Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Misteri
The Weight of Silence
0
Suka
11
Dibaca
Flash Fiction ini masih diperiksa oleh kurator

Aku masih ingat bagaimana suara terasa hidup di dalam tubuhku—getarannya, bukan bunyinya. Dulu, setiap kali tertawa, aku bisa merasakan udara yang meloncat dari dada, memantul di tenggorokan, dan keluar lewat bibir. Sekarang semuanya berhenti di dada; tertahan, dingin, dan berat.

Sudah tiga bulan sejak kecelakaan itu. Aku tidak ingat detilnya—cahaya lampu, bunyi logam, lalu keheningan panjang yang menelan segalanya. Orang bilang aku beruntung karena masih hidup. Kadang aku mengangguk, tapi di kepalaku, kata “hidup” terasa seperti kata yang belum selesai.

Kamar sewaku di lantai delapan ini kecil. Di dindingnya tergantung poster konser lama yang warnanya mulai pudar, dan di pojok kamar berdiri piano digital yang sudah tidak sepenuhnya berfungsi. Setiap kali kuketik not di tutsnya, suara yang keluar serak, seperti napas seseorang yang menahan tangis. Tapi aku tetap memainkannya, karena hanya itu yang bisa berbicara untukku.

Hari-hariku berjalan seperti pola nada, pagi – kampus – diam – sore – diam – malam – diam. Orang-orang masih ramah padaku, tapi aku bisa merasakan jarak di setiap tatapan. Mereka berbicara pelan, seperti takut aku bisa pecah sewaktu-waktu. Mungkin benar. Kadang aku merasa tubuhku hanya cangkang kosong yang menampung gema yang belum menemukan asalnya.

Satu-satunya waktu aku merasa nyata adalah ketika bermain piano. Ada sesuatu tentang getarannya di ujung jariku, seperti sisa kehidupan yang masih mau menempel. Kadang aku menulis melodi, hanya untuk mendengarnya lagi dalam keheningan. Melodi itu tidak pernah selesai, selalu berhenti di tengah, di satu nada yang menggantung terlalu lama.

Suatu malam, ketika kota di luar jendela menelan cahaya terakhirnya, aku memainkan potongan melodi itu lagi. Angin berembus dari ventilasi kecil di dinding, membawa aroma logam dan hujan yang belum turun. Saat itulah aku mendengarnya—suara yang nyaris bukan suara.

Lembut. Samar. Tapi jelas ada.

Seseorang menyenandungkan nada yang sama denganku, dari tempat yang entah di mana. Saat aku berhenti, melodi itu terus berlanjut, seperti pantulan dari tuts yang tak pernah kusentuh.

Suara itu datang lagi malam berikutnya.

Aku sudah mencoba mengabaikannya dengan menyalakan radio, menutup jendela, bahkan menekan tuts piano acak hanya untuk menutupi setiap kemungkinan gema. Tapi ketika dunia diam, lagu itu kembali, sama lembutnya, sama rapuhnya, seolah udara di sekitarku ikut bergetar bersamanya.

Aku mulai mencatat not yang kudengar. Awalnya hanya untuk membuktikan pada diri sendiri bahwa itu nyata, bukan halusinasi. Tapi ketika jari-jariku bergerak di atas kertas, aku tahu pola itu. Tanganku menulis dengan hafal, seperti sedang menyalin sesuatu dari ingatan yang lama hilang.

Di tengah malam yang lembap itu, aku berhenti.

Tinta menetes di ujung not, membentuk noda kecil di antara dua garis paranada. Aku menatapnya cukup lama untuk menyadari bahwa noda itu seperti tanda titik, tempat lagu seharusnya berakhir. Tapi aku tidak ingat pernah menulisnya sebelumnya.

Besoknya di kampus, aku tak bisa fokus. Setiap suara seperti pintu yang terbuka, sepatu yang menapak di lantai, bisikan di belakangku, semuanya terdengar seperti versi rusak dari lagu itu. Kadang aku merasa dunia di sekelilingku sedang berusaha mengingat sesuatu bersamaku, tapi tidak tahu bagaimana caranya.

Sore itu, ketika aku duduk di taman kecil dekat fakultas musik, seorang perempuan menghampiri. Dia membawa biola, dan tanpa banyak bicara, duduk di sebelahku.

Aku mengenalnya meski tidak terlalu tau tentangnya bahkan namanya. Ia salah satu mahasiswa baru yang sering latihan di aula terbuka. Dia tersenyum tipis padaku, lalu berkata, “Aku sering dengar kau main piano dari kamar sebelah. Lagu itu… aneh, tapi indah.”

Aku hanya menatapnya, tak tahu harus bagaimana merespons.

Dia melanjutkan, lembut, “Melodinya terdengar seperti lagu duka. Tapi juga seperti lagu rindu.”

