Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Romantis
아이구 Aigoo, Still Re
2
Suka
2,876
Dibaca

“Aigoo, move on Jehan!!" sebagai cowok lo harus kuat dong, jangan begini terus!"

Sasa bilangnya sambil menyeruput es kopi yang bahkan sudah sampai ke dasar gelas, sampai bunyi seruputannya kedengaran kemana-mana. Orang se kafe pada noleh semua. Ia menatap Jehan kesal, seperti orang menatap pasien keras kepala yang menolak sembuh.

Sedangkan Jehan cuma tertawa, tapi seperti seseorang yang terluka.

“Aku bukan nggak bisa move on,” katanya setengah berbisik. “Aku cuma nggak mau.”

Sasa memutar mata.

“Ya Tuhan. Itu lebih parah.”

Jehan menatap jendela kafe, tetesan air di kaca lima mili itu berterusan. Cahaya lampu kafe yang memantul di kaca seperti kenangan yang menolak mati.

“Dia cinta terakhirku.”

Sasa diam beberapa detik, berusaha menyerap rasa putus asa Jehan itu.

Memang kedengarannya biasa, tapi cara Jehan mengucapkannya sambil merem, membuat semuanya jadi terasa seperti beban berat. Seolah selama ini laki-laki itu benar-benar menyimpan seseorang di dalam dadanya dengan hati-hati.

“Aku malah mau buktiin,” lanjut Jehan tiba-tiba masih sambil berbisik. “Dalam sisa hidupku, demi cinta itu aku bakal jadi versi terbaikku.”

“Walaupun dia nggak tahu?”

“Iya.”

“Nggak lihat perjuangan kamu?”

“Iya.”

“Nggak peduli kamu lagi?”

Jehan tersenyum.

“Iya.”

“Dan nggak mau tahu urusanmu, apapun itu?”

“Iya.”

Sasa menghela napas panjang, sambil menggeleng tak percaya.

“Kamu aneh.”

Jehan malah tertawa santai, seolah menertawakan kata-katanya sendiri.

“Mungkin.”

“Disakitin malah begitu.”

Jehan menoleh, tapi kali ini terlihat sedih.

“Bukan aku yang disakitin.”

Sasa mengernyit.

“Terus?”

“Aku yang nyakitin dia.”

Sasa langsung terdiam, bahkan suara gemericik air di kaca mendadak seperti berhenti.

“Itu kebalik tauuuu,” gumam Sasa.

“Iya.”

“Kamu tuh bikin aku bingung deh.”

Jehan mengusap wajahnya.

“Kamu nggak tahu apa-apa soal cinta aku ke dia.”

Dan memang tidak ada yang benar-benar tahu, bagaimana Re pernah menjadi rumah paling hangat dalam hidup Jehan. Dulu Re selalu menunggu kepastian status dari Jehan dengan cemas, selalu meminta kabar apapun, meskipun cuma sekedar jawaban "Iyya" atau "Baik", meski hatinya diliputi cemas yang tidak jelas kapan berakhirnya.

Tapi Jehan sendiri yang menghancurkan semuanya. Bukan karena hadirnya orang ketiga, kebencian atau ketakutan.

Jehan terlalu sibuk mengejar ego kebahagiaannya sendiri, tak mau kehilangan, sampai lupa menjaga hati seseorang yang menunggunya dengan tulus dan sangat mencintainya.

Dulu ia pikir Re akan selalu ada, ternyata manusia bisa lelah juga. Barulah ketika Re pergi, Jehan baru sadar, ada orang-orang yang tidak bisa diganti meski dunia memberimu seribu manusia baru yang lebih baik darinya.

“Kamu tahu apa yang paling nyakitin?” tanya Jehan sambil menerawang.

Sasa menggeleng.

“Dia masih ada di dekatku.”

“Maksudnya?”

“Kami masih ketemu.”

Sasa langsung mendesah frustrasi.

