Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Horor
Detak Terakhir
0
Suka
20
Dibaca

“Pak, jam bisa capek nggak?”

Harun mengangkat kepala pelan dari meja kerjanya. Di balik kaca jendela toko yang buram karena hujan, Gang Kenanga tampak kosong seperti lorong yang lupa dipakai manusia. Pertanyaan itu datang dari seorang anak kecil yang berdiri sambil memegang payung bergambar kartun.

“Kenapa tanya begitu?” suara Harun serak tipis.

Anak itu menunjuk jam dinding besar di belakang Harun. “Dia bunyinya sedih.”

Tik. Tok. Tik. Tok.

Harun terdiam beberapa detik sebelum tersenyum kecil. “Mungkin dia kangen seseorang.”

Anak itu terlihat puas dengan jawaban aneh itu lalu berlari pergi, meninggalkan suara sandal basah di jalan sempit.

Harun kembali menunduk memperbaiki jam sakunya. Jemarinya yang biasanya gemetar mendadak tenang ketika menyentuh roda-roda kecil berwarna emas kusam. Selama puluhan tahun hidup, hanya benda-benda itulah yang masih mau patuh padanya.

Orang-orang sekitar bilang toko Harun menyeramkan.

Bukan karena bentuknya. Tokonya hanya ruangan sempit penuh jam tua dan bau kayu lembap. Yang membuat orang takut adalah suara-suara di dalamnya. Kadang saat malam terlalu sunyi, terdengar seseorang tertawa dari arah dinding. Kadang ada suara perempuan menyenandungkan lagu lama. Kadang suara batuk lelaki tua terdengar samar di sela detak jam.

Padahal toko itu selalu kosong selain Harun.

Namun Harun tahu suara-suara itu memang ada.

Setiap jam menyimpan sesuatu. Bukan sekadar waktu, melainkan sisa manusia yang terlalu lama tinggal di dekatnya.

Jam weker menyimpan napas ibu yang bangun paling pagi. Jam dinding ruang tamu menyimpan suara anak pulang sekolah yang melempar tas sembarangan. Jam saku menyimpan keluhan lelaki yang lelah bekerja tetapi tetap pulang membawa roti.

Semua tersimpan dalam detak. Dan Harun bisa mendengarnya.

Malam itu hujan turun lebih deras ketika lonceng kecil di pintu toko berbunyi.

Kring!

Seorang pemuda masuk sambil menurunkan hoodie hitamnya yang basah.

“Masih buka, Pak?”

Harun melirik jam dinding. Pukul dua lewat tujuh belas menit.

“Kalau sudah tutup, kamu nggak bakal bisa masuk.”

Pemuda itu tertawa kecil, tetapi matanya tetap terlihat lelah. Ia mengeluarkan kotak beludru lusuh dari tasnya lalu menaruhnya di meja.

“Saya mau benerin jam.”

Harun membuka kotak itu perlahan.

Sebuah jam saku perak terbaring di dalamnya. Kacanya retak di sisi kanan. Jarumnya berhenti tepat di angka 02.17.

Begitu menyentuh logam dingin itu, dada Harun terasa sesak. Seolah ada seseorang yang sedang menahan tangis di dalam sana.

“Punya siapa?” tanyanya pelan.

“Bapak saya.”

“Sudah lama rusak?”

“Tiga tahun.”

Harun mengangguk kecil. “Tiga tahun lalu beliau meninggal?”

Pemuda itu langsung menatap tajam. “Bapak tahu dari mana?”

Harun tidak menjawab. Ia hanya mengangkat jam itu ke telinga.

Dan suara itu langsung muncul.

Napas berat.

Bunyi monitor rumah sakit.

Lalu suara lelaki paruh baya yang terdengar lelah namun hangat.

Raka... jangan begadang terus. Skripsimu nggak bakal kabur.

Harun membuka mata perlahan.

“Namamu Raka?”

Wajah pemuda itu berubah pucat. “Iya.”

Ruangan mendadak terasa lebih dingin. Hujan di luar terdengar makin jauh, seolah seluruh dunia berhenti mendengarkan.

“Itu tadi suara siapa?” bisik Raka.

Harun memutar mahkota kecil di sisi jam satu kali.

Tik. Tok.

Suara detaknya berubah.

Kalau kamu dengar ini, berarti Bapak udah nggak ada.

Raka membeku. Matanya langsung memerah.

“Itu suara bapak saya...”

Harun membiarkan jam itu menyampaikan apa yang selama ini tertahan.

Dengerin baik-baik ya. Kamu nggak salah karena nggak datang waktu ICU. Kamu lagi ujian. Bapak malah bangga kamu tetap milih ujian.

Bahu Raka mulai bergetar.

