Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Drama
Ketika Dosa Berbau
0
Suka
5
Dibaca
Flash Fiction ini masih diperiksa oleh kurator

Sejak fajar menyingsing di Kota Sham, udara tak pernah lagi sama. Ia berubah menjadi aroma pekat dengan tekstur yang seolah memadat. Ia merayap ke celah-celah pernapasan dan menggenangi seluruh paru-paru kota.

Fenomena itu terjadi begitu saja. Orang-orang tersentak saat menyadari ada yang ganjil dari tubuh mereka sendiri, sebelum akhirnya mulai mengendus bau serupa yang menguar dari tubuh orang lain.

Mungkin Tuhan telah jemu dengan kemunafikan yang tertata rapi. Dia memutuskan untuk memberi bau pada setiap dosa sehingga manusia tidak lagi bisa bersembunyi di balik keanggunan penampilan.

Kian, seorang pemuda yang bekerja sebagai kurir, melangkah keluar dari rumah kontrakannya. Baru tiga langkah menapak di trotoar, hidungnya langsung disambut bau kecut yang menyengat. Di depannya, Pak Haris—tetangga yang dikenal sebagai pemuka lingkungan—sedang berjalan tergesa-gesa. Dari balik kemejanya yang kokoh dan licin, menyeruak bau amis darah yang lengket. Aroma khas dari kezaliman yang menyaru kealiman.

Pak Haris berjalan dengan kepala tertunduk sambil memeluk erat tas di dadanya. Sepasang matanya mengawasi setiap sudut jalan dengan cemas.

"Pagi, Pak Haris!" sapa Kian lirih, setengah ragu.

Pak Haris terkesiap, wajahnya pias seketika. "Ah, mmm… pagi, Kian," jawabnya terbata-bata tanpa berani mengangkat muka. Ayunan kakinya kian dipercepat, menghindari interaksi lebih jauh dengan siapa pun.

Kian mengembuskan napas berat. Ia tidak punya hak untuk menghakimi. Sebab, hari ini tubuhnya sendiri berbau gosong, seperti karet yang terbakar. Aroma itu tercipta dari kebohongan kecil yang ia ucapkan kepada ibunya semalam tentang uang belanja. Ia mengaku gajinya dipinjam teman, padahal habis digunakan untuk mentraktir kekasihnya di restoran mahal minggu lalu.

Kata-kata mungkin masih bisa menjadi tameng, dan raut wajah dapat mempertebal kepalsuan. Namun, bau yang keluar dari pori-pori tubuh tidak bisa lagi dimanipulasi. Kian sadar aroma itu bisa saja makin menusuk seiring berjalannya waktu. Lantas, ia memilih untuk mengunci mulutnya rapat-rapat.

Di dalam gerbong kereta komuter menuju pusat kota, suasananya senyap bak rumah duka. Tidak ada lagi penumpang yang berani membusungkan dada atau saling melempar pandangan merendahkan. Semua orang memilih menunduk, menatap ujung sepatu masing-masing dengan takzim.

Seorang wanita berpenampilan glamor duduk menyudut di kursi prioritas. Aroma busuk menyerupai bangkai mengular dari tas kulitnya. Tepat di sebelahnya, seorang tunawisma berbaju rombeng justru memancarkan wangi bumi setelah hujan. Tubuhnya menyisakan keharuman dari penyesalan yang tulus.

Wanita itu tampak tak tenang. Ia berbisik kepada temannya. Suaranya bergetar, hampir tak terdengar. "Apakah baunya masih sangat kuat? Aku sudah menghabiskan setengah botol sabun dan parfum."

Temannya tetap memaku mata ke lantai. Ia menyahut sambil menutup mulut, tanpa menoleh, "Jangan banyak bicara! Baumu membuatku mual. Bauku sendiri pun sudah mulai terasa memuakkan."

Dulu, sebelum hukum aroma ini berlaku, orang-orang di dalam gerbong akan memandang hina si tunawisma. Sekarang, kasta dunia berbalik secara instan. Derajat manusia tidak lagi ditentukan oleh isi dompet, melainkan oleh kebersihan udara di sekitar tubuh masing-masing.

Hari terus bergerak. Perkantoran, pertokoan, halte, hingga ruang-ruang ibadah berubah menjadi ladang kecurigaan yang nyaris tanpa suara. Orang-orang berjalan sambil menahan napas panjang, tak berhenti mengendus, takut ada aroma lain yang lolos dari tubuh mereka dan menghancurkan sisa harga diri mereka.

Pukul dua belas siang, tugas mengantar barang membawa Kian ke sebuah gedung pencakar langit di pusat kota. Di lobi berlapis marmer berkilat, ia melihat seorang pria paruh baya berjas mahal sedang menyemprotkan sebotol parfum bermerek ke sekujur tubuhnya secara brutal.

Namun, segalanya sia-sia. Wangi bergamot Prancis yang segar dan mewah itu langsung kalah telak, tenggelam oleh bau belerang dan nanah yang merembes dari kulit sang pria—aroma keserakahan yang mendarah daging.

"Brengsek! Kenapa bau ini tidak hilang-hilang?!" umpat pria itu, frustrasi. Ia melempar botol kaca jutaan rupiah miliknya ke lantai.

