kecelakaan memperoleh santunan lebih layak.

Dan untuk pertama kalinya, para petinggi perusahaan benar-benar mendengar suara pengemudi.

Namun tidak ada yang tahu satu hal.

Kadang-kadang, saat malam turun dan hujan mulai membasahi kota…

Seorang driver bernama “Bima” masih sering terlihat online.

Mengantar makanan.

Menjemput penumpang.

Melaju diam-diam di antara ribuan lampu Jakarta.

Karena bagi Arga, di balik jaket hijau itu, ia menemukan sesuatu yang selama ini hilang dari hidupnya:Arti menjadi manusia.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Romantis
Flash
Bronze
Hilang
Nona Vian
Flash
Di Balik Jaket Hijau
Lukitokarya
Novel
KESEMPATAN KEDUA: Istri Pilihan Kakek
NanamamuNamaku
Novel
Kisah Dalam Diam
noeeyyy
Skrip Film
Jurang karma
rhmad_reza
Flash
Bronze
Hati-Hati Di Jalan
Deasy Wirastuti
Novel
Past Infinity
Enya Rahman
Novel
SEMUA TENTANG LUNAR
M Teguh Gumilar
Novel
Just Before You Love
Usep Jamaludin
Novel
April's Diary
Desi Ra
Flash
Bronze
Fatima
Faisal Susandi
Novel
Gold
Still into You
Bentang Pustaka
Novel
Gold
Moon Cake
Noura Publishing
Novel
ALLURA
Mirna Anata
Skrip Film
Skrip Sajak Cinta Terakhir
Widhi ibrahim
Rekomendasi
Flash
Di Balik Jaket Hijau
Lukitokarya
Flash
JEJAK CAHAYA LUKITO
Lukitokarya
Flash
Secangkir coklat di musim dingin
Lukitokarya
Cerpen
Senja di tepi danau
Lukitokarya
Cerpen
Aroma Kayu Manis di November Kelabu
Lukitokarya
Flash
Surat dari masa lalu
Lukitokarya
Cerpen
Senandung Patah Hati di Kedai Kopi Senja
Lukitokarya
Flash
November dan sebuah kotak musik tua
Lukitokarya
Flash
Cinta di Balik Pagar
Lukitokarya
Flash
Gema Piano di Rumah Tua
Lukitokarya
Cerpen
Payung Usang dan Tawa di Hujan
Lukitokarya
Cerpen
Pengorbanan Janda
Lukitokarya
Flash
Penyihir dan Pangeran yang Dikutuk
Lukitokarya
Flash
Rahasia Ombak Kenjeran
Lukitokarya
Cerpen
Bronze
Tergoda penjaga warung
Lukitokarya