Aku menulis di ponsel, “Kau tahu lagu itu?”

Dia menggeleng. “Tidak. Tapi rasanya seperti pernah kudengar.”

Dan entah kenapa, kata-katanya membuat dadaku sesak.

Malamnya aku memutuskan memainkan lagu itu sepenuhnya. Semua not, termasuk yang belum pernah kutulis, mengalir begitu saja dari jariku. Setiap kali aku menekan tuts, udara di ruangan bergetar semakin kuat. Bukan oleh suara, tapi oleh sesuatu yang terasa seperti denyut jantung.

Lagu itu berhenti di satu nada tinggi, menggantung di udara, lalu hening. Keheningan yang begitu penuh hingga membuat mataku berair.

Lalu aku mendengarnya lagi, kali ini bukan hanya di kepalaku. Suara itu datang dari belakangku, lembut, dekat sekali.

“Kau akhirnya mendengarku.”

Aku menoleh, tapi tidak ada siapa pun. Hanya pantulan diriku sendiri di permukaan piano. Dan untuk sesaat, aku yakin bibir di pantulan wajahku itu bergerak.

Aku menatap pantulan itu lama sekali. Cahaya dari jendela kecil membuat permukaan piano terlihat seperti air yang tenang. Setiap gerakanku bergetar di sana, terlambat sepersekian detik. Pantulan di kaca itu tersenyum kecil. Aku tidak.

“Aku bukan bayanganmu,” katanya tanpa suara. Tapi entah bagaimana caranya, aku bisa mendengarnya. “Aku hanya bagian dari lagu yang tak pernah selesai.”

Aku tak tahu apakah aku takut atau tenang. Jemariku terulur menyentuh tuts, pantulan itu juga bergerak, tapi sedikit lebih lambat, seolah ia menungguku memulai sesuatu.

Kulepaskan satu nada. Lalu satu lagi. Sampai ruang di sekitarku berdenyut seperti dada yang sedang bernapas pelan.

Di antara gema itu, ada kenangan yang muncul tanpa izin. Kilatan lampu malam di jalan basah, tawa seseorang di kursi penumpang, dan kemudian benturan keras, suara terakhir yang pernah kudengar.

Tiba-tiba aku mengerti. Suara yang selama ini memanggilku bukan datang dari luar, itu adalah suaraku sendiri, tertinggal di malam itu, terperangkap di antara dua dunia. Yang bernyanyi di dalam mobil yang hancur,

Dan yang kini duduk membisu di depan piano.

Tanganku gemetar. Aku memainkan seluruh lagu itu lagi, cepat, penuh air mata yang tak sempat jatuh. Semakin dekat ke akhir, semakin tipis batas antara aku dan pantulan di depanku. Sampai pada nada terakhir—yang tertinggi—pantulan itu menutup matanya, dan aku pun ikut.

Ketika aku membuka mata, ruangan sudah hening sepenuhnya. Tidak ada gema, tidak ada napas, bahkan detak jam pun seakan berhenti. Piano di depanku kosong, dan di permukaannya hanya ada selembar kertas putih.

Di tengah kertas itu, tertulis satu kalimat dengan tinta yang masih basah.

“Sekarang kau bisa diam.”

Aku menyentuh tulisan itu, tapi tinta menembus ujung jariku seperti udara. Dan untuk pertama kalinya sejak lama, aku benar-benar tidak mendengar apa-apa, bahkan pikiranku sendiri.

Keheningan itu berat tapi indah. Seolah seluruh dunia akhirnya bernapas untukku.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Misteri
Flash
The Weight of Silence
Rey
Flash
Jatuh Cinta Seharusnya ...
Yuli Harahap
Novel
Bronze
Love Freak
Faisal Ridha Dmt
Flash
WONDERLAND
Ri(n)Jani
Flash
Di Mana Aku?
Jie Jian
Flash
Bronze
Permintaan
Rere Valencia
Cerpen
MY MUSE
KIN DOUTZEN
Cerpen
Bronze
Melodrama Luna
Rosi Ochiemuh
Novel
The journey of Tarot Reader
Deasy arista
Flash
Filter
BANYUBIRU
Skrip Film
Who Did It?
Fann Ardian
Cerpen
Bronze
Bertemu Setan
Omius
Flash
Ibu Lupa
Hanif Ilham Mahaldi
Flash
Bronze
The Quantum Chronicles: Gateway to Infinity
Maria Septian Riasanti Mola
Cerpen
Rantai Dendam
adinda pratiwi
Rekomendasi
Flash
The Weight of Silence
Rey
Cerpen
Ingatan Yang Tak Pernah Mati
Rey
Cerpen
404 : Love Not Found
Rey
Novel
Whispers of The Lost Princess
Rey