“Nah kan! Itu dia! Kalau masih ketemu ya makin susah move on!”

“Tapi rasa dia ke aku sudah nggak ada.”

Kedengarannya seperti curhatan putus asa, meskipun tenang, sampai Sasa tak menemukan cara untuk menyela.

Jehan tersenyum pahit.

“Tapi aku tetap sayang, bahkan makin sayang ke dia.”

Jehan menunduk menatap jemarinya sendiri.

“Aigoo!!”

Kali ini Jehan yang mengulang kalimat itu sendiri sambil tertawa kecil, lalu ia bersandar di kursinya.

“Itu cinta paling indah yang pernah aku rasa di separuh hidupku.”

Sasa memandang sahabatnya lama. Mungkin Jehan memang tidak sedang mempertahankan seseorang, ia sedang mempertahankan versi dirinya yang pernah hidup paling bahagia saat mencintai Re.

***

Malam itu Jehan pulang sendirian. Di lampu merah dekat flyover, ia melihat Re lagi. Re sedang berdiri di depan minimarket, dan seperti orang bodoh, Jehan tetap berhenti lebih lama meski lampu sudah hijau.

Ia cuma ingin melihatnya sebentar.

Re mendongak, tatapan mereka bertemu. Re mengangguk sopan. Jehan membalas anggukan itu sambil tersenyum, meski dadanya nyeri, tapi ada kehangatan yang menjalar.

Bahkan setelah semuanya hancur, Re masih menjadi alasan kenapa ia ingin hidup lebih baik.

Mobil di belakang membunyikan klakson panjang, lampu sudah hijau dari tadi. Jehan tertawa sendiri lalu menjalankan mobilnya, pulang.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (2)
Rekomendasi dari Romantis
Flash
CINTA
Iman Siputra
Flash
아이구 Aigoo, Still Re
Hans Wysiwyg
Flash
Sepotong Senja di Halte Lama
Penulis N
Flash
Our Love Inside You
Farah Maulida
Novel
Gold
Dear Nathan
Coconut Books
Novel
Gold
Anne of Avonlea
Mizan Publishing
Novel
Antara Cinta, Karir, dan Berat Badan
Suryawan W.P
Novel
Permata Hati
Awang Nurhakim
Novel
Kala Bulan dan Fajar
el tsuki
Novel
Mawar Hitam Asyifani-
Ikhsan Ardiansyah
Novel
Gold
Kido Vs Yura
Mizan Publishing
Novel
Sajak Cinta Terakhir
Widhi ibrahim
Cerpen
Bronze
Surat Salah Alamat
Ron Nee Soo
Novel
Bronze
Sepenggal Kasih di Negeri Tulip
Zikrina Istighfarah
Novel
The E.T.E.R.N.I.T.Y
Drew Andre A. Martin
Rekomendasi
Flash
아이구 Aigoo, Still Re
Hans Wysiwyg
Flash
I Miss You So Badly
Hans Wysiwyg
Novel
GARIS TAKDIR TANPA AKHIR
Hans Wysiwyg
Cerpen
MANTRA LUDAH
Hans Wysiwyg
Flash
PAMIT
Hans Wysiwyg
Flash
Tetonam
Hans Wysiwyg
Flash
Seorang Perempuan dan Sarang Lebah di Kamarnya
Hans Wysiwyg
Flash
DIA BUKAN MAVERICK
Hans Wysiwyg
Flash
Teman Kamar Baru
Hans Wysiwyg
Flash
Mestakkung
Hans Wysiwyg
Flash
ONLY-- Sometime Truth is Cruel
Hans Wysiwyg
Flash
Biar Tuhan Saja yang Menulis Ceritanya
Hans Wysiwyg
Flash
Satu Jam Saja
Hans Wysiwyg
Flash
Kota Sunyi Di Malam Hari
Hans Wysiwyg
Flash
Tetangga Toko Sebelah
Hans Wysiwyg