Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Ibu bangun pagi sekali, sewaktu bumi masih bersiap, sewaktu tirai gelap belum dibuka, sewaktu ayam jago bahkan belum berpentas.
Sampai sekarang aku masih penasaran, darimana asal tenaga yang luar biasa itu dia punya?
Hobiku dulu sewaktu masih kecil adalah melihat ibu memasak.
Aku masuk dapur masih sambil mengucek mata yang penuh dengan belek waktu ibu memasukkan beras ke dalam panci.
"Udah bangun?" tanyanya lembut.
Aku mengangguk, tapi tidak menjawab.
"Gak mau tidur lagi?" tanyanya lagi.
"Enggak mau," jawabku dengan suara serak khas orang baru bangun. "Ibu masak apa hari ini?"
"Tumis kacang panjang kesukaanmu. Terus nanti goreng tempe deh."
Mataku berbinar, mendengar tumis kacang membuatku senang seketika. "Beneran?!"
"Bener dong," kata Ibu sembari menutup pancinya lagi.
Aku mengambil duduk di sudut dapur, spot paling sempurnya dimana aku bisa menyaksikan semua keajaiban Ibu di wilayah kekuasannya.
Ibu berjalan ke arah meja dapur dan mulai maracik bumbunya.
"Ibu?" panggilku, kini aku mendekat ingin melihat dengan jelas ramuan apa yang Ibu buat.
"Hmm?"
"Bumbu buat tumis kacang apa aja? Kok bisa enak banget si," tanyaku sungguh-sungguh.
"Bumbunya? Apa yaa? Mmm ... bawang merah, bawang putih, cabe dikit aja, terus kencur ..., abis itu kasih garem, gula, sama micin dikit," jelas Ibu penuh perhatian.
"Banyak banget ya."
Tangan Ibu sepertinya sedang mencari sesuatu di keranjang bumbu, "yah .... Ibu gak ada kencur, keknya habis dari kemarin belum sempet beli lagi."
"Mau aku beliin?" tawarku.
Lagi-lagi Ibu terkekeh. "Gausah, masih gelap di luar. Kita pake seadanya aja."
"Haah? Emang bisa?"
"Bisa dong."
"Kan kurang satu bumbunya, Bu."
"Gakpapa, Ibu jamin rasanya pasti tetep enak."
Aku mendekatkan lagi kepalaku, melihat dari dekat rupa cobek Ibu yang sudah penuh dengan bumbu-bumbu, sebelum akhirnya melihat tangan Ibu dengan lihai mengulek dan menggerusnya seperti mesin yang bergerak cepat dan tepat.
"Ukurannya ini tadi gimana?"
"Ya dikira-kira, dibandingin sama kacang panjang yang mau kita masak seberapa. Secukupnya aja pokonya mah. Udah deh, jadi."
"Susah banget, kenapa gak ada ukuran pastinya, Bu?" tanyaku dengan sedikit nada kesal.
Sedari kecil aku sudah sangat tidak menyukai ukuran yang tidak pasti, seperti: secukupnya, seadanya, sesuai selera.
Bagaimana kita bisa tahu itu?
Ibu terkekeh, "itulah seninya masak, Nak."
Aku meleleh, marah kecilku hilang. Setiap mendengar panggilan 'Nak' dari Ibu selalu membuatku tenang dan senang. Entahlah, kalimat itu seperti mantra penenang dimana cuma Ibu yang bisa melakukannya.
"Kalau nunggu sempurna, kapan kita bisa mulainya?" tambah Ibu lagi.
Benar.
Dunia gak akan menunggu meskipun kita belum siap, meskipun kencur kita belum ada. Dunia akan tetap berjalan selayaknya waktunya.
Aku baru sadar sekarang, saat aku sudah dewasa. Gak ada aturan pakem buat dapur Ibu, bahan dan bumbu seadanya juga gakpapa, bagi Ibu gak perlu nunggu sempurna buat mulai masak, karena pada akhirnya dari masakan Ibu adalah niat Ibu yang paling tulus hingga sampai ke perut keluarganya.