Selama tiga tahun ia hidup dengan rasa bersalah yang perlahan menggerogoti dirinya. Malam ayahnya meninggal, ia memilih tetap duduk di ruang ujian kampus karena berpikir masih ada waktu untuk pulang.

Ternyata tidak ada.

Suara itu terdengar pecah sebentar.

Bapak cuma nyesel satu hal.

Raka menutup mulutnya sendiri.

Aku terlalu sibuk kerja sampai lupa bilang kalau aku bangga sama kamu.

Air mata jatuh mengenai meja kayu tua.

Aku bangga, Ka. Banget.

Detak jam melambat.

Jangan hidup cuma buat ngejar waktu. Hidup buat punya waktu duduk sama orang yang kamu sayang.

Tik.

Tok.

Lalu hening.

Jam saku itu kembali berdetak normal seperti tak terjadi apa-apa.

Raka masih diam cukup lama.

“Ini... rekaman?”

“Bukan.”

“Lalu apa?”

Harun menatap deretan jam di dinding.

“Manusia meninggalkan dirinya di banyak tempat tanpa sadar,” katanya pelan. “Perasaan itu punya gema. Dan beberapa benda terlalu lama mendengarkannya.”

Raka terduduk lemas di kursi kayu.

“Berarti... bapak saya belum pergi?”

Harun menghela napas pelan.

“Orang yang kita sayang nggak benar-benar hilang. Kita cuma nggak bisa lagi ngobrol sama mereka sesering dulu.”

Raka tertawa kecil sambil mengusap mata. Tawa yang terdengar menyedihkan.

“Kalimat Bapak serem juga ya.”

“Tokoku memang nggak cocok buat orang penakut.”

Untuk pertama kalinya malam itu, Raka tersenyum tipis.

Tiga hari kemudian ia datang lagi. Kali ini membawa anak kecil yang terus melihat ke segala arah dengan mata berbinar.

“Wah... banyak banget jamnya.”

“Jangan pegang apa-apa,” kata Raka cepat.

“Aku cuma lihat.”

Harun memperhatikan mereka diam-diam dari balik meja.

“Ini adik saya,” ujar Raka. “Namanya Dika.”

Dika melambai antusias. “Halo, Kakek Jam.”

Raka langsung menepuk dahinya malu. Namun Harun justru terkekeh pelan. Sudah lama tak ada orang memanggilnya seperti itu.

Dika berjalan mendekati jam besar di sudut ruangan.

“Kalau semua jam ini mati, tempat ini jadi sepi ya?”

“Tidak,” jawab Harun datar. “Malah mungkin terlalu ramai.”

Dika menatap bingung sementara Raka menahan tawa.

Malam itu mereka duduk cukup lama di toko kecil itu. Dika akhirnya tertidur di kursi sambil memeluk tas sekolahnya.

Raka memandangi adiknya beberapa saat sebelum berkata pelan, “Pak... kalau suara bisa tinggal di jam... suara saya juga bisa?”

Harun mengangkat alis. “Buat siapa?”

“Buat Dika.” Raka tersenyum kecil. “Kalau suatu hari saya nggak ada, saya pengen dia tahu saya bangga punya adik kayak dia.”

Kalimat itu membuat Harun diam cukup lama. Ia pernah mendengar ribuan pesan terakhir, tetapi sebagian besar manusia baru belajar mengungkapkan rasa sayang setelah kehilangan seseorang.

“Bisa,” jawab Harun akhirnya.

Raka langsung menoleh cepat. “Serius?”

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Horor
Flash
Detak Terakhir
Thariqia
Skrip Film
TIBBIR
Herman Siem
Flash
Udah Belum?
irishanna
Flash
Bronze
Undangan Lingsir Wengi
Choirunisa Ismia
Flash
Bronze
Horror school
Miss Anonimity
Cerpen
Sahabat Dari Dunia Lain
SUWANDY
Cerpen
Cerita Tentang Hantu Gentayangan
Baskara Analemma
Novel
RESIDENT WORST NIGHTMARE : ALV-VIRUS
Alvin Suhadi
Cerpen
Kutukan Keluarga: Sang Ratu Ular
Nisa
Novel
Bronze
Penjara Sukma
Ravistara
Cerpen
Langkah Sepatu Bot
Amelia Purnomo
Cerpen
Aku dan Hantu Fyodor Dostoevsky
Galang Gelar Taqwa
Cerpen
Bronze
Labirin Jiwa
Christian Shonda Benyamin
Skrip Film
R. 508
Kinanti Atmarandy
Cerpen
Bronze
The Tell-Tale Heart
Jumel
Rekomendasi
Flash
Detak Terakhir
Thariqia
Novel
Bronze
Rahasia Istri Yang Disakiti
Thariqia