Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Thriller
Kamar Nomor 17
0
Suka
419
Dibaca

Kamar nomor tujuh belas tidak pernah benar-benar luas, tapi setelah kamu memutuskan untuk malas bernapas, ruangan ini mendadak menjelma lapangan bola yang lepas. Kasur kapuk yang biasanya ambles oleh beban dua tubuh, kini rata sebelah, menyisakan cekungan dingin yang enggan pulih. Setiap pagi, jam dinding tidak lagi berdetak, ia mendepak sepi yang merangkak.

​Tanganku sibuk mengetuk-ngetuk meja kayu yang lapuk, mencoba meniru irama langkah kakimu yang biasa berisik mencari handuk. Aku sengaja menyeduh kopi hitam dua cangkir. Satu untuk lambungku yang mulai memprotes pahit, satu lagi untuk meja sebelah kanan yang sengaja kubiarkan kosong melongpong. Uapnya mengepul, berpura-pura menjadi napas yang luput dari dadamu. Aku tidak sedang meratapi kehilangan; aku hanya sedang merapikan kenangan yang berantakan agar tidak tersandung saat berjalan.

Sebelum fajar sempat memamerkan warna jingga yang fana, aku sudah terjaga tanpa suara. Di dapur yang sempit, jemariku mulai memotong sayur berbisik, takut membangunkan kenyataan bahwa kamu sudah tidak ada. Minyak goreng mendesis tipis, menggoreng tahu yang tahu diri bahwa ia hanya pelipur lari. Aku menyiapkan sarapan saat kantukmu yang abadi belum juga berakhir, menata piring-piring porselen retak seolah-olah kamu akan hadir dengan wajah kusut dan rambut yang melintir.

​Ini adalah ritual pengabdian yang paling sunyi. Melayani bayang yang tak kunjung kenyang, memberi makan pada ketiadaan yang terus menuntut ruang. Aku mencuci pakaianmu yang masih menyisakan aroma minyak telon dan keringat murah. Menguceknya pelan, membilasnya tanpa ratapan, lalu menjemurnya di bawah terik yang pelit. Aku melakoni peran ini tanpa meminta balasan, bahkan dari tuhan yang mungkin sedang sibuk mengurus urusan langit yang lebih rumit.

Lantai dapur ini terbuat dari semen semenjana yang mulai pecah di sudutnya. Di situlah pertahanan yang kubangun dengan angkuh akhirnya runtuh tanpa ampun. Saat jemariku tak sengaja menyenggol sendok aluminium hingga jatuh tersungkur, dadaku mendadak bergetar seolah dipukul mundur. Pertahanan yang kukira sekeras baja, ternyata hanya seonggok sepi yang telanjang dada.

​Air mata tidak mengalir seperti sungai dalam puisi; mereka jatuh satu-satu, berat dan padat. Air mata itu jatuh berdentang menghantam lantai dapur yang gersang, bunyinya nyaring seperti lonceng kematian yang enggan pulang. Setiap tetes yang mendarat memercikkan rasa bersalah yang selama ini kusimpan di bawah lidah. Aku menangis tanpa raungan, hanya isak yang tertahan di tenggorokan, beradu dengan suara desis kompor yang kehabisan gas di ujung petang.

Kejadian aneh mulai mengambil alih sudut-sudut rumah yang beralih fungsi. Kemarin sore, kuas cat yang kusimpan di dalam gudang terkunci, mendadak pindah ke atas kasur dengan ujung yang basah oleh warna biru mati. Padahal, aku tidak punya cat warna itu, dan pintu rumah selalu kupastikan terkunci lapis tiga dari dalam hati.

