Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Romantis
Janji ||
0
Suka
11
Dibaca
Flash Fiction ini masih diperiksa oleh kurator

Akhirnya Ardi bangun lalu berkata, “Kalau ada kerjaan, handle dulu.”

“Enggak bisa,” kata temannya.

“Telepon aja.”

Begitu mengatakan itu, tanganku langsung digenggamnya lalu dibawa keluar. Seketika aku merasa tidak enak.

“Enggak usah dianter, aku bisa pulang sendiri.”

Ardi diam lalu melihatku masih dengan tatapan dinginnya. “Memang siapa yang mau nganter kamu pulang?”

Mendengar itu aku langsung menunduk, sedangkan tanganku masih digenggamnya untuk dibawa pergi. Ia memberikan helm padaku, lalu aku duduk di belakangnya tanpa bertanya lagi mau dibawa ke mana.

Duduk di belakangnya dengan keadaan seperti ini, bukan takut dengan jalan, tapi takut dengan kekecewaannya saat ini. Aku percaya dia akan membawaku dengan selamat.

Tidak lama kami sampai di barisan kosan. Rupanya ia ingin menunjukkan kosnya, mungkin agar jika aku datang lagi tidak ke tempat kerjanya. Aku tersenyum tipis lalu turun dari motor, mengikuti arah langkahnya menuju salah satu pintu. Ia membuka pintu, lalu aku mengucapkan salam.

Ia membalasnya, lalu…

“Mmm….”

Belum sempurna pintu itu tertutup rapat, ia menciumku, menyudutkanku di antara dinding dan tubuhnya. Memaksa bibirku terus terbuka. Sekalinya tanganku memberontak, ia menahannya.

Mungkin sakitnya bibir tidak terasa, tapi hatiku yang lebih sakit. Sudah tidak bisa melawan, aku membiarkan bibirnya terus menguasai sampai aku menangis, barulah ia berhenti.

Bibirnya ada di ambang bibirku, napasnya masih terengah menahan entah apa. Ia hendak kembali mencium, aku memalingkan wajah.

“Kenapa? Suka aku kan?”

Aku memejamkan mata, air mataku kembali menetes. Melihat itu, barulah Ardi melepaskan tanganku. Aku menggeser tubuhnya, tapi ia menahan tanganku.

“Aku mau pulang, maaf mengganggu.”

“Aku antar.”

“Enggak usah.” Aku mengusap air mata yang terus jatuh dengan sendirinya.

Ada rasa bersalah dari tatapannya sekarang.

“Puas?” kataku.

Tidak ada lagi percakapan di antara kami.

Sampai di tempat kerjanya pun aku tidak berani masuk. Sudah pasti mataku sembab, atau malah bibirku.

Sepanjang jalan ia memang memastikan aku berkendara dengan baik sampai di dekat rumah. Rumahku terhalang hamparan sawah dari seberang jalan utama.

“Kenapa berhenti di sini?” tanyanya.

Aku menunjuk pada rumah di seberang jalan yang terbentang sawah. “Itu rumahnya.” Aku tidak melihatnya.

“Lewat mana jalannya?”

“Bisa lewat sana.” Aku menunjuk ke arah depan. “Bisa lewat sana juga.” Lalu ke arah belakang. “Sampai sini saja.”

“Aku mau mastiin kamu sampai rumah,” katanya kembali menghidupkan motor.

“Lihat saja dari sini kalau mau. Jangan ikutin!” kali ini aku melihat dengan tegas.

Aku lalu meninggalkannya sampai di depan rumah. Aku melihat ke seberang, ternyata dia masih ada di sana, benar-benar memastikan aku sampai di rumah. Aku memarkirkan kendaraan lalu melihatnya. Sepertinya ia memastikan dulu ini benar-benar rumahku, barulah ia berlalu.

Satu hari, dua hari, ponselku terus berdering tanpa henti darinya, tapi sengaja aku biarkan. Bahkan saat diberitahu ada yang menelepon.

“Biarkan,” kataku. Aku kembali beraktivitas.

Puluhan panggilan, tidak ada satu pun yang aku angkat.

Di hari ketiga menjelang sore, ada pesan masuk berupa sebuah foto. Aku seperti mengenal rumah ini. Lalu aku membukanya. Pesan berikutnya masuk.

“Mau aku ke sana atau kamu ke sini?”

Foto itu di seberang jalan rumahku.

Aku segera bergegas ke depan rumah lalu melihat dari kejauhan. Benar, itu pasti dia. Dia meneleponku dengan video call.

“Gimana, mau aku ke sana?”

Dari sorot matanya terlihat ia akan kembali berulah jika benar-benar datang ke rumah ini.

