Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Drama
Unspoken Truth
0
Suka
9
Dibaca
Flash Fiction ini masih diperiksa oleh kurator

Enam tahun.

James pikir waktu selama itu sudah cukup untuk menjinakkan sifat keras yang sejak dulu telah membentuk dirinya.

Sejak perpisahannya dengan Kiara, James mencoba memperbaiki diri dengan menjadi sosok yang lebih tenang, terkendali, dan tidak lagi meledak-ledak seperti versi James enam tahun yang lalu. Ia berusaha belajar untuk mengendalikan sisa-sisa badai dari masa lalunya, dengan tujuan tidak lain untuk membuat diri James menjadi pribadi yang jauh lebih baik lagi.

James mencoba untuk tetap yakin, bahwa pada akhirnya James akan dengan ikhlas melepaskan Kiara sepenuhnya dari hidup James. Dan perjalanan untuk melepaskan Kiara bukanlah satu tindakan yang mudah untuk James jalani, mengingat gadis itu adalah satu-satunya gadis yang pernah James cintai setengah mati.

James yakin hatinya sudah tenang melepaskan genggamannya dari bayang-bayang Kiara, siap menghadapi segala risiko yang ada di hari ia memutuskan terbang ke Bali dan bertemu Kiara di acara reuni angkatan sekolah mereka.

Namun yang tidak pernah James persiapkan adalah, menghadapi kenyataan bahwa dalam kurun waktu enam tahun, segalanya juga bisa terjadi dalam hidup Kiara.

Terutama menghadapi kenyataan bahwa Kiara bisa saja telah menemukan pria lain yang dapat menggeser posisi tunggal James di hati gadis itu.

Keyakinan yang James bangun selama enam tahun ini seketika porak poranda, saat ia berdiri di depan kafe milik Dimple dan Kiara di daerah Canggu bersama Ronald.

Di seberang jalan tak jauh dari kafe, di bawah sinar matahari Bali yang mulai melunak, Kiara berdiri bersama seorang laki-laki.

Gadis itu tampak mungil di samping sosok pria yang tingginya sama seperti James, namun memiliki postur bahu yang lebih kokoh dan lebar yang tampak kuat di balik kemeja linen berwarna biru muda. Pria itu berambut ikal, dengan bola mata gelap yang tidak sekalipun beralih satu senti pun dari wajah manis Kiara, serta senyumnya yang begitu hangat.

James seperti dipukul telak tepat di ulu hati, terlebih saat dilihatnya Kiara tertawa terpingkal-pingkal sambil menekan perut.

Dan yang lebih mengenaskannya lagi, pria di samping Kiara itu memberi sorot mendamba dari balik tawanya yang ikut berderai juga bersama Kiara.

Sorot mendamba seperti dulu setiap kali James menatap Kiara.

Bahkan sepertinya, sekarang pun masih sama.

"Who the fuck is that guy?" James akhirnya bertanya, dengan suara terdengar tajam yang tidak mampu ia tutupi.

Ronald yang baru muncul di sampingnya, menyodorkan segelas es kopi yang langsung terasa dingin di telapak tangan James yang mulai berkeringat.

Ronald mengikuti arah pandang James, lalu seketika dirinya mengumpat pelan.

"Shit. Did he seriously show up here? For her?"

James menoleh cepat, tatapannya setajam belati.

"What the hell do you mean by that, Ron?"

Ronald berdehem canggung, raut wajahnya berubah serba salah.

"Pria itu Garreth, dokter bedah umum di rumah sakit tempat Kiara praktik. Bukan rekan satu tim memang, mengingat Kiara itu dokter ortopedi. Tapi yang kudengar dulu sebagai sesama rekan sejawat, mereka lebih sering adu debat soal prosedur di ruang operasi, tidak pernah akur. Tapi setahun terakhir ini, ketika akhirnya mereka sudah mulai bisa sepaham, Garreth jadi mulai terang-terangan mendekati Kiara."

James terpaku, masih menatap Ronald disampingnya.

And she’s cool with that? No rejection at all?”

Ronald menghela napas dengan pasrah, “Bro, you gotta accept the fact that your ex, might not be the same person we knew back in high school.”

James mengabaikan ucapan Ronald begitu saja saat kakinya dengan cepat mengambil langkah lebar membelah jalanan untuk menghampiri dua orang yang tampak terlalu serasi di seberang jalan sana.

Suara tawa Kiara masih berderai mendengarkan Garreth bercerita tentang kekacauan lucu di ruang operasi saat Kiara sedang cuti.

Namun, ditengah itu semua, tawa Kiara sontak terhenti. Atmosfer di sekelilingnya mendadak membeku saat sosok James yang begitu menjulang tinggi berdiri tepat di hadapan mereka.

"James—"

"Juno, I didn't expect to run into you here."

Baik James maupun Kiara sama-sama tahu, bahwa ucapan yang baru saja James katakan itu bohong.

