Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Sore itu, abu rokok gue jatuh mendahului air mata yang malas menetes. Di pinggir jalan Melawai yang senggang akibat PSBB, aspal Jakarta terlihat jenuh, sewarna dengan langit 2020 yang buntu akibat pandemi. Dari balik masker kain yang mulai apek, napas gue terasa berat, mengembun di kaca spion motor matic tua yang spakbornya goyang sebelah. Kehilangan pekerjaan, tabungan sekarat, dan status jomblo abadi akibat ditinggal nikah oleh cinta pertama adalah paket lengkap ketidakadilan takdir yang gue telan mentah-mentah sore ini.
Gue termenung di atas jok, memandang bangku taman yang disilang isolasi plastik kuning. Sepi ini punya ketukan. Sunyi ini punya irama.
Tangan gue bergerak tanpa sadar, mengelap body bawah jok samping yang catnya mengelupas. Rutinitas konyol ini gue lakukan setiap sore demi menjaga sisa warisan kakek—satu-satunya hal rapuh yang tersisa di hidup gue. Memastikan mesin tetap hidup saat harapan di dada perlahan mati, menyeka debu jalanan tanpa pernah meminta imbalan dari keadaan. Kebutuhan pangan bisa ditunda, tapi merawat benda mati yang menjadi saksi buke kegagalan hidup adalah bentuk kepasrahan yang paling jujur. Layanan gratis untuk memori yang harusnya sudah dikubur. Di tengah kepulan asap knalpot sisa bus kota, gue terikat pada ritme yang melelahkan ini.
Muda-mudi yang biasanya memenuhi trotoar kini menyusut, menyisakan jarak dua meter yang dipaksakan oleh ketakutan global. Di sinilah gue, mencoba mengisi kekosongan ruang publik dengan kehadiran yang tidak diinginkan siapa pun. Menghitung tiang listrik, membaca spanduk imbauan cuci tangan, memutarbalikkan kata di kepala dari "karantina" menjadi "karatan". Usaha bodoh menolak ketiadaan makna dengan menghirup udara bercampur disinfektan. Jari gue mengetuk setang, mencoba menciptakan melodi dari keputusasaan yang tidak berujung. Tempat nongkrong ini telah kehilangan jiwanya, dan gue adalah hantu yang menolak pergi.
Ketika azan magrib mulai berkumandang dari pelantang suara yang sember, sesuatu di dalam dada gue pecah. Penolakan dari perusahaan tadi siang dan undangan pernikahan digital dari mantan yang masuk ke WhatsApp berkombinasi menjadi pukulan telak. Air mata gue jatuh berdentang menghantam dek motor yang gersang dan berdebu. Suaranya berisik di kepala gue, bagai kaleng rombeng yang ditendang di gang sempit. Duka ini tidak puitis; dia berbau keringat, debu jalanan, dan kepasrahan kelas pekerja yang dihantam krisis. Dada gue sesak, tertahan oleh lapisan kain masker yang menahan tangis agar tidak terlihat oleh dunia luar yang sibuk bertahan hidup.
Lalu, sebuah distorsi ruang terjadi begitu saja di detik ketika lampu jalan berkedip mati. Sebuah kebetulan yang terlalu presisi, atau mungkin kutukan yang salah ketik di lembar takdir langit.
Brak!
Seseorang melompat ke jok belakang motor gue tanpa permisi. Bebannya membuat suspensi motor yang sudah lemah berdecit keras. Bau parfum melati yang tajam dan pekat langsung menyengat, anehnya tidak bercampur dengan bau handsanitizer sekeliling.
"Gas! Jangan liat belakang, buruan jalan!"
Suara itu dingin, teredam masker medis hitam yang menutup seluruh wajahnya hingga ke batas mata yang melotot panik. Tangan dengan kuku-kuku panjang yang dicat hitam langsung mencengkeram pinggang gue, menembus celana jins dengan cengkeraman sedingin es.
Gue melirik spion, tapi anehnya, pantulan di kaca hanya menunjukkan bayangan buram tiang listrik yang bergoyang, tanpa ada siapa pun di seberang jalan yang mengejar. Namun, tekanan di punggung gue nyata. Rasa dingin yang merayap di tulang belakang membuat naluri bertahan hidup gue mengambil alih kemudi. Tangan kanan gue memelintir gas sedalam-dalamnya. Motor menderu membelah remang, melesat meninggalkan trotoar Mahakam tanpa tahu siapa yang sedang gue bawa lari dari kenyataan.
Kami menembus angin malam Jakarta yang mencekam, melewati pos penyekatan yang kosong dan lampu-lampu toko yang padam lebih awal. Sesuatu yang tersembunyi di balik masker hitam di belakang gue akhirnya memilih untuk memunculkan diri secara ekspresif. Cengkeramannya bergeser ke dada gue, kaku namun menuntut kehangatan dari tubuh gue yang bergetar. Rima napasnya di tengkuk gue terasa intim, berbisik tentang pelarian yang tidak butuh tujuan. Di bawah flyover yang sepi, cewek itu berbisik pelan, suaranya kini terdengar menggemaskan namun menyimpan kekosongan yang sama besarnya dengan apa yang gue rasakan.
"Lu bukan dia," katanya lirih saat motor melambat di lampu merah. "Tapi lu punya bau yang sama. Bau orang kalah."
Gue melepas masker, membiarkan angin malam menyeka sisa air mata. "Dan lu salah bonceng. Motor yang mirip punya cowok lu ada tiga di parkiran tadi."
Dia melepaskan maskernya. Wajahnya pucat, dengan lingkaran hitam di bawah mata yang kontras dengan senyum liarnya yang dingin. "Gak ada yang salah. Dia mau bunuh gue malam ini, dan lu baru aja bawa gue keluar dari sana. Jadi, sekarang kita pasangan, kan?"
Sebuah logika yang bengkok di malam yang sinting. Dia yang asal bonceng dan bilang gas, dan gue yang mendadak mendapatkan belahan jiwa di tengah pelarian maut. Ruang tafsir ini tidak perlu diperjelas; dua orang asing yang sama-sama dibuang oleh keadaan, dipertemukan oleh salah paham warna motor di pinggir jalan.
Cewek itu menunjuk sebuah plang neon redup di depan sebuah gang sempit: Wisma Asri - Kamar Transit AC/TV. Tempat pelarian paling instan bagi mereka yang tidak punya kartu identitas atau surat bebas Covid, sebuah suaka bagi moralitas yang sudah kadaluwarsa. Malam itu, tanpa peduli apakah esok virus akan mencabut nyawa atau kemiskinan akan mengurung kami, mereka langsung check in semalam.
Mungkin kita tidak bisa mengubah takdir atau memberikan cahaya terang benderang, tapi kita memilih untuk duduk bersamanya di dalam kegelapan.