Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Sudah hari ke-20...
Hari ke-20, di mana Hero hanya bisa menatap punggung Faira dari kejauhan. Mendapati gadis itu kembali merenung, memandang hamparan bintang dengan posisi yang persis sama belakangan ini.
Faira hanya duduk diam, melingkarkan kedua lengan memeluk kakinya yang ditekuk erat. Kepalanya menengadah, menatap langit Oxford yang anehnya malam ini begitu cerah bertabur bintang, kontras sekali dengan suasana hatinya yang belum selesai tenggelam oleh duka yang tak berkesudahan.
Mereka, Hero dan Faira, adalah calon orang tua yang telah gagal menyelamatkan anak mereka sendiri.
Hero sudah mengerahkan seluruh jiwanya untuk menarik Faira keluar dari keterpurukan. Keluar dari jerat rasa bersalah yang perlahan merenggut setiap jengkal kebahagiaan dalam hidupnya. Hero bahkan sudah meyakinkan Faira setidaknya sejuta kali, dalam kurun waktu dua puluh hari ini, bahwa semua yang terjadi sama sekali bukanlah salahnya.
Hero sangat bersedia, menukar jiwanya demi bisa menghapus sedikit saja kesedihan dari wajah Faira. Ia bahkan siap menyerahkan nyawanya sendiri jika itu berarti ia dapat menyelamatkan nyawa putranya.
Apapun, akan dilakukan Hero, sekalipun Hero harus menggerakan langit dan bumi, demi memberi Faira kebahagiaan seperti dulu.
Namun, semuanya terlambat.
Bayi mereka telah direnggut oleh Sang Pecipta, bahkan sebelum mereka sempat menghela napas.
Memori dua puluh hari yang lalu itu terlalu lekat.
Hero masih ingat dengan jelas, mimpi terburuknya, saat ia menyaksikan Faira bertaruh nyawa mendorong keluar sang buah hati dari kandungannya saat usianya baru saja menginjak 24 minggu. Saat janin yang kehadirannya telah begitu mereka nantikan, dinyatakan tidak lagi memiliki detak jantung kehidupan.
Bagian terburuknya, Hero hanya bisa menyaksikan itu semua terjadi sambil memegangi tangan Faira, tanpa mampu bertindak lebih jauh. Berusaha tegar menguatkan Faira padahal Hero sendiri sudah nyaris ambruk di samping gadis itu.
Hero kemudian terlahir menjadi seorang ayah yang harus siap mendekap tubuh mungil buah hatinya dalam kondisi mengenaskan.
Membiru. Kaku. Tanpa tangisan.
Tangisan yang ironisnya, sudah mereka berdua nantikan selama ini, bahkan di sepanjang malam Hero selalu mengajak putranya berbincang dari perut Faira.
”Son, when you finally come out of mummy’s tummy, make sure you give daddy a really loud cry, alright?” ujar Hero setiap malam pada perut buncit Faira kala itu, dan akan selalu diakhiri dengan Hero mencium perut Faira penuh kasih sayang.
Belum selesai duka Hero pada saat kedua tangannya dengan gemetar menggendong putra mungilnya, beberapa detik kemudian, Faira kehilangan kesadaran.
Dunia Hero hancur lebur. Dalam desakan hebat, fokusnya terbagi paksa antara ingin menjatuhkan sang bayi begitu saja demi menyelamatkan Faira, atau tetap mendekap putranya dengan erat sambil menyaksikan Faira ditangani oleh para tenaga medis tanpa bisa menolong apa-apa.
"You need to let go, Hero. You need to be strong for Faira. You’re all what she needs right now." ucap Joseph lirih, tepat setelah ia menemani Hero menguburkan putranya di halaman belakang rumah orang tua Hero di London.
Di hari ketika Faira akhirnya siuman, kenyataan pahit langsung menghantamnya begitu keras.
Faira mendapati anak mereka telah dimakamkan tanpa menunggu Faira sadar terlebih dahulu. Melenyapkan satu-satunya harapan Faira sebagai seorang ibu agar dapat memeluk anaknya untuk terakhir kali.
