Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Setelah melempar tas kerja ke kursi, istriku membantu melepas jas yang kupakai. Kulepas kancing atas untuk melonggarkan dada yang sesak kepanasan. Aku baru saja pulang dengan menumpang bis, lalu berjalan kaki sampai rumah. Sepeda yang biasa kugunakan untuk transportasi dari pemberhentian, sudah kujual. Dengan demikian, hutangku pada Mak Rentong lunas.
Aku sudah lupa berutang pada Mak Rentong untuk keperluan apa. Untuk membeli jam tanganku inikah? Atau sepatu? Atau biaya bangun tembok rumah? Entah.
Aku pusing Mak Rentong cerewet sekali. Tak seberapa juga aku berutang, tapi dia berkali-kali datang ke rumah dan mengancam akan mengirimi santet kalau tak segera melunasi.
Terpaksa kujuallah sepeda paling mengkilat sedesa itu.
Aku meletakkan pantatku dengan keras ke kursi, sementara itu tanganku meraih rokok dan pemantik. Tak lama asap menyembur dari mulut dan hidungku. Kuangkat kakiku satu ke kursi.
Istriku datang membawakan kopi panas, meletakkannya di meja. Sambil melipat pakaian, dia berkata padaku,"Toni datang kemari setelah tahu Kakek meninggal."
"Ada apa dia?"
"Tak jelas aku juga."
Aku menghempaskan asap rokok. Ah...terasa melegakan sekali.
"Kakek dikubur jam berapa tadi?"
"Jam empat sore."
Istriku tak tahu aku tersenyum ketika menyesap batang rokok.
"Orang-orang bertanya mengapa kau tak datang ke upacaranya," istriku mengabari tepat seperti yang kuperkirakan.
"Bah! Buat apa. Katanya dia mati bunuh diri. Tak sampai jua doa-doa kita untuk orang yang mati dengan cara kotor seperti itu."
Istriku menghela napas berat. "Iya ya Bang. Kenapa orang sesholeh Kakek memilih cara keji itu."
"Tak heran," sahutku ringan.
Perempuan yang telah menemaniku selama sepuluh tahun itu tiba-tiba terbersit sesuatu.
"Kau dongengi kakek dengan cerita aneh-aneh?"
Aku tak menyahut. Terus saja menyesap dan mengebulkan asap rokok.
"Iya, kan Bang?" Desak istriku. "Karena itu Toni tergopoh-gopoh kemari tadi pagi. Mungkin kakek cerita tentang sesuatu tentangmu."
"Aku memang cerita. Tapi tidak aneh."
"O ya? Certia tentang apa?"
Aku menikmati rokok beberapa saat sebelum menjawab santai,"Biasalah. Maksudku baik. Biar sempurna kesholehannya itu. Entah apa yang membuatnya putus asa, lalu memutuskan bunuh diri seperti itu. Sungguh, cerita yang kusampaikan padanya tempo hari itu penuh nilai budi pekerti yang baik. Salahkah dia menangkap pesanku?"
"Bang!"seru istriku panik.
Aku meliriknya sebentar. Membuang sisa rokok ke asbak. Meraih cangkir kopi, menghirup baunya yang menyegarkan. Lalu kutiup agar agak mendingin.
"Jangan bilang Kakek meninggal gara-gara ceritamu!"
"Ck. Sudah kubilang itu cerita yang baik. Aku tak mengajarkannya bunuh diri. Lagipula, siapa aku dibanding dirinya yang dzikir tiap detik itu. Dia seharusnya sudah tahu bunuh diri itu dilarang." Aku menyeruput kopi, mendecak nikmat, menggeleng yakin,"Tidak. Tidak mungkin cerita sepeleku itu membuatnya bunuh diri."
Dahi istriku berkerut. Khawatir dia.
"Sudah. Sudah," kataku menenangkan.
"Toni pasti menghubungkannya denganmu, Bang. Seluruh desa akan bicara yang tidak-tidak padamu."
Aku menyesap lagi kopi hitam dengan penuh penghayatan. .
"Tenang saja," jawabku. "Bilang saja, Ajo Sidi cuma pendongeng. Tak ada ceritanya dongeng dapat membunuh seseorang, kalaupun ada, kitab penuh dongeng itu tak mungkin sampai pada kita.”
Istriku tak menjawab. Dia hanya terdiam sejenak, berpikir, dan terlihat jelas berusaha mengabaikan kekhawatirannya,"Ah, sudahlah." Lalu kembali melipat baju.
Kami diam selama beberapa waktu. Tiba-tiba aku teringat sesuatu. Lalu bertanya pada istriku,"Rudi sudah kesini? Katanya dia mau jual ladang ke kita."
"Tadi dia kesini. Katanya tidak jadi jual. Tapi dia bilang terima kasih padamu."
Aku mengerutkan dahi. Aku tidak merasa melakukan sesuatu untuk Rudi."Untuk?"
"Ya dongengmu di gardu itu."
"Yang mana?"
"Tentang pemuda yang sukses karena ulet menggarap ladangnya."
"Dia mendengarnya?"
"Iya, katanya. Jadi dia bertekad bertobat dari kebiasaan mabuk-mabukan, dan menjadi petani yang rajin."
"Dia tidak jadi menjual ladangnya?"
"Tidak."
Mendengarnya aku beringsut gelisah. Kembali menyesap kopi yang terasa lebih pahit.
"Kenapa memangnya, Bang?"
Aku menghela napas berat. Tak menjawab. Berusaha mengatur ekspresi agar tetap biasa saja. Kalau tidak istriku bisa mengamuk mengetahui aku sudah menawarkan ladang itu pada seseorang tiga kali lipat dari harga yang ditawarkan Rudi. Yang akan membuatnya berubah menjadi iblis adalah kenyataan bahwa aku sudah menerima semua uang itu dan menghabiskannya.
"Bang?"
Aku memijat pelipisku. Memang ada saat-saat menjadi pendongeng itu merepotkan. Sekilas, aku merasakan prihatin atas meninggalnya Kakek.