Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Komedi
Ke Mana Perginya Semua Barang?
0
Suka
2
Dibaca
Flash Fiction ini masih diperiksa oleh kurator

Jika kamu sering merasa ada sosok yang memperhatikanmu diam-diam padahal tidak ada siapa-siapa, jangan percaya diri terlebih dahulu dan simpan bulu kudukmu untuk lain waktu. Mungkin sosok tersebut bukanlah manusia, bukan juga mereka yang tak kasat mata, tapi mereka adalah barang-barang di sekitarmu. Hah, kok bisa? Iya lah, bisa. Aku adalah Tele, kependekan dari Televisi, dan aku sudah bertahun-tahun memperhatikan manusia. Maksudku manusia yang tinggal bersamaku, juga barang-barang yang lain.

Sudah berapa lama aku ada di sini, ya? Aku sendiri tidak bisa menghitungnya karena aku tidak punya jari untuk menghitung. Tapi yang jelas, aku sudah lumayan lama di sini. Aku ingat saat pertama kali manusiaku yang bernama Ricky membawaku ke rumah ini.

Saat itu memang sedang gempar-gemparnya Smart TV dan aku termasuk ke dalam golongan televisi pintar. Keren, kan? Tidak perlu waktu yang lama bagiku dan teman-temanku untuk ditugaskan ke tempat lain, dalam arti, dibeli untuk nantinya diletakkan di suatu tempat baru. Ada yang ditempatkan di kantor, rumah sakit, sedangkan aku ditempatkan di rumah bujang. Tidak keren sama sekali.

Pada awalnya, Ricky selalu membuatku bekerja tanpa kenal lelah. Aku tidak bisa beristirahat dengan tenang karena dia gemar sekali menyalakan televisi dari pagi sampai malam, entah itu untuk menonton atau bermain video game. Bahkan ketika lampu, penanak nasi, dan kompor sudah terlelap, aku masih terjaga. Kadang, aku berharap supaya Ricky mengabaikan keberadaanku sehingga aku bisa istirahat, atau setidaknya bernapas, dan sekarang harapanku telah dikabulkan.

Semenjak ada anak baru bernama laptop dan handphone, keberadaanku sudah mulai tidak berarti baginya karena aku dengar dari yang lain bahwa mereka memiliki fungsi yang sama denganku. Ricky bisa menonton dan bermain game sekaligus melalui laptop dan handphone. Bukan hanya itu, mereka juga bisa dibawa ke mana-mana.

Berbagai macam perasaan berkecamuk dalam diriku saat itu. Ada perasaan lega, iri, dan kecewa. Aku kira Ricky menganggapku sebagai sahabat baiknya karena ia paling sering berinteraksi denganku, namun ternyata aku salah. Ah, aku jadi teringat kisah sedih penghuni paling lama di rumah ini yang sudah pindah beberapa tahun yang lalu. Kita semua memanggilnya Pak Tua. Dia adalah jam lawas yang diwariskan oleh kakek Ricky. Aku bahkan tidak bisa membayangkan sudah berapa abad dia lewati untuk melihat pertumbuhan manusia dan perubahan dunia.

Apakah aku akan berakhir seperti Pak Tua? Tapi kan aku baru hidup selama beberapa tahun dan aku modern, tidak seperti Pak Tua. Saat aku tenggelam dalam pikiranku, aku melihat dua pasang kaus kaki lama melarikan diri pelan-pelan. Sontak, aku beteriak, “Hei, mau ke mana kalian?”

“Pergi jalan-jalan.” Ucap sebuah kaus kaki.

“Nanti balik lagi?” tanyaku, penasaran.

“Untuk apa? Lagi pula, Ricky sudah tidak membutuhkan kita. Apa kamu ingat terakhir kali kita terlihat bersih?” Ucap sebuah kaus kaki lainnya.

Perkataan yang keluar dari kaus kaki tersebut ada benarnya juga. Aku tidak ingat kapan terakhir kali mereka terlihat bersih. Aku kira mereka memang terlihat lusuh dari sananya. Dan juga, apakah mereka tadi barusan keluar dari bawah sofa?

