Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Drama
Dunia dalam Tas
18
Suka
37,772
Dibaca

Di dalam ransel yang sudah dimilikinya sejak lama, Dini menyimpan segalanya. Dia menyimpan batu kali, sungai kecil di kampung halaman, air terjun bersuara sejuk di belakang rumahnya, lampu kota, malam gerimis, kenangan, beberapa debur ombak pada musim yang lalu, hujan yang malu-malu menyapa cuaca, dan dunia. 

“Persis kantong Doraemon. Tidak berat?” 

Dini mengangkat tas itu, lalu menyerahkannya kepada suaminya. “Mau angkat?”

Suaminya mengambilnya. Dia kaget karena nyaris tidak memerlukan tenaga untuk mengembannya. Enteng sekali.

Pada suatu petang, di sebuah kota yang dia kunjungi setelah bekerja sepanjang hari, Dini memandang Matahari yang begitu indah. Cahaya merah kirmizi membasuh langit dan membuat awan-awan merona bagai pipi gadis kecil. Dia mencoba meniru Sukab. Konon, Sukab berhasil memotong senja untuk pacarnya.

Dini mencari gunting di tas, lalu memandang langit. Cekres, cekres, cekres. Pelan-pelan dia gunting Matahari mengikuti sisi melingkar. Tidak berhasil. Karena tangannya gemetar, Dini hanya mampu mengambil sebagian kecil Matahari, sangat kecil untuk disadari siapa pun. Namun, tidak masalah. Masih ada lain waktu. Dia membuka tas, lalu memasukkannya. Ada ruang lega di samping kuil Buddha yang biasa didatanginya saat masih kecil.

Di dalam ransel, senja yang tidak pernah terbenam membuat penduduk kota kepanasan. Memang indah, musisi indie pasti suka, apalagi jika dinikmati dengan secangkir kopi, gitar, dan getir. Namun, gerahnya lama-lama tidak tertahankan. Setelah bertahun-tahun hidup tanpa cahaya, saat Matahari datang untuk memisahkan pagi dan malam, sebenarnya penduduk kota menyambutnya dengan gembira. Tapi bukan begini caranya. Mereka ingin Matahari yang dapat tenggelam untuk terbit lagi dua belas jam kemudian, bukan yang selalu terpacak di langit tanpa bergerak sepanjang waktu.

Karena terus-menerus tersengat panas, sungai mulai kering, air terjun habis, ombak menjadi badai, pantai kehilangan pesisir, angin kerontang, kebakaran di mana-mana, banjir di sana-sini, tanah sekarat, kenangan berkarat. Karena tak kuat lagi, para penduduk bahu membahu membangun menara untuk mencapai matahari dan berharap bisa menyiramnya dengan air. Mereka mengumpulkan batu-batu, lalu menumpuknya satu-satu. Namun, saat mereka nyaris berhasil mencapai Matahari dengan ember air di tangan, langit terbelah. Sebuah tangan menyibaknya. “Tuhan! Itu tuhan!” Mereka berteriak, lalu jatuh berhamburan. Beberapa saat kemudian, di sebelah Matahari, ada Matahari lain, tapi kini tiga miliar kali lebih besar.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (4)
Rekomendasi dari Drama
Flash
Dunia dalam Tas
Rafael Yanuar
Novel
Lika Liku Luka Lili
Oka Arokah
Komik
Red Queen
Uwnad.2
Flash
Bronze
Si Belang Tiga
Mukti Dwi Wahyu Rianto
Flash
Cerdas Cermat
Kiara Hanifa Anindya
Flash
Kembang Api
BANYUBIRU
Cerpen
Bronze
Mangga di Balik Pagar
Yovinus
Novel
Pabrik Bahagia
Ariyanto
Skrip Film
MENATA SENJA
Embart nugroho
Skrip Film
BOK*P
Arienal Aji Prasetyo
Flash
One Day
Azmi1410
Flash
Masih Pantaskah Kau Kupertahankan
Yutanis
Flash
Memory
Anjas Saputra
Flash
Mengapa Kau Menekuk Wajahmu Wahai, Pak Tua?
Kiiro Banana
Flash
Farewell
Anjas Saputra
Rekomendasi
Flash
Dunia dalam Tas
Rafael Yanuar
Flash
Warna Pelangi
Rafael Yanuar
Novel
Malam Kunang-Kunang di Desa Masa Kecilku
Rafael Yanuar
Flash
Clair de Lune
Rafael Yanuar
Novel
Cakrawala yang Sunyi
Rafael Yanuar
Flash
Janji Santiago
Rafael Yanuar
Cerpen
Perempuan Berambut Perak
Rafael Yanuar
Flash
Kepada Mantan Kekasihku
Rafael Yanuar
Flash
Merayakan Tahun Baru
Rafael Yanuar
Cerpen
Rehat Sejenak
Rafael Yanuar
Novel
Nama yang Diberikan Angin
Rafael Yanuar
Flash
Kekasih Hujan
Rafael Yanuar
Flash
Jalan Sepajang Malam
Rafael Yanuar
Novel
Aroma Matahari di Pagi yang Cerah
Rafael Yanuar
Cerpen
Arwah Kunang-Kunang
Rafael Yanuar