Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Romantis
The Star We Hoped Would Never Fade
0
Suka
7
Dibaca
Flash Fiction ini masih diperiksa oleh kurator

Ini sudah hari ke-20...

​Hari ke-20 di mana Hero hanya bisa menatap punggung Faira dari kejauhan. Mendapati gadis itu kembali merenung, menatap hamparan bintang dengan posisi yang persis sama belakangan ini.

​Faira hanya duduk diam, melingkarkan kedua lengan memeluk kakinya yang ditekuk erat. Kepalanya menengadah, menatap langit Oxford yang anehnya malam ini begitu cerah bertabur bintang, sangat kontras dengan suasana hati mereka berdua yang belum selesai tenggelam dalam duka yang tak berkesudahan.

Mereka, Hero dan Faira, adalah sepasang calon orang tua yang telah gagal menyelamatkan anak mereka sendiri.

​Hero sudah mengerahkan seluruh jiwanya untuk menarik Faira keluar dari keterpurukan. Keluar dari jerat rasa bersalah yang perlahan merenggut setiap jengkal kebahagiaan dalam hidupnya. Hero bahkan sudah meyakinkan Faira setidaknya sejuta kali, dalam kurun waktu dua puluh hari ini, bahwa semua yang terjadi sama sekali bukanlah salahnya.

Hero sangat bersedia, menukar jiwanya sendiri demi bisa menghapus sedikit saja kesedihan dari wajah Faira. Ia bahkan bersedia menyerahkan nyawanya sendiri jika itu berarti ia dapat menyelamatkan nyawa putranya.

Apapun, akan dilakukan Hero, sekalipun Hero harus menggerakan langit, bumi dan seisinya, untuk memberikan Faira kebahagiaan.

Namun, semuanya terlambat.

Bayi mereka telah direnggut oleh Sang Pecipta, bahkan sebelum mereka sempat mengerjapkan mata.

​Memori dua puluh hari yang lalu itu terlalu lekat. Masih begitu jelas dalam ingatan Hero, mimpi terburuk dalam hidup Hero, saat ia menyaksikan Faira bertaruh nyawa mendorong sang jabang bayi dalam usianya yang baru saja menginjak 24 minggu di kandungan Faira. Saat janin yang merupakan bakal calon anak mereka, dinyatakan tidak lagi memiliki detak jantung kehidupan.

​Bagian terburuknya, Hero hanya bisa menyaksikan itu semua terjadi sambil memegangi tangan Faira, tanpa bisa bertindak lebih jauh. Berusaha tegar menguatkan Faira padahal diri Hero sendiri sudah nyaris ambruk.

Melihat bagaimana Faira berjuang sekuat tenaga mendorong calon anak mereka yang sudah tak bernyawa seorang diri, yang mereka tahu tidak akan mampu mereka dengar isak tangisnya seperti bayi-bayi di dunia pada saat dilahirkan. Dan Hero harus menjadi seorang ayah yang mendekap tubuh mungilnya yang sudah membiru, tak bernyawa.

"Let me hold him for a second, please." bisik Faira kala itu. Meminta dengan secuil tenaga yang tersisa.

​Tubuh Hero terguncang begitu hebat saat itu. Nyaris saja bayi dalam dekapannya tidak sempat diraih oleh Faira, karena tepat di detik yang sama, kesadaran Faira melesat ke titik terendah.

Faira tak sadarkan diri karena kehilangan begitu banyak darah.

​Dunia Hero hancur lebur. Dalam desakan hebat, fokusnya terbagi paksa antara ingin menjatuhkan sang bayi dalam dekapannya begitu saja demi menyelamatkan Faira, atau tetap mendekapnya dengan erat sambil menyaksikan Faira ditangani oleh para tenaga medis tanpa bisa melakukan apa-apa.

"You need to let go, Hero. You need to be strong for Faira. You are all what she needs right now." ucap Joseph lirih, tepat setelah ia menemani Hero menguburkan putranya di halaman belakang rumah orang tua Hero di London.

​Dan di hari ketika Faira akhirnya siuman, kenyataan pahit langsung menghantamnya sangat keras.

Faira mendapati anak mereka telah dimakamkan tanpa menunggu Faira sadar terlebih dahulu. Melenyapkan satu-satunya harapan Faira sebagai seorang ibu agar dapat memeluk anaknya untuk terakhir kali.

Hero takut Faira membencinya. Sangat takut, hingga tubuhnya menggigil.

Namun dalam keheningan malam itu, Hero akhirnya memutuskan untuk berhenti memberi ruang pada Faira untuk merasa terpuruk sendirian.

​Langkah kaki Hero bergerak mendekat, menghampiri Faira yang masih bergeming menatap langit malam Oxford.

Hero kemudian duduk di sana, tepat di sebelah Faira. Tanpa melakukan tindakan apa pun.

​Tidak memeluk.

​Tidak merangkul.

​Tidak juga menciumnya.

​Hero hanya duduk, membiarkan keheningan menyelimuti mereka yang bersamaan melempar pandang ke langit luas.

