Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Horor
Anatomi Tempat Tidur
0
Suka
3,170
Dibaca

Semua berada di tempatnya. Jam beker di angka enam, kemeja biru di gantungan, dan aku di atas kasur empuk. Tidak ada yang salah dengan hidupku. Aku berfungsi sebagaimana mestinya: bekerja, makan, dan sekarang, tidur.

Hidupku bisa dikatakan sangat aman. Aku tidak memiliki masalah dalam memilih menu makanan. Baju baru, sepatu bermerek, hingga ponsel paling canggih bisa dibeli kapan pun aku mau. Isi rekeningku tidak pernah mengalami kekeringan. Tidak ada yang perlu aku khawatirkan.

Aku mencoba memejamkan mata setelah meneguk segelas susu hangat. Akan tetapi, aku merasa ada yang salah dengan bantalku. Rasanya begitu penuh, tidak seperti malam-malam biasanya.

​Saat kepalaku menyentuh sarung bantal itu, tidak ada kelembutan yang menyambut. Sebaliknya, aku merasakan kain katun tersebut menegang, merapat ke pelipisku dengan presisi yang ganjil. Ia seolah sedang melakukan pemindaian.

Mungkin hanya perasaanku saja. Aku berusaha bangkit, tetapi tubuhku terus ditarik kembali.

Aku bisa merasakan serat-serat benangnya merayap masuk ke dalam pori-pori, mencari sisa-sisa pikiran yang terselip di lipatan otak. Segala rutinitas yang kubanggakan—cara aku menyeduh kopi dan cara aku mengangguk kepada atasan—semuanya sedang disedot keluar, dianggap sebagai residu yang harus dibersihkan.

Mereka melakukannya dengan penuh paksaan. Tidak ada anamnesis. Tidak ada informed consent yang disodorkan. Prosedurnya sangat amburadul. Aku disuntik anestesi, tetapi sarafku justru tetap merasakan nyeri yang perlahan-lahan menusuk ke tulang.

​Lalu, sprei di bawah punggungku turut bereaksi. Permukaannya menyerupai hamparan silet mikroskopis. Aku bisa merasakan setiap helai benang mulai membedah kulit punggungku. Mereka masuk ke bawah dermis, merayap di antara celah tulang belakang, meraba-raba identitas yang selama ini aku yakini sebagai "hidup yang aman”.

Benang-benang itu kemudian mengeras, menjadi mata pisau dan bor. Mereka memetakan jalur di kulit kepalaku, lalu memisahkan lapisan daging dari tulang.

Saat penampang tengkorakku terangkat, aku mendengar bunyi halus yang menyesakkan. Mereka bilang ingin masuk lebih dalam. Dokter menyebutnya kraniotomi. Namun, mereka bukan tenaga ahli yang terbiasa melakukannya. Mereka seharusnya hanya benda-benda yang ada di atas brankar.

Aku tidak memiliki cacat yang perlu diperbaiki atau dikoreksi. Aku yakin itu. Kasur ini lebih dari sekadar melakukan malpraktik, ia sedang melakukan autopsi pada orang hidup.

Sayangnya, aku kehilangan daya. Aku bahkan tidak bisa membalikkan badan. Tubuhku seakan kehilangan mandat atas otot-ototnya.

Aku terpaku, menatap jam beker yang detiknya berkedip pelan dan kemeja biru yang berayun lirih. Mereka hanya diam, tidak berusaha sedikit pun untuk membantuku. Sementara, di bawah selimut, kakiku memanjang bersama seutas benang—seperti tengah diukur untuk dimasukkan ke dalam peti.

Selimut ini bukan lagi pelindung. Ia adalah timbangan yang sedang menghitung sisa masa depanku. Ia menindih tulang keringku, memaksaku membayangkan hari di mana aku tidak akan lagi bangun dengan rambut klimis dan dasi menggantung di leher.

​Tempat tidur ini telah menjadi laboratorium. Ia membedah lapisan demi lapisan hari esokku yang lurus, mencari tahu tentang sesuatu yang tersembunyi di balik jadwal rapat dan cicilan apartemen.

Ia berkata dengan lantang, “Apa yang sebenarnya kamu banggakan? Kemapanan atau rutinitas?”

Pertanyaannya tidaklah sulit, tetapi aku tak bisa menjawabnya. Sebab, aku merasa menjalani semuanya dengan baik. Aku rutin memeriksa kesehatanku. Aku selalu mengendarai mobilku dengan penuh kehati-hatian. Tanggung jawab dan integritasku menjadi poin utama dalam menjaga karierku tetap di atas.

Aku selalu tahu arah. Aku paham cara memetakan hidupku. Mungkin, sebelum organ-organku dipreteli oleh tempat tidur ini.

Busa yang kutumpangi membentuk celah. Ukurannya mengikuti lekuk tubuhku. Aku terserap, terbujur tanpa bisa melawan.

Aku menatap langit-langit. Sprei mulai menjahit dirinya ke tulang rusukku. Hidupku yang stabil seolah hanyalah lapisan tipis kulit ari yang sekarang sedang dikelupas paksa oleh kain dan busa. Aku masih hidup, tetapi anatomi ini sudah selesai membedahku.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Horor
Flash
Anatomi Tempat Tidur
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
Terkutuk
Christian Shonda Benyamin
Novel
Bronze
Potjong Djahanam
Potjong Djahanam
Novel
Bronze
PANTI (Resting Place of the Ancestor Spirits)
Awang Haripin
Novel
KALAP DI YOGJA
fatimah
Flash
Who Is?
Via S Kim
Flash
The Puppet Master
Rama Sudeta A
Flash
Negeri Cermin
BANYUBIRU
Skrip Film
Thalatha
Devichy
Novel
Bronze
Ruwatan Misteri
Nurul Adiyanti
Cerpen
Topeng di Kamar Bapak
Lirin Kartini
Novel
Gold
Fantasteen Saving Ludo
Mizan Publishing
Novel
Bronze
Wajah Lain di Lukisan Rumah Majikanku
Bella Paring Gusti
Novel
Jangan Tidur di Sekolah
abil kurdi
Cerpen
Bronze
Hidup Di Dunia Lain
Christian Shonda Benyamin
Rekomendasi
Flash
Anatomi Tempat Tidur
Jasma Ryadi
Flash
Mengapa Aku Belum Mati?
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
Reuni di Bangku Cadangan
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
Kembalinya Sang Penari
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
Bingkai Tak Berujung
Jasma Ryadi
Flash
Mengapa Harus Ada Cinta dalam Pernikahan
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
Tanganku di Timur, Hatimu di Barat
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
Kota Kosong
Jasma Ryadi
Flash
Dahlia
Jasma Ryadi
Flash
Jadikan Aku Selingkuhanmu
Jasma Ryadi
Flash
Mengasuh Sabar
Jasma Ryadi
Flash
Badut Biru
Jasma Ryadi
Flash
Aku atau Dia
Jasma Ryadi
Flash
Terminal
Jasma Ryadi
Flash
Rumah Tanpa Isinya
Jasma Ryadi