Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Horor
Anatomi Tempat Tidur
0
Suka
2,533
Dibaca

Semua berada di tempatnya. Jam beker di angka enam, kemeja biru di gantungan, dan aku di atas kasur empuk. Tidak ada yang salah dengan hidupku. Aku berfungsi sebagaimana mestinya: bekerja, makan, dan sekarang, tidur.

Hidupku bisa dikatakan sangat aman. Aku tidak memiliki masalah dalam memilih menu makanan. Baju baru, sepatu bermerek, hingga ponsel paling canggih bisa dibeli kapan pun aku mau. Isi rekeningku tidak pernah mengalami kekeringan. Tidak ada yang perlu aku khawatirkan.

Aku mencoba memejamkan mata setelah meneguk segelas susu hangat. Akan tetapi, aku merasa ada yang salah dengan bantalku. Rasanya begitu penuh, tidak seperti malam-malam biasanya.

​Saat kepalaku menyentuh sarung bantal itu, tidak ada kelembutan yang menyambut. Sebaliknya, aku merasakan kain katun tersebut menegang, merapat ke pelipisku dengan presisi yang ganjil. Ia seolah sedang melakukan pemindaian.

Mungkin hanya perasaanku saja. Aku berusaha bangkit, tetapi tubuhku terus ditarik kembali.

Aku bisa merasakan serat-serat benangnya merayap masuk ke dalam pori-pori, mencari sisa-sisa pikiran yang terselip di lipatan otak. Segala rutinitas yang kubanggakan—cara aku menyeduh kopi dan cara aku mengangguk kepada atasan—semuanya sedang disedot keluar, dianggap sebagai residu yang harus dibersihkan.

Mereka melakukannya dengan penuh paksaan. Tidak ada anamnesis. Tidak ada informed consent yang disodorkan. Prosedurnya sangat amburadul. Aku disuntik anestesi, tetapi sarafku justru tetap merasakan nyeri yang perlahan-lahan menusuk ke tulang.

​Lalu, sprei di bawah punggungku turut bereaksi. Permukaannya menyerupai hamparan silet mikroskopis. Aku bisa merasakan setiap helai benang mulai membedah kulit punggungku. Mereka masuk ke bawah dermis, merayap di antara celah tulang belakang, meraba-raba identitas yang selama ini aku yakini sebagai "hidup yang aman”.

Benang-benang itu kemudian mengeras, menjadi mata pisau dan bor. Mereka memetakan jalur di kulit kepalaku, lalu memisahkan lapisan daging dari tulang.

Saat penampang tengkorakku terangkat, aku mendengar bunyi halus yang menyesakkan. Mereka bilang ingin masuk lebih dalam. Dokter menyebutnya kraniotomi. Namun, mereka bukan tenaga ahli yang terbiasa melakukannya. Mereka seharusnya hanya benda-benda yang ada di atas brankar.

Aku tidak memiliki cacat yang perlu diperbaiki atau dikoreksi. Aku yakin itu. Kasur ini lebih dari sekadar melakukan malpraktik, ia sedang melakukan autopsi pada orang hidup.

Sayangnya, aku kehilangan daya. Aku bahkan tidak bisa membalikkan badan. Tubuhku seakan kehilangan mandat atas otot-ototnya.

Aku terpaku, menatap jam beker yang detiknya berkedip pelan dan kemeja biru yang berayun lirih. Mereka hanya diam, tidak berusaha sedikit pun untuk membantuku. Sementara, di bawah selimut, kakiku memanjang bersama seutas benang—seperti tengah diukur untuk dimasukkan ke dalam peti.

Selimut ini bukan lagi pelindung. Ia adalah timbangan yang sedang menghitung sisa masa depanku. Ia menindih tulang keringku, memaksaku membayangkan hari di mana aku tidak akan lagi bangun dengan rambut klimis dan dasi menggantung di leher.

​Tempat tidur ini telah menjadi laboratorium. Ia membedah lapisan demi lapisan hari esokku yang lurus, mencari tahu tentang sesuatu yang tersembunyi di balik jadwal rapat dan cicilan apartemen.

Ia berkata dengan lantang, “Apa yang sebenarnya kamu banggakan? Kemapanan atau rutinitas?”

Pertanyaannya tidaklah sulit, tetapi aku tak bisa menjawabnya. Sebab, aku merasa menjalani semuanya dengan baik. Aku rutin memeriksa kesehatanku. Aku selalu mengendarai mobilku dengan penuh kehati-hatian. Tanggung jawab dan integritasku menjadi poin utama dalam menjaga karierku tetap di atas.

Aku selalu tahu arah. Aku paham cara memetakan hidupku. Mungkin, sebelum organ-organku dipreteli oleh tempat tidur ini.

Busa yang kutumpangi membentuk celah. Ukurannya mengikuti lekuk tubuhku. Aku terserap, terbujur tanpa bisa melawan.

Aku menatap langit-langit. Sprei mulai menjahit dirinya ke tulang rusukku. Hidupku yang stabil seolah hanyalah lapisan tipis kulit ari yang sekarang sedang dikelupas paksa oleh kain dan busa. Aku masih hidup, tetapi anatomi ini sudah selesai membedahku.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Horor
Flash
Anatomi Tempat Tidur
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
PEMBURU TOGEL POHON RANDU
Sang Alifas Yang Merumput
Cerpen
Bronze
Lilo Main Dengan Siapa
Christian Shonda Benyamin
Flash
Titan
Rama Sudeta A
Cerpen
Bronze
Arga
Christian Shonda Benyamin
Novel
THE CURSE PETER
Safinatun naja
Flash
Bronze
Meja Operasi
Nila Kresna
Novel
Gold
Kagome-Kagome
Noura Publishing
Novel
Pendakian Terakhir
Uki.Sari
Novel
SAMBAT
iqbal syarifuddin muhammad
Skrip Film
TIBBIR
Herman Siem
Flash
Memori
Roy Rolland
Flash
Liputan Hantu +62
Ilfi Rahmadani
Flash
Bronze
Kamar Nomor 7
Fahri Nurul A'la
Flash
SEPULANG REUNI IBU SAKIT
Hans Wysiwyg
Rekomendasi
Flash
Anatomi Tempat Tidur
Jasma Ryadi
Flash
Di Tepi Jurang
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
Reuni di Bangku Cadangan
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
Andai Ayah Tak Begitu
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
Dapur dan Labelnya
Jasma Ryadi
Flash
Dekapan yang Hilang
Jasma Ryadi
Flash
Bagaimana Jika Aku Tidak Menikah?
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
Shift Tiga
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
Potongan Tangan
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
Sore Hari Setelah Ibu Tiada
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
Unfinished Business
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
Penelitian di Dimensi Lain
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
MCK di Ujung Kampung
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
Ayah, Ke Mana Orang-Orang Setelah Mati?
Jasma Ryadi
Flash
Ketika Dosa Berbau
Jasma Ryadi