Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Romantis
Heaven Can Wait
3
Suka
7,285
Dibaca

Aku sebenarnya bukan tipe cowok yang gampang terpesona sama perempuan.

Apalagi setelah jadi selebgram. Isi DM aja udah penuh. Tiap hari ada aja yang kirim foto, ngajak kenalan, sok akrab, bahkan ada yang tiba-tiba manggil “sayang” padahal ketemu aja belum pernah.

Makanya waktu pertama kali lihat Laras, aku kira dia juga sama saja.

Cantik, iya. Tapi cantik kan banyak macamnya.

Sampai akhirnya aku sadar, yang bikin berbahaya itu bukan wajahnya.

Tapi cara dia bikin orang merasa dianggap ada.

***

Hari itu Laras duduk di ujung sofa cafe sambil ngobrol sama beberapa orang. Biasa aja sih sebenarnya. Dia pakai sweater warna krem, rambutnya diikat asal, mukanya bahkan nggak terlalu full makeup. Tapi entah kenapa mataku nggak bisa pindah.

Aku memperhatikan dia cukup lama.

Cara dia dengerin orang bicara.

Apalagi waktu dia ketawa kecil sambil nutup mulut.

Terus pas dia selalu natap mata lawan bicaranya seolah orang itu penting banget.

Dan sialnya, aku mulai ikut nunggu dia ngomong.

“Iya terus gimana-gimana?”

Kalimat sesederhana itu, tapi pas Laras yang ngomong sambil sedikit maju mendekat, aku malah kayak orang bego yang mendadak lupa cara bernapas.

Gimana-gimana.

Padahal cuma dua kata itu aja.

Tapi dari mulut Laras, rasanya kayak ada orang yang akhirnya benar-benar mau dengerin hidupmu.

Aku bahkan jadi pengen cerita hal-hal random cuma supaya dia ngomong itu lagi.

Sejak saat itu aku jadi ngerti satu hal, perempuan ini bahaya. Bukan karena dia genit atau karena dia sengaja bikin orang jatuh hati.

Justru karena Laras terlalu tulus buat dunia yang isinya orang yang suka pura-pura.

Dia baik ke semua orang, itu masalahnya.

Ke barista dia senyum, ke anak kecil dia ngajak ngobrol, bahkan ke orang yang nyerempet bahunya aja dia malah bilang, “eh gapapa kok.”

Siapa coba yang nggak makin tenggelam?

Aku sampai mikir, Davian itu sebenernya manusia paling beruntung sedunia.

Tapi juga paling nyebelin, karena cowok itu posesifnya bukan main.

Tangannya selalu ada di pundak Laras.

Sedikit-sedikit nanya, “Sayang mau apa?”

Sedikit-sedikit, “Aku anter.”

Sedikit-sedikit natap orang kayak satpam komplek.

Apalagi kalau aku mulai ngobrol agak lama sama Laras, tatapan Davian langsung berubah kayak mau audit hidupku tujuh turunan.

Padahal aku cuma ngobrol.

Oke, ya tapi aku memang sambil senyum-senyum sendiri sih. Sambil perhatiin bulu mata Laras terlalu lama. Tapi tetap aja aku nggak ngapa-ngapain.

Masalahnya ya itu, kalau sudah lihat Laras dekat begini, rasanya susah buat biasa aja.

Ada perempuan yang cantik, ada perempuan yang menarik.

Tapi Laras beda.

Dia itu kayak rumah waktu hujan nyaman buat neduh.

Kayak lagu lama jam dua pagi, bikin tidur tambah pules.

Pokoknya kayak orang yang bisa bikin dunia mendadak lebih pelan dan lebih hangat.

Dan semakin lama lihat dia, aku makin ngerti kenapa banyak orang gampang sayang sama Laras.

Ya, karena bahkan cara dia manggil nama orang aja terdengar lembut.

“Gavin?”

Aku refleks nengok cepat.