Botol itu pecah berkeping-keping. Cairannya menyebar, tetapi hanya menjadi uap yang hambar.

Kian mendekat dengan hati-hati. Ia lalu menyerahkan papan jalan berisi lembar resi. "Permisi, Pak. Maaf, ini ada paket dokumen atas nama Pak Direktur. Mohon tanda tangannya di bagian sini."

Pria itu merebut pulpen dengan kasar, membubuhkan tanda tangan tanpa sepatah kata pun. Kemudian, ia bergegas masuk ke dalam lift yang sepi. Kian melangkah mundur dengan lega.

Dunia yang baru membuat industri wewangian bangkrut dalam sekejap. Tak ada lagi yang mengejar aroma sintetis dari botol-botol kristal. Kebaikan dan air mata pertobatan menjadi satu-satunya parfum yang paling mahal.

Sore harinya, Kian pulang. Langkahnya lesu, keringatnya menyatu di baju. Bau gosong di tubuhnya mulai memudar oleh rasa sesal yang terus berkecamuk di dalam batinnya sejak pagi.

Saat melewati taman kota yang temaram, Kian melihat sepasang suami istri lansia duduk berdampingan di bangku kayu. Angin mengalirkan aroma sepat, bau asam samar, dan sentuhan debu jalanan. Mereka jelas bukan manusia suci tanpa cela.

Sang nenek tampak menggenggam jemari suaminya yang keriput. "Aroma teh kemarin dan amarahmu tadi siang masih tercium sedikit, Pak," ucapnya lembut seraya tersenyum tipis.

Sang kakek terkekeh pelan, menepuk punggung tangan istrinya. "Maafkan aku, Bu. Sifat kerasku ini memang sering membuatmu kesal. Tapi bau ketakutanmu karena menyembunyikan cangkirku, juga belum hilang, loh."

Mereka berdua tertawa kecil, saling bersandar dengan kepala tegak. Mereka telah saling menerima bahwa tidak ada manusia yang selalu wangi sepanjang hidupnya. Di antara sisa-sisa bau dosa masa lalu, ada aroma manis bernuansa madu yang menyusup kuat dan menenangkan.

Kian tersenyum menyaksikan pemandangan itu. Ia merogoh saku celana, mengambil ponsel, lalu mencari nomor kontak ibunya.

Namun, ia mengurungkan niatnya. Ia merasakan keanehan mendadak mengelilingnya. Orang-orang yang berpapasan dengannya mulai melirik sinis sambil menutup hidung. Beberapa bahkan menghentikan langkah, menatapnya dengan sorot tajam dan penuh selidik.

Kian panik. Ia segera mengangkat lengan dan mengendus tubuhnya berkali-kali. Tidak ada bau gosong karet terbakar. Indra penciumannya hanya menangkap bau peluh biasa akibat lelah bekerja seharian.

Ada ketimpangan yang nyata. Kian berhenti sejenak di ujung jalan, di bawah tiang lampu yang mati. Ia merenung, merasa begitu tertuduh.

Lalu, sebuah pertanyaan yang menggelisahkan membuncah di pikirannya: apakah manusia memang tidak akan pernah bisa mecium bau dosanya sendiri, ataukah kebenaran memang selalu bergantung pada hidung yang mencium?

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Flash
Ketika Dosa Berbau
Jasma Ryadi
Novel
Aku Impoten
aas asmelia
Novel
Bronze
From script to screen
Ais Ahya Nahira
Novel
Karanlık Sevda - Sebuah Kesepakatan
Erika Hasan
Skrip Film
Pirau
Matrioska
Flash
Ellipsism de Nocte
Aisyah KW
Cerpen
Bronze
Semua Rumah Ada Tikus
Sulistiyo Suparno
Cerpen
Masih Perlu Usaha
Kiara Hanifa Anindya
Cerpen
PELANGI
Kagura Lian
Cerpen
Gila Hormat
Hilwa Taqiyya
Novel
Bronze
PAPA
Hanna Khoiruzzahro
Novel
Bronze
1121681
Delta
Novel
Bronze
Kutitipkan Wajahmu Pada Bulan
Imajinasiku
Novel
WAHID
Anindyaputrika
Flash
Jam Tangan
Sena N. A.
Rekomendasi
Flash
Ketika Dosa Berbau
Jasma Ryadi
Flash
Mengapa Aku Belum Mati?
Jasma Ryadi
Flash
Aku atau Dia
Jasma Ryadi
Flash
Ikan adalah Luka
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
Inang
Jasma Ryadi
Flash
Ombak, Luka, dan Hal-Hal yang Tetap Datang
Jasma Ryadi
Flash
Rumah Tanpa Isinya
Jasma Ryadi
Flash
Jadikan Aku Selingkuhanmu
Jasma Ryadi
Flash
Bagaimana Jika Aku Tidak Menikah?
Jasma Ryadi
Flash
Jejak
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
Efisiensi
Jasma Ryadi
Flash
Lintang
Jasma Ryadi
Flash
Diam yang Menghukum
Jasma Ryadi
Flash
Akar di Kepala Ibu
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
Potongan Tangan
Jasma Ryadi