“Aku belum salat, belum mandi juga. Kalau mau nunggu, silakan. Kalau enggak, enggak apa-apa.”

Ia tersenyum. “Nunggu selama ini aja kau sanggup, apalagi cuma setengah jam.”

“Terserah.” Aku meletakkan ponselku begitu saja, lalu pergi mandi dan melakukan ritual lainnya.

Kembali bertemu dengannya, aku memutar motorku lebih dulu. Seperti biasa, ia mengikutiku dari belakang. Hanya, kali ini karena aku masih kecewa dengan sikapnya yang lalu, jadi aku membawa kendaraan itu terlalu cepat dan sembarangan.

Dari samping, dia terus memintaku untuk menepi, tapi aku abaikan dengan berpura-pura tidak melihat instruksinya.

Dengan terpaksa ia menyalip kendaraanku, memaksaku menepi. Begitu menepi, ia langsung menarik kontaknya.

“Mau ke mana? Aku yang bawa.” Ia meminta agar aku bergeser ke belakang, tapi aku tidak mau.

“Aku aja.” Aku kembali meminta kontaknya.

“Enggak usah, mau ke mana?” tanyanya lagi.

Tapi kekecewaanku belum juga mereda. “Terus motor kamu?”

“Biarin.” Ia kembali hendak menggeser dudukku ke belakang.

Aku menunduk. Sepertinya aku sudah kelewatan. “Aku aja.” Aku kembali menyodorkan tanganku meminta kontaknya.

“Bisa pelan-pelan?” kali ini tatapannya teduh, khawatir jelas tersirat.

“Iya.”

Meski khawatir, ia tetap memberikan kontaknya lalu membiarkan aku kembali jalan. Kali ini aku lebih hati-hati. Aku juga tidak mau kalau sampai dia kenapa-kenapa.

Sampai di tempat yang kemarin, aku menepikan kendaraan lalu duduk di trotoar. Ia mengikuti, melepas sarung tangannya lalu jongkok di depanku.

Aku masih menunduk, bingung harus mengawali pembicaraan dari mana. Tapi tiba-tiba lututnya terlipat, menyentuh jalanan dengan wajah tertunduk.

Sungguh melihatnya seperti ini, aku ikut bersedih. Aku langsung menangkup wajahnya, melihat dalam tatapannya.

“Kita jangan saling marah lagi,” kataku lembut.

Ia menjawab, “Aku enggak marah.”

“Terus kemarin?” tanyaku.

“Pengen cium kamu.”

Aku menunduk, menggigit bibirku, merasa kembali dipermainkan lelaki ini.

“Kamu juga suka kan?”

“Ardi….”

Cowok itu berlari, menghindari kejaranku di tengah jalan sepi, ditemani angin sejuk sore, disaksikan rindangnya pohon yang ikut tersenyum menyaksikan pancaran rasa yang ada di antara kami.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Romantis
Novel
Gold
Eugene Rewrite
Mizan Publishing
Novel
Kata Cinta Diakhir Hayat
Munirahwati
Skrip Film
Matrikulasi Rasa
Lovaerina
Flash
Rumah Untukku
Honey Dieah
Flash
Janji ||
Nila Kresna
Novel
Bronze
ANGKASA
Safina Tri Maharani
Novel
Bronze
Alna
Wiwin W
Novel
Bait-Bait Cinta Sang Pemberontak
Bond Monosta
Skrip Film
The Game Of Love
Okky Hermawan Susanto
Flash
Yogyakarta
Elvira R
Flash
Untuk Sebuah Rasa
Anisa Ae
Flash
Bronze
Gadis Sampul
Sulistiyo Suparno
Novel
PSYCHO
Anis Nabilah
Novel
Bronze
Dirga With Alana
Intan Rahayu Agustin
Novel
GELORA CINTA DI TENGAH GEJOLAK JAKARTA
Juju jubaedin
Rekomendasi
Flash
Janji ||
Nila Kresna
Flash
Bronze
Meja Operasi
Nila Kresna
Flash
Janji yang Tidak Benar-benar Pergi
Nila Kresna
Flash
Pelembab Bibir
Nila Kresna
Flash
Janji ||
Nila Kresna
Flash
Janji ||
Nila Kresna
Novel
Perempuan Berniqab Hitam 2
Nila Kresna
Novel
WANGSA
Nila Kresna
Novel
Lebaran 1994 Rumah yang tak Pernah Berbagi
Nila Kresna
Flash
Bronze
Hampir Disetubuhi Dalam Mimpi
Nila Kresna
Novel
Cinta Di Langit Finlandia
Nila Kresna
Novel
Angkasa Raya
Nila Kresna