Garreth mengamati James dengan teliti, lalu melirik Kiara dengan senyum yang sulit diartikan, seolah meminta penjelasan mengenai kehadiran James yang mendadak muncul di tengah pembacaan mereka ini.

"Hi there," sapa Garreth, suaranya berusaha terdengar ramah namun berat dengan aksen Amerika nya yang terdengar kental menyapa James.

Kiara meremas jemarinya, mencoba mengusir kecanggungan yang kini begitu pekat.

"James, apa yang kamu lakukan di sini?"

James menyunggingkan senyum tipis yang terasa dingin di atmosfir. "Tadi aku mampir ke kafemu bersama Ronald." Ia menunjuk Ronald di seberang jalan, lalu kembali memaku tatapannya pada pria di samping Kiara. "And you are?”

Kiara ingin sekali mengumpat sebenarnya. Namun keinginannya itu harus ia telan bulat-bulat, digantikan oleh senyum canggung saat akhirnya ia kembali membuka suara.

”Garreth, ini James. Dan James... ini Garreth. Dia rekan bedahku di rumah sakit,"

Kedua laki-laki itu kemudian saling berjabat tangan. Mereka sama-sama melempar senyum setengah hati yang terasa gamang.

"I know exactly who you are," Garreth berkata sambil mempererat cengkeraman tangannya, seolah sedang menandai wilayah. "James Tiffin, right? I’ve heard quite a bit about you."

Alis James terangkat. "Really?"

Garreth mengangguk tipis. "Yeah. Kamu bisa tanya Kiara, perawat dan pasien di bangsal kami sangat menggilai film-film garapanmu. You’re quite a legend in your own right."

James mengangguk-angguk kecil, seolah merasa terhormat, meski hatinya mendidih.

"Oh, thank you. Kupikir namaku dikenal karena Kiara sering bernostalgia tentang mantan suaminya ini... jauh sebelum dia jadi dokter ortopedi hebat seperti sekarang."

Kiara tersentak begitu hebat mendengar ucapan James yang tak tertuga itu. Jantungnya seakan barusaja ditarik paksa dan dijatuhkan hingga ke dasar perut.

Tidak pernah sedikitpun dalam antisipasinya, James akan melepaskan bom itu secepat ini.

Sedangkan Garreth, pria itu kini terdiam cukup lama. Matanya memindai sebentar, mencari kebenaran dalam mata Kiara. Senyumnya tetap terukir, meskipun kini semakin terlihat goyah.

Ia tidak berhenti menatap Kiara dan James secara bergantian, dengan raut tidak percaya.

"Wait... what do you mean, ex—?"

"Yes," potong James, suaranya kini lebih berat, lebih tegas, namun tetap terdengar ramah dan ringan, seolah kalimat barusan tidak memberikan efek mengejutkan sedikitpun untuk dua orang di hadapan James.

Kemudian James menoleh lagi kearah Kiara, kali ini dengan tampang pura-pura bingung, menuntut jawaban pada gadis yang masih diam seribu bahasa di samping James,

"Kamu tidak pernah memberitahu siapapun ya, kalau kamu pernah menikah denganku?”

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Novel
Tawa Hujan
Yunita Islamiati
Novel
Jadi, Boleh Aku Mencintaimu?
Shinta Puspita Sari
Flash
Bronze
Terjebak Hujan
Majestic Journey
Flash
Unspoken Truth
Farah Maulida
Novel
Orca and The Flower Ice
Adinda Amalia
Novel
Mochi Messages
Fairamadhana
Skrip Film
KOMITMENT
Purnama
Skrip Film
WOMANS
I | N
Novel
Bronze
You Are Too LATE
Lisnawati
Novel
Toni's Secret
Yurlian
Novel
Bronze
Pelangi Pengganti
Nu
Skrip Film
SIMBOK VIRAL
aris triana
Skrip Film
36 Pertanyaan dan Hal-hal yang Tidak Kamu Katakan Seluruhnya
Ratih Mandalawangi
Flash
Ellipsism de Nocte
Aisyah KW
Flash
Dua Potong Kue Bulan
Indah Leony Suwarno
Rekomendasi
Cerpen
Kala Itu, di Bandung
Farah Maulida
Flash
Unspoken Truth
Farah Maulida
Flash
Under Your Spell
Farah Maulida
Cerpen
After Two Years
Farah Maulida
Flash
Half-Written Love
Farah Maulida
Flash
Our Love Inside You
Farah Maulida
Novel
Evernear
Farah Maulida
Flash
Never Just a Friend
Farah Maulida
Flash
A Letter You Tore Apart
Farah Maulida
Flash
Mama
Farah Maulida
Flash
Bronze
The Galaxy In Our Room
Farah Maulida
Flash
They Say, What Happened in Las Vegas, Stays in Las Vegas.
Farah Maulida
Flash
Did You Realize?
Farah Maulida
Cerpen
What Remains
Farah Maulida
Flash
Semua Untuk Anya
Farah Maulida