Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Drama
Skandal Celengan Tanah Liat
0
Suka
9
Dibaca
Flash Fiction ini masih diperiksa oleh kurator

Matahari Mei 2026 surut tergesa-gesa, meninggalkan bayang-bayang panjang di sudut ruang tamu yang kehilangan separuh nyawa. Rumah minimalis itu mendadak lapang, bukan karena perabotan yang berkurang, melainkan karena tawa yang tak lagi kedengaran. Arka, anak laki-laki berusia dua belas tahun, berdiri di antara sunyi yang kian meruncing. Ibunya terbaring di kamar sebelah, ringkih setelah badai kabar duka menghantam dada. Ayah tidak pulang lagi, pergi tanpa permisi bersama takdir yang enggan berdiskusi. Arka menatap ruang kosong itu, lalu mulai bergerak mengeja sisa rasa, mencoba mengisi ketiadaan yang bising dengan gerak tangan yang berirama. Dia menyapu lantai yang bersih, mengelap kaca yang tak berdebu, memutar arah jarum jam dinding agar waktu terasa berlalu walau hatinya tetap membeku di satu hulu.

Langkah kaki Arka beralih menuju dapur praktis tanpa suara, memulai pengabdian diam-diam dalam lingkaran takdir yang memekat. Jemari kecilnya bergerak lincah menanak nasi, meracik sup sayur hangat tanpa garam berlebih, memastikan pangan tersedia saat kantuk sang Ibu berakhir. Dia mencuci pakaian kerja Ayah yang tersisa di gantungan, melipatnya rapi dengan keharuman fajar, lalu menyelipkannya kembali ke dalam lemari gelap tanpa meninggalkan pengingat visual. Arka melayani tanpa minta dibalas, bergerak bagai hantu kecil yang menjaga raga paling rapuh di rumah itu. Piringnya tetap bersih walau ia tak sudi mengunyah, rumahnya tetap rapi walau jiwanya sudah patah. Dia terus menyembunyikan lelah di balik punggung, menolak tunduk pada mendung yang menggantung.

Namun pertahanan itu runtuh tepat sehabis isya, saat malam menjemput titik nadir paling kelam. Arka duduk bersila di pojok dapur, menatap mangkuk sup yang tak tersentuh oleh ibunya yang enggan membuka mata. Keheningan mendadak pecah oleh sesuatu yang tak lagi tertahan di rongga dada. Air mata anak laki-laki itu jatuh berdentang, menghantam lantai semen dapur yang gersang, menciptakan rima duka yang beradu nyaring dengan desis mesin penyaring udara otomatis. Tangisnya tak bersuara di mulut, namun menggelegar di lantai, berhamburan seperti remah piksel digital yang pecah berantakan. Setiap tetesannya adalah penyesalan yang terlambat, sebuah pengakuan dosa yang tak sempat terucap sebelum badai melumat habis seluruh pelukan hangat.

Di tengah gema tangis yang menghantam lantai, sebuah ganjalan logika mulai mengambang bebas di udara dapur yang mendingin. Sebuah teka-teki ruang yang sengaja dibiarkan terbuka tanpa perlu penjelasan yang gamblang. Dua hari lalu, Arka dituduh berbuat salah besar oleh sang Ibu karena memecahkan celengan tanah liat berbentuk ayam di kamar Ayah, tepat beberapa jam sebelum kabar kecelakaan itu datang mengetuk pagar. Ibu mengira Arka serakah, mencuri uang di tengah krisis keluarga yang kian parah. Namun malam ini, di balik lipatan baju Ayah yang dibersihkan Arka, terselip sebuah nota fisik digital bertanggal tiga hari lalu, berisi pelunasan tagihan pengobatan jantung Ibu yang nilainya pas dengan jumlah uang yang hilang dari pecahan celengan tersebut. Anak yang berbuat salah belum tentu salah, namun bagaimana mungkin seorang bocah dua belas tahun bisa berani merusak properti Ayah di waktu yang sama saat sang Ayah berada di luar kota?

Keheningan misterius itu mendadak terbelah oleh derit pintu kamar yang terbuka lambat. Ibu melangkah keluar dengan tubuh bergetar, menembus batas temaram cahaya lampu dapur yang redup. Melihat anak laki-lakinya tergugu di pojok lantai, ego seorang dewasa runtuh seketika. Ibu mendekat, membiarkan dirinya ada, lalu berlutut di atas lantai semen yang dingin. Tanpa sepatah kata baku, Ibu merengkuh pundak kecil Arka yang bergoyang hebat, memeluk duka itu dengan cengkeraman tangan yang kaku namun teramat intim. Arka tidak menghindar, dia justru menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Ibu, membiarkan dua penyesalan yang berbeda kasta itu menyatu dalam satu pelukan yang menggemaskan sekaligus menyayat hati. Mereka berpelukan erat di bawah temaram lampu, dua raga yang saling mengira telah menghancurkan satu sama lain.

Penyesalan itu tetap tinggal, tak menguap jadi angin lalu, namun kini ia memiliki ruang untuk bersandar di sudut kamar. Arka tahu, nota rapi itu tak akan pernah bisa memutar balik waktu atau menghidupkan kembali detak jantung yang telah berhenti di jalan raya. Pelukan Ibu tidak menghapus fakta bahwa celengan itu telah hancur dan Ayah telah pergi selamanya dari lini masa mereka.

Mungkin kita tidak bisa mengubah takdir atau memberikan cahaya terang benderang, tapi kita memilih untuk duduk bersamanya di dalam kegelapan.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Novel
Fragmen
Hana
Novel
Milie Loves World
Gistia Rengganis
Novel
Singkat
deru senja
Skrip Film
Ice Princess
Jesslyn Kei
Skrip Film
N0_T1M3
Rama Sudeta A
Flash
Mereka Menyebutnya Pemeran Antagonis
Art Fadilah
Flash
Skandal Celengan Tanah Liat
kutipan.izs
Cerpen
FTV
Cassandra Reina
Cerpen
PEREMPUAN DALAM KABUT INGATAN
Septia Arya Nugraha
Novel
Glance from Libra
Indah N. Oktavia
Novel
Girl Mentally Retarded
KR
Novel
Bronze
Lebih Terang dari Cahaya
Yuditeha
Flash
Mask
Wuri
Flash
Bronze
Terus Terbang
Silvarani
Cerpen
Bolehkah aku berteman
deru senja
Rekomendasi
Flash
Skandal Celengan Tanah Liat
kutipan.izs
Novel
Bronze
Catatan Dari Bangku Belakang
kutipan.izs
Flash
Siasat Prank Ulang Tahun di Kantin Sekolah: Misteri Virus Digital Jam Dua Pagi
kutipan.izs
Flash
Tabrakan Bibir Digital di Gerbang Sekolah: Rahasia di Balik Baterai Penuh dan Robot Pembersih Otomatis
kutipan.izs
Flash
Misteri Surat Cinta di Tangga Kampus
kutipan.izs
Flash
Misteri Surat di Halte Tua
kutipan.izs
Flash
Salah Bonceng Berujung Check-In: Balada Cinta Era Pandemi
kutipan.izs