Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Sakti Raja Kusuma Setiabudi, mungkin nama lengkapnya yang bak perusahaan inilah penyebab berat badannya tak pernah melewati lima puluh kilogram. Sebab, ia harus hidup dengan memikul beban namanya ini seumur hidup. Ya, ia rasa ini alasan yang masuk akal. Emang bisa apa lagi? Tak perduli seberapa keras usahanya untuk menaikkan berat badan, tetap saja sampai sekarang ia masih kurus kerempeng.
"Nih, Sak, kata gua lu makan dulu dah tuh Sneker, lu rese kalo lagi laper, nama bagus-bagus gitu lu salahin." Ujar Toni──teman seperjuangan Sakti──sembari menyodorkan sebatang Sneker ke Sakti. Ini sudah kesekian juta kali ia mendengarkan keluhan sahabat karibnya itu tentang berat badannya. Topik utamanya tak pernah berubah, hanya alasannya saja yang diganti-ganti.
Sakti menyambut hangat sodoran Sneker tersebut dan menuntaskan seluruhnya dalam sekali hap. Seketika pandangannya yang berkabut menjadi jernih kembali. Hal ini juga membuatnya ingat bahwa ia harus segera membeli nomor telepon baru karena nomornya yang sekarang hangus──lupa ia perpanjang masa aktifnya.
"Makasih, Ton. Eh, gua cabut dulu, ya. Mau beli kartu baru." dan Sakti pun langsung melengos pergi tanpa menunggu respon Toni sama sekali. Toni menghela nafas panjang sambil memandangi sosok Sakti yang semakin menjauh.
"Mau dimaki, sayang. Tapi gak dimaki, kelakuannya kek monyet ... " keluh Toni muak, lalu melanjutkan kegiatan awalnya, menulis skripsi di bangku taman kampus.
Sampailah Sakti di sebuah ritel kecil yang melayani jasa pengisian pulsa dan pembelian kartu nomor. Ritel tersebut sepertinya masih baru, ia sering melewati jalan ini, namun ini pertama kalinya ia melihat tempat ini.
"Selamat datang di Bima Cell, mau isi pulsa, kak?" Sambut wanita muda penjaga toko tak lama setelah Sakti tiba.
"Bukan, mbak. Saya mau beli nomor baru. Mau yg ini ya kak, yang belakangnya 5678." Jawab Sakti lalu menunjuk ke kartu nomor yang ia inginkan. Mbak Penjaga Toko memproses pesanan dalam sekejap dan ditutup dengan pembayaran tunai oleh Sakti.
"Terima kasih banyak sudah mampir ya, kak. Karena kakak adalah pelanggan pertama saya, saya berikan bonus berupa Super Power ya, kak" Ucap Mbak Penjaga Toko dengan Smiling Voice.
"Sama-sama, mb-, eh, tadi apa bonusnya, mbak?" Sakti baru menyadari ada yang janggal dengan kalimat mbak itu.
"Bonusnya berupa Super Power ya kak, sekarang kakak punya kekuatan super yang berhubungan dengan kartu nomor yang baru kakak beli, ya."
"Apa kekuatannya, kak?"
"Tidak tahu, kak. Kekuatannya random, ya. Tapi yang pasti ada hubungan dengan kartu nomor baru kakak, ya." Sakti terheran-heran, tapi ia iyakan saja omongan mbak itu, ia tak mau ambil pusing. Mungkin, mbaknya lagi halu aja, pikirnya.
Tak ada yang aneh setelah kejadian itu. Beberapa hari sudah berlalu, hari-hari Sakti terasa biasa saja, tak ada kekuatan super yang dijanjikan Mbak Penjaga Bima Cell itu. Badannya masih kerempeng seperti biasa, dosen-dosennya masih killer seperti biasa, Toni pun masih setia mendengarkan curahan hatinya seperti biasa. Seperti sekarang ia yang tak ada angin tak ada hujan menelepon Toni karena butuh pendapatnya tentang kejadian janggal di Bima Cell kemarin.
"Aneh banget kan, Ton? ga pernah kan lu beli kartu tiba-tiba dikasih bonusan super power?" ujar Sakti menggebu-gebu.
"Ya emang aneh juga sih menurut gua, Sak. Tapi bentar dulu, deh. Kok, rasanya lengan gua mengecil ya ... "
"Yaelah, lu baru latihan angkat barbel dua hari aja belagunya kek apa banget!"
"Ngga, Sak, beneran mengecil, perut gua juga kempes banget." Sakti sudah lebih dari satu dekade bersahabat dengan Toni. Jadi, ia tahu betul kalau dari intonasinya, Toni tidak sedang bercanda.
"Sek, sek, gua nimbang dulu." terdengar suara gemerisik dari seberang telepon, pertanda Toni betul-betul sedang mencoba memastikan berat badannya sekarang.
" ... Enam puluh kilo, Sak. Kemarin gua nimbang gua masih di delapan puluh kilo. Gua ngaca juga semua lemak membandel gua ilang ... " Sakti heran, Toni heran, semuanya heran.
"Rusak kali timbangan lu, atau lu-nya yang halu, kali!"
"Beneran, Sak, lu ke sini dah kalo ga percaya!"
Toni tidak berbohong ataupun halu, ia betul-betul turun dua puluh kilogram. Tak lama setelah kejadian Toni yang misterius itu, ibu Sakti juga mengalami penurunan berat badan yang juga sama drastisnya, dari enam puluh kilogram menjadi empat puluh lima kilogram. Sakti mencoba menarik benang merah dari kejadian Toni dan ibundanya dan ia pun menyadari suatu hal. Keduanya merasa tiba-tiba kurusan tak lama setelah mereka ditelepon oleh dirinya.
Untuk membuktikan teori ini, Sakti mencoba meminta sepupunya yang berbadan gemuk untuk meneleponnya selama setidaknya lima menit. Dan benar saja, berat badan sepupunya juga turun dari embilan puluh kilogram menjadi 67,5 kg. Ternyata Mbak-mbak Penjaga Toko Bima Cell tidak berbohong, ia diberikan bonus super power yang bisa membuat orang yang menelepon ke nomornya duluan selama lima menit turun berat badan 25%. Meskipun, kemampuan ini hanya bisa bekerja satu kali seumur hidup per orang.
Yah, meskipun pada akhirnya ia tetap kurus kerempeng, setidaknya sekarang dia bisa membuat orang lain jadi kerempeng juga.