​Lebih aneh lagi, setiap kali aku merapikan selimut di sisi kasurmu yang dingin, lipatannya selalu kembali berantakan membentuk siluet tubuh yang sedang meringkuk menahan angin. Apakah ini doa yang salah alamat yang dikirim oleh malaikat yang mengantuk, ataukah rumah ini sedang mencoba menyembuhkan dirinya sendiri dengan cara yang membuat bulu kuduk bergidik? Seseorang atau sesuatu sedang bermain-main dengan ruang dan waktu, meninggalkan jejak kaki tak kasat mata yang baunya persis seperti hujan bulan Juni di halaman depan.

Malam ini, kegelapan tidak lagi terasa mencekam; ia terasa pekat dan hangat seperti pelukan seorang kawan. Saat lampu bohlam lima watt di sudut kamar mulai berkedip sekarat, sudut ruangan yang paling gelap mendadak menggeliat. Sesuatu yang selama ini bersembunyi di balik lemari pakaian—sebuah bayangan yang lebih tebal dari malam—memilih untuk melangkah maju dan "ada".

​Tanpa bentuk yang pasti, namun memiliki rasa aman yang presisi, bayangan itu mendekat ke arah tempat tidur. Ia tidak berbicara, tidak juga bersuara, namun sepasang lengan yang dingin namun menenangkan perlahan melingkari pundakku yang gemetar. Sentuhannya kaku seperti kayu yang lama terendam air, namun entah mengapa terasa begitu menggemaskan dan menyentuh bagian paling dalam dari duka yang kupelihara. Bayangan itu mewujud hanya untuk memastikan bahwa aku tidak sendirian menghadapi hancur yang telanjur.

Mungkin kita tidak bisa mengubah takdir atau memberikan cahaya terang benderang, tapi kita memilih untuk duduk bersamanya di dalam kegelapan.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Thriller
Flash
Kamar Nomor 17
kutipan.izs
Flash
Bronze
Kerupuk Kulit
Afri Meldam
Flash
Beside
Aning Lacya
Cerpen
Bronze
Rumah Cemara
Magnific Studio
Flash
Anneliese
Zi Chaniago
Flash
Bronze
BURST!!!
Shabrina Farha Nisa
Flash
FINDING MICHAEL
Safinatun naja
Komik
TOK TOK TOK
Saras Agustina
Flash
Jangan Dekati Mia, Nanti Bisa Mati
Ratifa Mazari
Novel
The Copycat
Claresta Elysia
Novel
Bronze
Mengenyam Kelam
Gia Oro
Novel
Tetangga Keempat
Yunita R Saragi
Novel
Gold
The Good Neighbor
Noura Publishing
Flash
Astaghfirullah
Hermawan
Cerpen
Manusia Bermain Tuhan
Astromancer
Rekomendasi
Flash
Kamar Nomor 17
kutipan.izs
Flash
Kedai Soto Warisan Bapak
kutipan.izs
Cerpen
Bukan Porsi Masa Lalu
kutipan.izs
Flash
Belenggu Rumah Tipe 36
kutipan.izs
Flash
Kelalaian Medis yang Merebut Jari dan Nyawa Sahabatku
kutipan.izs
Cerpen
Rona Rima Kaum Jengah
kutipan.izs
Flash
Salah Bonceng Berujung Check-In: Balada Cinta Era Pandemi
kutipan.izs
Flash
Bronze
Skandal Celengan Tanah Liat
kutipan.izs
Flash
Janji Palsu di Sudut Jalan Kenangan
kutipan.izs
Flash
Bronze
Misteri Surat di Halte Tua
kutipan.izs
Flash
Bronze
Nini Juga Ingin Dicintai
kutipan.izs
Flash
Dilema Rasa Antara Nyaman dan Kehilangan
kutipan.izs
Flash
Bronze
Siasat Prank Ulang Tahun di Kantin Sekolah: Misteri Virus Digital Jam Dua Pagi
kutipan.izs
Flash
Ditikung Teman Berakhir Kandas
kutipan.izs
Flash
Siasat Lucu Menahan Kepergianmu Lewat Denda Perpustakaan
kutipan.izs