Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
"Will you marry me?"
"Yes, I will."
James mengerjapkan mata, terpaku menatap sepasang mata yang melengkung membentuk bulan sabit di hadapannya.
Kiara tersenyum lebar—mungkin terlalu lebar karena luapan alkohol yang membuncah di sekujur tubuhnya. Tangan James yang sejak tadi melingkari pinggang Kiara semakin merapat, menarik tubuh gadis itu hingga kini tubuh mereka seolah melebur menjadi satu.
"I mean, right now. Here. In Vegas. Let me make you Mrs. Tiffin officially."
Tawa Kiara pecah, suara yang terdengar begitu sumbang dan lepas, diperkuat oleh pengaruh alkohol yang entah sudah berapa gelas ia tenggak tadi saat mereka berada di salah satu klub malam paling bergengsi di Las Vegas.
Kiara mengangguk-angguk cepat dengan gerakan polos seperti anak kecil. Kedua tangannya kini berpindah, melingkar di leher James, bergelayut manja persis seperti bocah lima tahun yang tak ingin dilepaskan.
"Ayo, James. Aku bilang juga ayo! Kita lakukan saja apa pun yang kita inginkan di sini, di Vegas. Sebelum lusa kita harus terbang kembali ke London dan terjun lagi menghadapi realita. Aku tidak mau membuang waktu kita di Vegas tanpa melakukan sesuatu yang berarti bersamamu."
James tahu bahwa kata-kata yang baru saja meluncur itu bukanlah ucapan Kiara yang ia kenal dalam keadaan Kiara sadar sepenuhnya.
Wajah gadis itu bersemu merah, dengan mata setengah sayu yang anehnya terlihat luar biasa cantik. Rambut panjangnya yang sedikit bergelombang tergerai indah dan sesekali menari tertiup angin malam. Bingkai wajahnya yang sungguh manis itu seketika membuat dada James dirayapi rasa sesak oleh besarnya rasa cinta James untuk Kiara yang tidak dapat lagi ia bendung.
"Kiara, you are so much drunk right now," James terkekeh pelan, jemarinya bergerak lembut menyingkirkan helaian rambut yang menutupi wajah Kiara karena hembusan angin.
Ia kembali menyesap setiap inci wajah Kiara ke dalam ingatannya. Selama setahun menjadi kekasih Kiara, tak sedetik pun terlintas di benak James untuk memalingkan pandangan ke gadis lain. Hingga detik ini pun, mata James selalu berpendar gelisah mencari keberadaan Kiara setiap kali ia melangkah masuk ke dalam suatu ruangan. Bahkan setelah satu tahun berlalu, sejak ia resmi menjadi kekasih Kiara, perasaan James masih tetap sama berbunganya seperti saat pertama kali ia jatuh cinta pada Kiara.
Mungkin di mata Kiara saat ini,James juga sedang mabuk berat hingga begitu impulsif mengajak Kiara menikah. Itu juga sebabnya Kiara langsung mengiyakan saja, karena dalam benak Kiara, James hanya bercanda saja.
James kemudian merogoh saku celananya, mengeluarkan dua benda kecil berwarna hitam. Ia membuka telapak tangannya di depan Kiara, memamerkan sepasang cincin hitam yang sudah nyaris sebulan ini ia simpan rapat-rapat.
Kiara menunduk, mengamati dua cincin tanpa ukiran berwarna hitam dengan ukuran berbeda di telapak tangan James. Pandangannya kembali terangkat, mencari jawaban di dalam netra kehijauan milik James yang kini tengah menunggu reaksi Kiara.
Namun sebelum Kiara sempat bersuara, James segera memotongnya dengan suara lembut.
"I’m really serious about what I said, Kiara."
James menunggu respon Kiara, yang kini tampak mematung tanpa suara sedikitpun. Jika tadi Kiara langsung mengiyakan dengan tawa nya yang berderai ringan, kini gadis itu hanya bisa bergeming.
"Aku sungguh mencintaimu sampai rasanya sakit, membayangkan satu hari saja tanpa kamu di samping aku. Jadi, ayo, biarkan hati aku tenang dengan membuat kamu jadi istri aku. Disini, di Vegas.”
Kiara masih terdiam, seraya mengerjapkan matanya pelan.
James menghela napas panjang, lalu berkata dengan nada memohon.
"So, marry me, please?"
Untuk satu detik penuh penantian yang terasa begitu lambat, senyum Kiara perlahan kembali merekah.
Kiara bergerak untuk menyurukkan wajahnya ke hadapan James, mendaratkan sebuah ciuman singkat di bibir pria itu sebelum akhirnya Kiara membisikkan jawaban yang dinanti James.
"Let's do it, Mr. Tiffin. Let's make us official in Vegas, even only for two days. Anggap saja sebagai pemanasan untuk pernikahan kita suatu hari nanti di masa depan. Because like many people says, what happened in Las Vegas, stays in Las Vegas."
Kiara kembali mengeratkan pelukannya di leher James dengan tawa bahagia kembali mengudara. Sama sekali tidak menyadari perubahan air muka di wajah James.
Kali ini James tidak menyahut. Cowok itu hanya mampu tersenyum tipis, senyum yang selalu punya arti lain yang saat ini bahkan tidak disadari Kiara yang sudah terlanjur mabuk hebat.
Bagi Kiara, membiarkan James menikahinya di Vegas hanyalah bagian dari permainan gila dua orang yang sedang nyaris tak sadarkan diri. Karena bagi gadis itu, tidak ada yang pernah dianggap serius di Las Vegas. Kiara sangat yakin, ajakan James ini hanyalah salah satu cara untuk mereka lebih bersenang-senang, layaknya turis yang mabuk dan melakukan hal impulsif yang bisa dibatalkan besok pagi.
Yang tidak Kiara ketahui adalah, tidak semua hal di Las Vegas di anggap main-main. Di balik gemerlapnya kehidupan dan hiburan yang kota ini tawarkan pada dunia, bahkan setiap janji yang di ukirkan di depan pendeta akan tetap dicatat oleh negara bagian Nevada sebagai ikatan perkawinan yang sah secara hukum.
Dan ketika janji mereka sudah terikat secara sah, untuk membatalkannya pun tidak semudah menjentikkan jari.
James sengaja menelan kenyataan itu bulat-bulat untuk dirinya sendiri.
Sementara ini, ia memilih untuk bersikap egois, atau bahkan yang lebih tepatnya, jahat. Semua itu dilakukan James demi bisa memiliki Kiara sepenuhnya. Demi sebuah ketenangan bagi jiwa James yang lelah memikirkan kemungkinan Kiara akan pergi jika James tidak segera bertindak sejauh ini. Apalagi semenjak kesibukan mereka sebagai mahasiswa yang kini sering kali menciptakan bentangan jarak hingga memicu pertengkaran hebat setiap kali mereka bertemu.
James ingin memiliki Kiara selamanya, walaupun jauh di dalam lubuk hati James, ia tahu cara ini salah total.
Tapi atas nama cinta, James bersumpah akan melakukan apapun, agar Kiara tidak punya kesempatan untuk berpaling dari James. Meskipun caranya harus dengan menjerat Kiara dalam ikatan suci berbentuk janji sehidup semati di depan pendeta nanti.
James harus menjadikan Kiara miliknya, sekalipun besok pagi Kiara akan terbangun dan menyadari kesalahan yang telah mereka lakukan, hingga membuat gadis itu nantinya harus menghujamkan belati tepat di jantung James tanpa pikir panjang, atas pernikahan impulsif yang mereka lakukan di Las Vegas malam ini.