Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Horor
Anatomi Tempat Tidur
0
Suka
2,499
Dibaca

Semua berada di tempatnya. Jam beker di angka enam, kemeja biru di gantungan, dan aku di atas kasur empuk. Tidak ada yang salah dengan hidupku. Aku berfungsi sebagaimana mestinya: bekerja, makan, dan sekarang, tidur.

Hidupku bisa dikatakan sangat aman. Aku tidak memiliki masalah dalam memilih menu makanan. Baju baru, sepatu bermerek, hingga ponsel paling canggih bisa dibeli kapan pun aku mau. Isi rekeningku tidak pernah mengalami kekeringan. Tidak ada yang perlu aku khawatirkan.

Aku mencoba memejamkan mata setelah meneguk segelas susu hangat. Akan tetapi, aku merasa ada yang salah dengan bantalku. Rasanya begitu penuh, tidak seperti malam-malam biasanya.

​Saat kepalaku menyentuh sarung bantal itu, tidak ada kelembutan yang menyambut. Sebaliknya, aku merasakan kain katun tersebut menegang, merapat ke pelipisku dengan presisi yang ganjil. Ia seolah sedang melakukan pemindaian.

Mungkin hanya perasaanku saja. Aku berusaha bangkit, tetapi tubuhku terus ditarik kembali.

Aku bisa merasakan serat-serat benangnya merayap masuk ke dalam pori-pori, mencari sisa-sisa pikiran yang terselip di lipatan otak. Segala rutinitas yang kubanggakan—cara aku menyeduh kopi dan cara aku mengangguk kepada atasan—semuanya sedang disedot keluar, dianggap sebagai residu yang harus dibersihkan.

Mereka melakukannya dengan penuh paksaan. Tidak ada anamnesis. Tidak ada informed consent yang disodorkan. Prosedurnya sangat amburadul. Aku disuntik anestesi, tetapi sarafku justru tetap merasakan nyeri yang perlahan-lahan menusuk ke tulang.

​Lalu, sprei di bawah punggungku turut bereaksi. Permukaannya menyerupai hamparan silet mikroskopis. Aku bisa merasakan setiap helai benang mulai membedah kulit punggungku. Mereka masuk ke bawah dermis, merayap di antara celah tulang belakang, meraba-raba identitas yang selama ini aku yakini sebagai "hidup yang aman”.

Benang-benang itu kemudian mengeras, menjadi mata pisau dan bor. Mereka memetakan jalur di kulit kepalaku, lalu memisahkan lapisan daging dari tulang.

Saat penampang tengkorakku terangkat, aku mendengar bunyi halus yang menyesakkan. Mereka bilang ingin masuk lebih dalam. Dokter menyebutnya kraniotomi. Namun, mereka bukan tenaga ahli yang terbiasa melakukannya. Mereka seharusnya hanya benda-benda yang ada di atas brankar.

Aku tidak memiliki cacat yang perlu diperbaiki atau dikoreksi. Aku yakin itu. Kasur ini lebih dari sekadar melakukan malpraktik, ia sedang melakukan autopsi pada orang hidup.

Sayangnya, aku kehilangan daya. Aku bahkan tidak bisa membalikkan badan. Tubuhku seakan kehilangan mandat atas otot-ototnya.

Aku terpaku, menatap jam beker yang detiknya berkedip pelan dan kemeja biru yang berayun lirih. Mereka hanya diam, tidak berusaha sedikit pun untuk membantuku. Sementara, di bawah selimut, kakiku memanjang bersama seutas benang—seperti tengah diukur untuk dimasukkan ke dalam peti.

Selimut ini bukan lagi pelindung. Ia adalah timbangan yang sedang menghitung sisa masa depanku. Ia menindih tulang keringku, memaksaku membayangkan hari di mana aku tidak akan lagi bangun dengan rambut klimis dan dasi menggantung di leher.

​Tempat tidur ini telah menjadi laboratorium. Ia membedah lapisan demi lapisan hari esokku yang lurus, mencari tahu tentang sesuatu yang tersembunyi di balik jadwal rapat dan cicilan apartemen.

Ia berkata dengan lantang, “Apa yang sebenarnya kamu banggakan? Kemapanan atau rutinitas?”

Pertanyaannya tidaklah sulit, tetapi aku tak bisa menjawabnya. Sebab, aku merasa menjalani semuanya dengan baik. Aku rutin memeriksa kesehatanku. Aku selalu mengendarai mobilku dengan penuh kehati-hatian. Tanggung jawab dan integritasku menjadi poin utama dalam menjaga karierku tetap di atas.

Aku selalu tahu arah. Aku paham cara memetakan hidupku. Mungkin, sebelum organ-organku dipreteli oleh tempat tidur ini.

Busa yang kutumpangi membentuk celah. Ukurannya mengikuti lekuk tubuhku. Aku terserap, terbujur tanpa bisa melawan.

Aku menatap langit-langit. Sprei mulai menjahit dirinya ke tulang rusukku. Hidupku yang stabil seolah hanyalah lapisan tipis kulit ari yang sekarang sedang dikelupas paksa oleh kain dan busa. Aku masih hidup, tetapi anatomi ini sudah selesai membedahku.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Horor
Flash
Anatomi Tempat Tidur
Jasma Ryadi
Skrip Film
Meow Kamu Kok Gentayangan
Lialuck777
Novel
Drowning in Blood
Zhein24Art
Flash
Bronze
Jurit Malam
Deeta Pratiwi
Cerpen
Bronze
Sunggar Kuntilanak
Dewie Sudarsh
Flash
Bronze
Pis Bolong
Bksai
Cerpen
Bronze
Demit Berambut Api
Sulistiyo Suparno
Flash
Bronze
Leak
Bksai
Cerpen
Tetanggaku yang Pendiam
Marion D'rossi
Cerpen
Bronze
Dunia dalam Semu
White Blossom
Novel
Sebeh Pengasih
Iswara Putri Jilan
Flash
Bronze
Lorong yang Tak Pernah Ada
NUR FARKAN
Cerpen
Bronze
Kabut Asap Pelabuhan
Christian Shonda Benyamin
Novel
Bunuh Diri
Muhammad Nasrulami
Cerpen
Bronze
Kasur depan TV itu
SIONE
Rekomendasi
Flash
Anatomi Tempat Tidur
Jasma Ryadi
Flash
Telepon
Jasma Ryadi
Flash
Badut Biru
Jasma Ryadi
Flash
Ketika Dosa Berbau
Jasma Ryadi
Flash
Diam yang Menghukum
Jasma Ryadi
Flash
Pelukan Tanah Basah
Jasma Ryadi
Novel
Karantina
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
Jatuh Cinta di Tahun Kelima
Jasma Ryadi
Flash
Republik Kucing
Jasma Ryadi
Flash
Tiga Ketukan Sunyi
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
Laut yang Tak Menjawab
Jasma Ryadi
Flash
Sosok yang Lain
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
Anto dan Sebatang Rokok
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
Shift Tiga
Jasma Ryadi
Flash
Ombak, Luka, dan Hal-Hal yang Tetap Datang
Jasma Ryadi