Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Romantis
Heaven Can Wait
1
Suka
46
Dibaca
Flash Fiction ini masih diperiksa oleh kurator

Aku sebenarnya bukan tipe cowok yang gampang terpesona sama perempuan.

Apalagi setelah jadi selebgram. Isi DM aja udah penuh. Tiap hari ada aja yang kirim foto, ngajak kenalan, sok akrab, bahkan ada yang tiba-tiba manggil “sayang” padahal ketemu aja belum pernah.

Makanya waktu pertama kali lihat Laras, aku kira dia juga sama saja.

Cantik, iya. Tapi cantik kan banyak macamnya.

Sampai akhirnya aku sadar, yang bikin berbahaya itu bukan wajahnya.

Tapi cara dia bikin orang merasa dianggap ada.

***

Hari itu Laras duduk di ujung sofa cafe sambil ngobrol sama beberapa orang. Biasa aja sih sebenarnya. Dia pakai sweater warna krem, rambutnya diikat asal, mukanya bahkan nggak terlalu full makeup. Tapi entah kenapa mataku nggak bisa pindah.

Aku memperhatikan dia cukup lama.

Cara dia dengerin orang bicara.

Apalagi waktu dia ketawa kecil sambil nutup mulut.

Terus pas dia selalu natap mata lawan bicaranya seolah orang itu penting banget.

Dan sialnya, aku mulai ikut nunggu dia ngomong.

“Iya terus gimana-gimana?”

Kalimat sesederhana itu, tapi pas Laras yang ngomong sambil sedikit maju mendekat, aku malah kayak orang bego yang mendadak lupa cara bernapas.

Gimana-gimana.

Padahal cuma dua kata itu aja.

Tapi dari mulut Laras, rasanya kayak ada orang yang akhirnya benar-benar mau dengerin hidupmu.

Aku bahkan jadi pengen cerita hal-hal random cuma supaya dia ngomong itu lagi.

Sejak saat itu aku jadi ngerti satu hal, perempuan ini bahaya. Bukan karena dia genit atau karena dia sengaja bikin orang jatuh hati.

Justru karena Laras terlalu tulus buat dunia yang isinya orang yang suka pura-pura.

Dia baik ke semua orang, itu masalahnya.

Ke barista dia senyum, ke anak kecil dia ngajak ngobrol, bahkan ke orang yang nyerempet bahunya aja dia malah bilang, “eh gapapa kok.”

Siapa coba yang nggak makin tenggelam?

Aku sampai mikir, Davian itu sebenernya manusia paling beruntung sedunia.

Tapi juga paling nyebelin, karena cowok itu posesifnya bukan main.

Tangannya selalu ada di pundak Laras.

Sedikit-sedikit nanya, “Sayang mau apa?”

Sedikit-sedikit, “Aku anter.”

Sedikit-sedikit natap orang kayak satpam komplek.

Apalagi kalau aku mulai ngobrol agak lama sama Laras, tatapan Davian langsung berubah kayak mau audit hidupku tujuh turunan.

Padahal aku cuma ngobrol.

Oke, ya tapi aku memang sambil senyum-senyum sendiri sih. Sambil perhatiin bulu mata Laras terlalu lama. Tapi tetap aja aku nggak ngapa-ngapain.

Masalahnya ya itu, kalau sudah lihat Laras dekat begini, rasanya susah buat biasa aja.

Ada perempuan yang cantik, ada perempuan yang menarik.

Tapi Laras beda.

Dia itu kayak rumah waktu hujan nyaman buat neduh.

Kayak lagu lama jam dua pagi, bikin tidur tambah pules.

Pokoknya kayak orang yang bisa bikin dunia mendadak lebih pelan dan lebih hangat.

Dan semakin lama lihat dia, aku makin ngerti kenapa banyak orang gampang sayang sama Laras.

Ya, karena bahkan cara dia manggil nama orang aja terdengar lembut.

“Gavin?”

Aku refleks nengok cepat.

“Hm?”

“Kamu kok diem aja sih dari tadi?”

Ya Tuhan.

Kalau surga memang ada antreannya, mungkin aku rela nunggu lebih lama.

Karena duduk lima menit di depan Laras aja rasanya udah cukup bikin hidup membaik.

Heaven can wait.

Serius.

Aku baru mau jawab waktu tiba-tiba sebuah tangan menarik kursi tepat di sebelah Laras.

Davian datang, dan seperti biasa, seluruh suasana langsung hancur rasanya.

Cowok itu duduk sambil melingkarkan tangan ke pinggang Laras tanpa dosa.

“Ngobrol apa?”

“Nggak ada,” jawab Laras santai.

Tapi Davian tetap menatapku, tatapan khas cowok posesif yang seolah bilang: gue tau lo suka pacar gue.

Aku mendecih pelan sambil menyandarkan badan.

Buyar sudah seluruh lamunanku.

Fatamorgana memang paling jago bikin orang lupa diri.

Tadi aku sempat berpikir dunia melambat waktu Laras tersenyum ke arahku, padahal nyatanya aku cuma penonton.

Cuma bisa lihat, nggak bisa punyai dia.

Mungkin memang itu takdir paling menyebalkan dari menyukai perempuan seperti Laras.

Dia terlalu indah untuk direbut, terlalu dicintai untuk disentuh sembarangan.

Sementara aku?

Aku cuma Jovi Gavin.

Selebgram “Roti Gabin” yang tiap malam bisa bikin ribuan orang ketawa di internet, tapi tetap kalah sama satu cowok bernama Davian yang bahkan nggak perlu melakukan apa-apa selain dipilih oleh Laras.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Romantis
Novel
Bronze
Revanadya
Noranita Vinka
Flash
Heaven Can Wait
Hans Wysiwyg
Novel
House Mate
Ita Pamungkas
Novel
Bucin
Sergio Purba
Novel
Gold
A Room with A View
Noura Publishing
Skrip Film
White Album
Koibumi Alana
Flash
PRA NIKAH
Nurmala Manurung
Cerpen
Rindu
Aprillia
Cerpen
Aurora diantara Dua Dunia
vannessa angel sanjaya
Novel
Ruang Kenangan
diana eka putri
Novel
Ardanareshwar
Ghozy Ihsasul Huda
Cerpen
KAMU, AKU DAN KENANGAN
lilla safira alhasanah
Novel
Gold
The Kite Runner
Mizan Publishing
Novel
Marvin untuk Nara
Larasatiameera
Novel
Bronze
ERNANDO √
siti nurhildayani
Rekomendasi
Flash
Heaven Can Wait
Hans Wysiwyg
Flash
Dinda
Hans Wysiwyg
Flash
Titik Nol
Hans Wysiwyg
Flash
Sedia Aku Sebelum Hujan
Hans Wysiwyg
Cerpen
Maybe Someday
Hans Wysiwyg
Cerpen
Surat Untuk Senja
Hans Wysiwyg
Flash
Hari Ini Bapak Menyemir Sepatuku
Hans Wysiwyg
Flash
Sebelas-Duabelas
Hans Wysiwyg
Flash
I Miss You So Badly
Hans Wysiwyg
Cerpen
Ayah, Aku Pulang
Hans Wysiwyg
Flash
Selebgram Roti Gabin
Hans Wysiwyg
Cerpen
FAKE PSIKOPAT
Hans Wysiwyg
Flash
Perahu Langit
Hans Wysiwyg
Flash
Summer yang Tak Pernah Hilang
Hans Wysiwyg
Cerpen
Pamit
Hans Wysiwyg