Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Drama
Orang Asing di Ujung Jembatan
0
Suka
3
Dibaca

Gadis itu berdiri di atas jembatan, saat hujan paling deras sedang mengguyur kota, tangannya memegang plastik bening berisi ikan cupang.

Sweater abu-abunya terlalu tipis untuk udara sedingin itu. Ia berdiri di balik pagar pembatas, satu langkah lagi menuju jatuh.

Tapi anehnya, yang ia genggam justru ikan kecil berwarna merah-biru yang terus bergerak gelisah dalam plastik.

“Aku bingung,” katanya pelan pada ikan itu. “Kalau aku mati, kamu ikut mati juga nggak?”

“Kalau dilempar ke sungai dulu, kemungkinan hidup.”

Suara laki-laki tiba-tiba muncul dari belakang mengejutkannya.

Liona, gadis itu menoleh cepat.

Seorang laki-laki tinggi duduk di atas pagar jembatan. Jaket hitamnya basah kuyup, wajahnya pucat pasi bekas dihempas hujan seperti juga Liona.

Tapi yang membuat Liona merinding, di samping Denis, laki-laki itu ada koper besar.

“Lo mau kabur?” tanya Liona hati-hati.

Denis menggeleng.

“Di dalem koper ada abu jenazah nyokap gue.”

Liona menatap koper itu lama, sedikit terkejut dan gemetar.

“Lo bercanda?”

“Sayangnya enggak.”

Denis tertawa, tapi tawanya terdengar aneh diantara derai hujan.

“Nyokap gue pengin dikubur di kampung. Tapi gue ngga punya uang buat pulangin beliau. Jadi yaudah.”

Ia mengangkat bahu.

“Sekalian aja gue nyusul.”

Kalimat itu diucapkannya terdengar sedih.

Liona menelan ludah.

Diantara sunyi mereka cuma mendengar suara hujan dan kendaraan jauh di bawah sana.

“Aneh,” gumam Liona.

“Apa?”

“Biasanya orang yang mau bunuh diri bawa surat wasiat.”

Ia mengangkat plastik ikan cupangnya.

“Gue malah bawa ikan.”

Denis tersenyum.

“Biasanya orang bunuh diri juga ngga ngajak emak.”

Liona akhirnya tertawa juga.

“Apa alasan lo?” tanya Denis setelah lama diam.

Liona menatap sungai di bawah.

“Gue capek jadi orang yang hidup cuma buat mengecewakan orang lain.”

Ia menarik napas, lalu mendengus.

“Nyokap gue bilang gue cantik. Tapi, cantik doang ternyata ngga cukup, malah jadi sumber bencana.”

“Untuk?”

“Buat diserang orang.”

Denis memilih diam, tak bertanya.

Liona melanjutkan dengan kesal.

“Ayah gue selingkuh sama guru piano gue sendiri, dan anehnya perempuan itu bilang salah gue.”

“Hah, apa kaitannya?”

“Katanya ayah gue nyaman sama dia karena gue terlalu depresi di rumah.”

Kalimat itu terdengar menyakitkan.

“Sejak itu gue mikir, mungkin semua orang bakal lebih lega kalau gue ngga ada.”

Denis turun ke pembatas jembatan disisi Leona.

“Kalau gue, karena gagal jadi anak.”

Liona melirik.

“Nyokap gue sakit dua tahun. Gue kerja apa aja, jadi kurir, tukang cuci motor, penjaga warnet. Tapi tetap aja kurang.”

“Pas beliau meninggal, hal terakhir yang beliau bilang malah minta maaf karena udah bikin gue susah.”

Suaranya mulai pecah.

“Padahal yang gagal gue.”

Liona memandang Denis diam-diam.

Ia terlihat seperti seseorang yang merasa kuat sampai akhirnya lupa cara menangis.

Tiba-tiba plastik ikan cupang di tangan Liona bocor.

Air menetes dari ujung plastik.

“Yah, gimana nih?”

Denis melirik.

“Ikannya mau mati tuh.”

Liona panik.

“Gimana dong?”

“Kasih ke gue.”

Denis membuka koper abu jenazah ibunya.

Liona refleks membelalak.

“ANJIR LO NGAPAIN?”

“Tenang.”

Dari dalam koper ternyata ada stoples kaca besar bekas biskuit yang berisi air, dan di sebelahnya gumpalan abu dalam guci putih kecil.

Liona terdiam.

Denis memindahkan ikan cupang itu perlahan ke stoples.

“Ibu gue suka melihara ikan,” katanya pelan. "Air ini sebenarnya akan aku siramkan bersama abu ibuku."