“Sudahlah, Tele. Biarkan mereka pergi. Mereka memilih pergi sendiri daripada dibuang. Itu menghancurkan ego mereka. Ada untungnya juga terlihat kecil dan remeh; mereka akan luput dari pandangan Ricky. Coba kalau kita yang pergi, Ricky akan mengira bahwa ada yang baru saja merampok rumahnya.” Sofa yang melindungi dua pasang kaus kaki tersebut angkat bicara.

Mendengar hal itu, aku jadi merasa jengkel karena aku tidak bisa melarikan diri walaupun masa jabatanku sudah bisa dibilang selesai. Ya, selesai, karena Ricky sudah tidak menggunakanku lagi. Tapi apa boleh buat, sepertinya aku harus menunggu untuk sementara waktu sampai Ricky akhirnya membuangku. Terdengar kasar memang, tapi barang sepertiku tidak memiliki hak bebas untuk menolak dan berbicara. Bisa repot jika manusia tahu bahwa barang-barang memiliki perasaan dan berbicara seperti mereka.

Waktu silih berganti dan aku melihat teman-teman seperjuanganku tidak ada lagi di sisiku, termasuk sofa. Entah ke mana sofa dipindahkan, namun Ricky membeli sofa baru tidak lama setelahnya. Aneh rasanya berhadapan dengan sofa baru. Dia jelas jauh lebih muda dariku karena penampilannya minimalis. Bukan hanya sofa, banyak barang-barang baru yang terlihat minimalis dan monoton. Rumah yang awalnya penuh warna ini tiba-tiba menjadi rumah yang suram. Hanya ada warna putih, hitam, dan abu-abu. Ah, apakah Ricky mempertahankanku karena aku berwarna hitam? Bisa jadi.

Sejak fenomena tersebut, aku selalu mewanti-wanti datangnya hari di mana Ricky akan membuangku. Aku sudah menyiapkan mental dan juga pidato perpisahan untuk berjaga-jaga, namun hal itu tidak pernah terjadi. Justru Ricky lah yang memutuskan untuk pindah. Aku lihat ia menatapku untuk waktu yang lama seperti menimbang-nimbang sesuatu. Kekesalanku memuncak saat aku melihat ia membawa laptop dan handphone bersamanya, namun meninggalkanku dalam keheningan total. Ini bahkan lebih sakit daripada sekadar dibuang atau dipindahkan ke tempat lain.

Sekarang, aku lah si Pak Tua itu karena aku menjadi penghuni paling lama di rumah ini. Ada pemilik baru yang menempati rumah ini setelah kepergian Ricky, dan aku hanya bisa mematung melihat mereka.

Jika kamu merasa ada yang memperhatikanmu, jangan takut terlebih dahulu. Mungkin itu hanya barang-barang di sekitarmu yang menatapmu dengan saksama, sambil berpikir kapan hendaknya mereka akan dilupakan dan pada akhirnya dibuang walaupun mereka masih berfungsi dengan baik.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Komedi
Flash
Ke Mana Perginya Semua Barang?
Moli
Flash
Main Bola
Suci Asdhan
Komik
KAOS HITAM
moris avisena
Komik
Tolong Kami! Detektif Sekolah!
akanehikaru
Flash
PETELOT (Jawa)
Call Me W
Flash
Bronze
Hantu koplak
penulis kacangan
Cerpen
Bronze
SURAT BUAT JEANY
Ranang Aji SP
Flash
Perilaku remaja saat hujan deras
Hendrysutiyono
Cerpen
Cemburu
cahyo laras
Flash
Bronze
Sombong, Angkuh, Arogan
Rere Valencia
Flash
Bronze
Makan Bergizi Gratis
Reyan Bewinda
Cerpen
Cinta Di Ladang Ranjau
cahyo laras
Flash
NYASAR
Cano
Komik
Siblings
Anintan Savytri
Flash
RIO
Hans Wysiwyg
Rekomendasi
Flash
Ke Mana Perginya Semua Barang?
Moli
Cerpen
Mekar di Antara Titik dan Koma
Moli