Dalam keheningan malam itu, Hero akhirnya memutuskan untuk berhenti memberi ruang pada Faira untuk merasa terpuruk sendirian.
She mustn’t feel alone. She’ll always have me.
Langkah kaki Hero bergerak mendekat, menghampiri Faira yang masih bergeming menatap langit malam Oxford.
Hero kemudian duduk di sana, tepat di sebelah Faira. Tanpa melakukan tindakan apa pun.
Tidak merangkul.
Tidak memeluk.
Tidak juga menciumnya.
Hero hanya duduk, membiarkan keheningan menyelimuti mereka yang bersamaan melempar pandang ke langit luas.
"Benar tidak ya, kalau bintang-bintang yang sedang kita pandangi sekarang ini adalah jiwa-jiwa dari orang yang sudah pergi meninggalkan kita?"
Hero menoleh, mendengar suara Faira memecah sepi. Kali ini tidak ada air mata yang biasanya selalu Hero lihat selama dua puluh hari ini. Suaranya bahkan tidak bergetar seperti biasanya.
"Kamu baca teori itu dari buku mana, baby?" tanya Hero.
Faira terkekeh, "Bukan buku. Dari film."
Faira menoleh ke arah Hero sesaat. Mereka saling terdiam, menyelami manik mata satu sama lain.
Lalu, beberapa detik kemudian, tawa rendah mereka pecah begitu saja ditengah sendunya malam.
"Sejak kapan kamu percaya kata-kata dari film? Bukannya kata kamu semua yang ada di film itu klise?"
Faira menghela napas panjang,
"Well, mungkin semenjak aku memilih percaya bahwa di antara bintang yang bersinar terang malam ini, ada jiwa putra kita yang sedang memandang kita dari atas sana."
Ucapan Faira telak mengenai ulu hati Hero. Menghantamnya begitu keras hingga pria itu terdiam cukup lama.
Faira kembali menurunkan pandangannya dari terangnya langit malam, lalu menoleh kembali ke arah Hero.
Di sana, ia mendapati sang kekasih menitikkan setetes air mata yang lolos begitu saja.
Faira tersenyum tipis. Ibu jemarinya terangkat, menghapus jejak air mata Hero yang tak terisak sambil berkata lembut,
"You're right, Hero. It's not our fault. He's now in a better place. And i believe, he's proud of us for being his parents, even if it was only for six months."
Hero tidak bisa menahannya lagi. Ia menarik wajah Faira, membawa gadis itu ke dalam ciuman yang begitu dalam. Menumpahkan seluruh cinta yang ia pikir tidak akan mampu berekspansi lebih besar lagi dari ini.
"And i believe, he really loves you like his daddy loves his mummy so much," ujar Hero, menekan pelipisnya pada pelipis Faira, saling mengantarkan kehangatan.
Kemudian Hero berdiri perlahan, meraih tangan Faira untuk ikut bangkit bersamanya.
Hero merogoh ponsel dari saku jaket, membuka aplikasi musik, dan memutar sebuah lagu. Ponsel Hero kemudian diletakkannya begitu saja di atas rumput, tepat di sebelah kaki mereka.
Faira tertawa kecil, menunduk sejenak melihat judul lagu yang sedang berputar.
"Really? This song?"
Hero ikut terkekeh sambil menarik tubuh Faira mendekat lebih rapat padanya.
Ia menunduk, menekan lembut bibirnya di puncak kepala Faira, "Why not, Love?"
Lalu, dengan langkah-langkah ringan yang pendek, Hero menuntun Faira bergerak perlahan untuk menari, mengikuti lantunan lagu yang selalu mengingatkan mereka pada setiap jengkal perjalanan yang sudah mereka lewati.
Sebuah lagu yang, Hero dan Faira harap, mampu menjadi bukti nyata untuk jiwa putra mereka yang tengah bersinar di atas langit sana.
Bahwa kedua orang tuanya begitu mencintainya, bahkan sebelum ia sempat hadir menyapa semesta.
(Coldplay - All My Love)