Ikan kecil itu berenang cepat seolah baru diselamatkan dari sesuatu.

Mereka berdua sama-sama memandanginya.

Dan akhirnya tak ada yang jadi melompat malam itu.

“Lucu ya,” kata Liona lirih.

“Kita mau mati, tapi malah nolong ikan yang mau mati.”

Denis menatap stoples peninggalan ibunya itu lama.

“Mungkin manusia emang aneh.”

Lalu kata Denis,

“Lo tau ngga hal paling nyebelin dari bunuh diri?”

“Apa?”

“Kadang bukan karena pengin mati.”

Ia menatap sungai di bawahnya yang arusnya deras.

“Tapi karena udah ngga tau gimana cara hidup.”

Kata-katanya terasa seperti desakan butiran hujan yang keras.

Baru kali ini Liona benar-benar mengerti isi kepalanya tanpa perlu dijelaskan panjang lebar.

Mata Liona mulai basah.

“Kalau kita pulang malam ini,” suaranya bergetar, “besok bakal tetap buruk ya?”

Denis mengangguk.

“Iya.”

“Masalah kita juga ngga bakal hilang?”

“Iya.”

“Kesepian juga tetap ada?”

“Iya.”

“Terus buat apa bertahan, bukankah lebih baik mati saja?”

Denis diam cukup lama.

Sampai akhirnya ia menunjuk ikan cupang kecil yang berenang di stoples.

“Karena kadang hidup ngga langsung jadi baik.”

Lalu Ia tersenyum.

“Tapi bisa jadi sedikit nggak sekarat, begitu menurutku.”

Liona menangis, tangisan seseorang yang akhirnya bisa merasa lelah.

***

Menjelang subuh, hujan berhenti. Kota mulai hidup perlahan.

Denis berdiri sambil mengangkat koper ibunya.

“Lo mau ke mana?” tanya Liona.

“Terminal.”

“Buat pulangin ibu lo?”

“Iya.”

Liona mengangguk pelan.

Lalu tanpa sadar berkata,

“Kalau nanti gue pengin bunuh diri lagi gimana?”

Denis berpikir sebentar.

“Chat gue.”

“Kalau lo juga lagi pengin mati?”

“Ya kita batalin bareng-bareng.”

Mereka berdua tersenyum.

Saat Denis berjalan menjauh membawa koper dan stoples ikan cupang itu, Liona sadar sesuatu.

Ternyata manusia tidak selalu diselamatkan oleh cinta, kadang malah oleh orang asing yang sama hancurnya, dan seekor ikan cupang.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Novel
Bronze
Aegis of Us
Arslan Cealach
Novel
Besties
Adila Afrida Z.
Novel
MEMO PLEDOI SAKTI MAHASISWA
Ayyub Ansori
Skrip Film
RETORIKA IBU
Lukyana Arsa
Flash
Bronze
BERBISIK UNTUK BERNAFAS
Yadani Febi
Flash
Bronze
TANDA SERU
Yadani Febi
Flash
Orang Asing di Ujung Jembatan
Hans Wysiwyg
Novel
Bronze
Fadilat CInta
Revia
Novel
Permaisuri Mati suri
Sarjana Goblok
Novel
Gold
Happiness is You
Bentang Pustaka
Novel
ADENA
Canza Kirana Salsabila
Skrip Film
Penantian dalam angan dan harapan
Ihsanul Essel Rusmiland
Flash
Jalan Panjang Berbintang
Martha Z. ElKutuby
Flash
ISTRIKU
Embart nugroho
Cerpen
Warna-Warna Palsu
Rakanta
Rekomendasi
Flash
Orang Asing di Ujung Jembatan
Hans Wysiwyg
Flash
Sebuah Pohon Sebuah Hidup
Hans Wysiwyg
Cerpen
Kenapa Harus Dia?
Hans Wysiwyg
Flash
Kesempatan Kedua
Hans Wysiwyg
Flash
Kesempatan Kedua (the end)
Hans Wysiwyg
Cerpen
Pamit
Hans Wysiwyg
Flash
Titik Nol
Hans Wysiwyg
Flash
IBU, AKU DAN DIA
Hans Wysiwyg
Flash
Summer yang Tak Pernah Hilang
Hans Wysiwyg
Cerpen
MESIN WAKTU
Hans Wysiwyg
Flash
Dinda
Hans Wysiwyg
Flash
Jatuh Cinta, Ternyata....
Hans Wysiwyg
Flash
SAM DAN MESIN UANGNYA
Hans Wysiwyg
Flash
Gadis Kecil Di Trotoar
Hans Wysiwyg
Flash
ONLY-- Sometime Truth is Cruel
Hans Wysiwyg