Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
NYARIS menyerah Surapati mencari makanan. Bahkan di tengah hutan beton yang terbengkalai dan terkabut lumut, serangga dan hewan-hewan avertebrata lain pun tiada lagi tersisa. Zaman keserakahan tak hanya bikin mual, tapi juga bikin muak. Manusia tidak lagi mengenal manusia. Mereka kembali ke naluri primitifnya: yang kuat yang menang.
Manusia sejenis Surapati hanya sejumput di kota ini. Tapi Surapati masih punya harap di dada. Di suatu tempat pasti ada segelintir orang yang masih punya hati. Seperti dirinya.
Surapati menghentikan langkah. Reseptor hidungnya mengendus jelas aroma sup daging. Hm… makanan! Ia menoleh ke sumber bau lezat itu: sebuah bekas minimarket, 20 meter ke arah barat.
Surapati mendekat dan mengintip dari jendela kaca yang pecah. Sepasang pria-wanita tengah berpesta makanan. Sejumlah piring kotor berserakan di sekitarnya.
Sambil menelan ludah, Surapati memberanikan diri menyapa. Ia disambut baik dan diminta bergabung. Lahaplah ia menyantap sup yang disodorkan. “Dapat daging dari mana kalian?” tanya Surapati sambil terus mengunyah.
Si wanita nyengir, lalu menuangkan segumpal daging ke piring Surapati.
Surapati membelalak. Perutnya mendadak mual. Di piringnya, uap kuah mengepul dari sebongkah kaki manusia yang sudah tidak utuh.
Tiba-tiba muncul sekelompok orang mengelilingi dan menatap rakus Surapati.
Dengan pisau, sendok, dan garpu di tangan.
***