“Hm?”

“Kamu kok diem aja sih dari tadi?”

Ya Tuhan.

Kalau surga memang ada antreannya, mungkin aku rela nunggu lebih lama.

Karena duduk lima menit di depan Laras aja rasanya udah cukup bikin hidup membaik.

Heaven can wait.

Serius.

Aku baru mau jawab waktu tiba-tiba sebuah tangan menarik kursi tepat di sebelah Laras.

Davian datang, dan seperti biasa, seluruh suasana langsung hancur rasanya.

Cowok itu duduk sambil melingkarkan tangan ke pinggang Laras tanpa dosa.

“Ngobrol apa?”

“Nggak ada,” jawab Laras santai.

Tapi Davian tetap menatapku, tatapan khas cowok posesif yang seolah bilang: gue tau lo suka pacar gue.

Aku mendecih pelan sambil menyandarkan badan.

Buyar sudah seluruh lamunanku.

Fatamorgana memang paling jago bikin orang lupa diri.

Tadi aku sempat berpikir dunia melambat waktu Laras tersenyum ke arahku, padahal nyatanya aku cuma penonton.

Cuma bisa lihat, nggak bisa punyai dia.

Mungkin memang itu takdir paling menyebalkan dari menyukai perempuan seperti Laras.

Dia terlalu indah untuk direbut, terlalu dicintai untuk disentuh sembarangan.

Sementara aku?

Aku cuma Jovi Gavin.

Selebgram “Roti Gabin” yang tiap malam bisa bikin ribuan orang ketawa di internet, tapi tetap kalah sama satu cowok bernama Davian yang bahkan nggak perlu melakukan apa-apa selain dipilih oleh Laras.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (3)
Rekomendasi dari Romantis
Flash
Senyum Sabit
Dhea FB
Flash
Heaven Can Wait
Hans Wysiwyg
Cerpen
Bronze
Jabir dan Juhu
Jie Jian
Novel
Bronze
Mahasiswa di balik layar
winda nurdiana
Novel
Hibat 2 - Sebuah Cinta untuk Aksa
Arina Unsiyati
Skrip Film
The Infinite Love Jilid II
Evita Fitria Sukma
Novel
Caffeine Serenade
Penamel
Novel
Bronze
Cinta Di Balik Jendela
Eko Hadisusilo
Flash
Anggap Aku Rumahmu
Reveniella
Novel
BENCI TAPI CINTA, CINTA TAPI BENCI
Najma Gita
Flash
MEMORIZE YOU
Iman Siputra
Flash
Bronze
Dongeng Paling Gila
Nuel Lubis
Novel
Bronze
BUKAN CEO MURAHAN (M.MANIS.S)
TUDI NURYANTO
Flash
Sesuatu yang Tidak Diketahui [AdoSou]
BellionaSF
Flash
Rome
rhxlle
Rekomendasi
Flash
Heaven Can Wait
Hans Wysiwyg
Flash
ORANG DALAM
Hans Wysiwyg
Novel
GARIS TAKDIR TANPA AKHIR
Hans Wysiwyg
Novel
Rumah Ibu 3.915 Mil Jauhnya
Hans Wysiwyg
Flash
Mestakkung
Hans Wysiwyg
Cerpen
SUNYI SEKALI
Hans Wysiwyg
Flash
DUNIA JUNGKIR BALIK
Hans Wysiwyg
Flash
Teman Kamar Baru
Hans Wysiwyg
Flash
Sebelas-Duabelas
Hans Wysiwyg
Flash
Kesempatan Pertama
Hans Wysiwyg
Flash
Kesempatan Kedua (the end)
Hans Wysiwyg
Flash
ONLY-- Sometime Truth is Cruel
Hans Wysiwyg
Flash
Kesempatan Kedua
Hans Wysiwyg
Flash
Kisi-Kisi
Hans Wysiwyg
Flash
Kursi Nomor 7
Hans Wysiwyg