​"Benar tidak ya, kalau bintang-bintang yang sedang kita pandangi sekarang ini adalah jiwa-jiwa dari orang yang sudah pergi meninggalkan kita?"

​Hero menoleh, mendengar suara Faira memecah sepi. Kali ini tidak ada air mata yang biasanya selalu Hero lihat selama dua puluh hari ini. Suaranya bahkan tidak bergetar seperti biasanya.

​"Kamu baca teori itu dari buku mana, baby?" tanya Hero.

​Faira terkekeh, "Bukan buku. Dari film."

​Faira menoleh ke arah Hero sesaat. Mereka saling terdiam, menyelami manik mata satu sama lain.

Lalu, beberapa detik kemudian, tawa rendah mereka pecah begitu saja ditengah sendunya malam.

​"Sejak kapan kamu percaya kata-kata dari film? Bukannya kata kamu semua yang ada di film itu klise?"

​Faira menghela napas panjang,

"Well, mungkin semenjak aku memilih percaya bahwa di antara bintang yang bersinar terang malam ini, ada jiwa putra kita yang sedang memandang kita dari atas sana."

​Ucapan Faira telak mengenai ulu hati Hero. Menghantamnya begitu keras hingga pria itu terdiam cukup lama.

​Faira kembali menurunkan pandangannya dari terangnya langit malam, lalu menoleh ke arah Hero.

Di sana, ia mendapati sang kekasih menitikkan setetes air mata yang lolos begitu saja.

Faira tersenyum tipis. Jemarinya terangkat, menghapus jejak air mata tak terisak itu dengan jemarinya sambil berkata lembut,

"You're right. It's not our fault. He's now in a better place. And i believe, he's proud of us for being his parents, even if it was only for six months."

​Hero tidak bisa menahannya lagi. Ia menarik wajah Faira, membawa gadis itu ke dalam ciuman yang begitu dalam. Menumpahkan seluruh rasa cinta yang ia pikir tidak akan mampu berekspansi lebih besar lagi dari ini.

"And i believe, he really loves you like his daddy loves his mummy so much," ujar Hero, menekan pelipisnya pada pelipis Faira, saling mengantarkan kehangatan.

​Kemudian Hero berdiri perlahan, meraih tangan Faira untuk ikut bangkit bersamanya.

Hero merogoh ponsel dari saku jaket, membuka aplikasi musik, dan memutar sebuah lagu. Ponsel Hero kemudian diletakkannya begitu saja di atas rumput, tepat di sebelah kaki mereka.

​Faira tertawa kecil, menunduk sejenak melihat judul lagu yang sedang berputar.

"Really? This song?"

​Hero ikut terkekeh sambil menarik tubuh Faira mendekat lebih rapat padanya.

Lalu, dengan langkah-langkah ringan yang pendek, Hero menuntun Faira bergerak perlahan untuk menari, mengikuti lantunan lagu yang selalu mengingatkan mereka pada setiap jengkal perjalanan yang sudah mereka lewati.

​Sebuah lagu yang, Hero dan Faira harap, mampu menjadi bukti nyata untuk jiwa putra mereka yang tengah bersinar di atas langit sana.

Bahwa kedua orang tuanya begitu mencintainya, bahkan sebelum ia sempat hadir menyapa semesta.

(Coldplay - All My Love)

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Romantis
Novel
Masih Milik Kita
Ella Wang
Novel
Bronze
DEVAZURA
Wulan Apriani Widodo
Novel
BUKAN SALAH JODOH
Author Cimot
Flash
Bronze
Walau Dalam Mimpi
AI Romance
Flash
The Star We Hoped Would Never Fade
Farah Maulida
Novel
My Weird Neighbor
andra fedya
Novel
Usai
Kalisna
Cerpen
Winter In My Heart
Diyah Ayu NH
Novel
A Little Color of You
SeoAnna
Novel
Alphabet
Meydin.Al
Novel
Amaranthine
Trivia Indriani
Novel
Gending Hati
Sriasih (Asih Rehey)
Novel
Bronze
Amarah Dan Cinta
Yellowflies
Flash
AMBIGU
Agnes Dzahniyah
Flash
Cinderella Pencari Jodoh
Leni Juliany
Rekomendasi
Flash
The Star We Hoped Would Never Fade
Farah Maulida
Flash
Under Your Spell
Farah Maulida
Flash
A Letter You Tore Apart
Farah Maulida
Flash
They Say, What Happened in Las Vegas, Stays in Las Vegas.
Farah Maulida
Flash
Unspoken Truth
Farah Maulida
Flash
Semua Untuk Anya
Farah Maulida
Cerpen
The Ex File
Farah Maulida
Flash
Bronze
Anterior to Your Heart
Farah Maulida
Novel
Bronze
Its Always Been You, Fraya
Farah Maulida
Flash
Always Have Been, Always Will Be
Farah Maulida
Flash
Mama
Farah Maulida
Flash
Bronze
The Galaxy In Our Room
Farah Maulida
Cerpen
Edge of Us
Farah Maulida
Cerpen
What Remains
Farah Maulida
Flash
Never Just a Friend
Farah Maulida