Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Pak Bambang, Dosen mata kuliah Kapita Selekta Fisika tersenyum tipis. Jenis senyum yang biasanya menandakan akan diadakannya ujian, tapi kali ini terasa berbeda. Ia menuliskan sebuah kata besar di papan tulis: RINDU.
"Hari ini kita tidak bicara tentang hukum Newton secara harfiah," ia mulai menggambar dua buah lingkaran.
"Dalam Fisika, massa yang besar akan menarik benda di sekitarnya. Begitu juga kamu, Rani," Pak Bambang menunjuk Rani yang sedang asyik main HP. "Massa kenanganmu terhadap mantan itu terlalu besar, makanya kamu sulit lepas dari orbitnya. Kamu bukan gagal move on, kamu hanya sedang mematuhi Hukum Gravitasi Universal."
Di atas bingkai kacamatanya yang menggantung pada hidung mungilnya, kedua mata Rani melirik ke kanan.
Pak Bambang menuliskan rumus.
"Perhatikan variabel jarak ini," jelasnya sambil mengetuk-ngetuk spidol. "Semakin kecil jaraknya, semakin besar gayanya. Itulah kenapa kalau kita duduk berdekatan, deg-degannya bukan karena aritma jantung, tapi karena gaya tarik kita mencapai nilai maksimum. Tapi ingat, kalau jarak mendekati nol, gayanya jadi tak terhingga. Itulah yang kita sebut dengan ... pelukan."
"Eaaaaa!" seisi kelas mulai riuh.
"Menurut Einstein, gravitasi bisa melengkungkan ruang dan waktu," lanjut Pak Bambang dengan mata berbinar. "Sama seperti rindu. Lima menit menunggu balasan chat darinya terasa seperti lima tahun cahaya. Kenapa? Karena massa rindumu membuat waktu di sekitarmu melambat secara ekstrem. Kamu tidak sedang menunggu, kamu sedang terjebak di dalam Black Hole harapan."
Belum reda keriuhan di dalam kelas, Miftah mengangkat tangan. "Pak, kalau rindu saya tak terbalas bagaimana?"
Pak Bambang menghela napas prihatin. "Itu namanya Gaya Sentrifugal, Mif. Kamu berusaha mendekat ke pusat, tapi keadaan memaksamu terpental keluar dari lingkaran kehidupannya. Sakit, tapi begitulah hukum alam."
Pak Bambang merapikan kerah bajunya. "Kesimpulannya, jangan melawan rindu. Karena melawan rindu itu seperti mencoba melawan gravitasi bumi tanpa mesin roket. Kamu akan jatuh, dan jatuhnya pasti ke hati yang salah kalau tidak hati-hati."
"Bagaimana jika rindu hadir tanpa status?" Salah satu mahasiswa bertanya.
Pak Bambang menghapus papan tulis dengan semangat, lalu membuat grafik fluktuatif.
"Dalam Hukum Kedua Termodinamika, ada yang namanya Entropi. Semakin lama sebuah sistem dibiarkan, maka kekacauannya akan meningkat," Pak Bambang menatap tajam ke arah Budi yang rambutnya berantakan.
"Begitu juga hubungan tanpa status. Semakin lama kalian biarkan tanpa kepastian, entropinya meningkat. Hati kalian akan berantakan secara spontan. Jadi, kalau tidak mau hatimu hancur menurut hukum alam, segera lakukan usaha. Nyatakan cinta, atau sistem kalian akan meledak karena tekanan batin!"
"Goks!" Budi tepuk tangan sekali, lalu acungkan tiga jari ala anak band metal.
"Lalu, bagaimana dengan kalian yang ingin melupakan?" Pak Bambang berjalan mondar-mandir di depan kelas.
"Kalian butuh yang namanya Escape Velocity atau kecepatan lepas. Untuk keluar dari gravitasi Bumi, roket butuh kecepatan 11 km/detik."
Pak Bambang edarkan pandangannya ke seluruh mahasiswa.
"Tapi untuk keluar dari tarikan bayang-bayang mantan, kalian butuh kecepatan niat yang lebih besar dari itu. Kalau niatmu cuma setengah-setengah, kamu akan jatuh lagi ke atmosfer kenangan, terbakar oleh api cemburu, dan jatuh berdebam di permukaan kegalauan yang sama."
Miftah kembali nyeletuk, "Pak, kalau saya sudah lari secepat kilat tapi dia tetap mengejar di pikiran gimana?"
Pak Bambang tersenyum simpul. "Itu artinya dia adalah Materi Gelap (Dark Matter), Mif. Tidak terlihat, tapi efek gravitasinya mengontrol seluruh galaksi pikiranmu. Kamu butuh Ruqyah Fisika untuk itu."
Riuh semakin menjadi.
Pak Bambang mengambil sebuah prisma kaca dari lemari praktikum. Ia mengarahkannya ke cahaya matahari yang masuk dari jendela.
"Kalian lihat pelangi ini? Cahaya putih dibiaskan menjadi merah, jingga, kuning, hijau ... Ini persis seperti saat kamu menatap matanya. Dunia yang tadinya hitam putih karena skripsi, tiba-tiba terdispersi menjadi warna-warni harapan."
Dosen itu mendelik pada mahasiswi yang cekikikan.
"Tapi hati-hati dengan cahaya Inframerah."
"Kenapa Pak?" tanya Tugiman penasaran.
"Karena dia tidak terlihat, tapi panasnya terasa. Seperti melihat dia jalan sama orang lain. Tidak ada kontak fisik, tapi hatimu mengalami pemanasan global."
"Huuu ... Geraaah ...." Celetuk Nimas sambil kipas-kipas buku di tangannya.
Pak Bambang menghampiri kursinya, lalu meneguk air putih yang sejak tadi teronggok di atas mejanya. "Terakhir, ingat rumus tekanan."
"Semakin dalam perasaanmu terpendam, semakin besar tekanan yang kamu rasakan. Itulah kenapa orang yang memendam rindu sering sesak napas. Bukan karena asma, tapi karena dia sedang berada di dasar samudera perasaan tanpa membawa tabung oksigen kepastian."
"Ada tugas untuk minggu depan, Pak?" tanya Trumpijo seorang mahasiswa paling rajin.
Pak Bambang memakai kacamata anti UV. "Tidak ada tugas. Pergi dan carilah massa yang setara dengan hatimu, lalu buatlah orbit yang stabil."
"Sekarang, silakan keluar. Pergi ke kantin, temui massa dambaan kalian, dan terapkan hukum Aksi-Reaksi. Kalau kamu memberi aksi berupa perhatian, dan dia tidak memberi reaksi, itu artinya dia bukan benda padat, dia hanyalah fatamorgana yang lewat di padang pasir jomblo kalian."
Nada dering Soundtrack Interstellar terdengar dari ponsel Pak Bambang, menemani langkahnya keluar ruangan, meninggalkan mahasiswa yang tumbang karena dosis gombal yang melampaui ambang batas normal.