Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Horor
Ry... Namanya
1
Suka
3,483
Dibaca

Februari.

Sebuah awal yang sederhana-- sebuah pertemuan singkat yang kini menjelma kenangan tak lekang.

Ia hanya bertanya hal kecil, informasi sepele yang mungkin bisa ia tanyakan pada siapa pun… namun entah bagaimana, justru padakulah ia memilih menyapa. Mungkin karena aku orang pertama yang lebih dulu ia kenal di tempat itu, atau mungkin… semesta memang sengaja mengarahkan langkahnya padaku.

"Kak, senam di sini biasanya hari apa ya?"

Itu obrolan pertama kami... atau lebih tepatnya, pertanyaan selintas yang ia lontarkan pada manusia yang kebetulan lewat di hadapannya.

Ia, laki-laki yang diam-diam kuanggap sebagai gambaran dari sosok yang kusukai. Tinggi, berkacamata, tampan dengan caranya sendiri. Ada ketenangan dalam senyumnya, ada kesantunan dalam bahasanya, dan ada kesyahduan dalam caranya menunduk ketika sujud di musala tempat kami bekerja.

Ia bukan tipikal lelaki yang sok gagah, bukan pula narsis yang menyebalkan untuk dipandang. Ia sederhana… namun justru di situlah letak pesonanya.

Anehnya, kami tak pernah benar-benar berbincang lebih jauh tentang siapa diri kami masing-masing.

Aku bukan tipe yang mudah membuka diri, dan kurasa ia pun begitu, atau mungkin aku hanya berprasangka. Yang jelas, andai harus kunilai, aku hanya bisa menilainya dengan sebaik-baiknya prasangka. Dan itulah yang membuatku celaka, sebab semakin baik penilaianku, semakin dalam pula aku jatuh cinta.

Dua tahun telah lewat sejak kontrak kerja itu usai. Dua tahun pula kami tak pernah bertemu lagi-- bahkan sekadar bersisian di jalan, di lampu merah, atau mungkin di antrean minimarket. Seolah hidup sengaja membiarkan kami tetap menjadi kenangan.

Dan lucunya, selama dua tahun itu aku masih mencintainya. Seakan waktu tak punya kuasa atas rasa yang kuserahkan pada sosok yang bahkan tak pernah kumiliki.

Kata orang, cinta lama bisa terhapus ketika cinta baru datang.

Tapi bagaimana bisa aku menampung cinta baru, jika bayangannya masih betah menetap di sudut pikiranku? Bagaimana bisa aku membuka ruang lain, jika tiap kali aku mencoba, wajahnya selalu datang mendahului yang lain?

Aku akui, rasanya konyol. Menerima kenyataan bahwa aku masih terikat pada seseorang… yang mungkin tak menaruh rasa apa-apa padaku.

Anehnya lagi, aku masih mengingatnya terlalu jelas. Bahkan sampai sekarang, aku masih sesekali membuka media sosialnya hanya untuk melihat apakah ia baik-baik saja.

Malam ini pun begitu.

Aku membuka profilnya lagi setelah berbulan-bulan mencoba berhenti.

Foto profilnya berubah.

Ia mengenakan kemeja putih rapi, di sampingnya terdapat foto seorang perempuan berkemeja putih dengan jilbab hitam. Mereka berada dalam bingkai yang sama dengan latar biru yang sama pula.

Tanganku membeku di atas layar.

Lalu aku tertawa kecil.

Akhirnya aku sadar, selama dua tahun ini, ternyata aku bukan sedang menunggu seseorang kembali.

Aku hanya belum rela ditinggalkan oleh versi diriku yang pernah berharap dicintai olehnya.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (1)
Rekomendasi dari Horor
Flash
Ry... Namanya
hyaeonasa
Novel
Pendekar Sarang Demit
Raxl Sri
Novel
Bronze
MALDEVIR
Okhie vellino erianto
Novel
Penjual Nasi Goreng Rumah Hanto Darmo (Oneshot)
Faizal Ablansah Anandita, dr
Novel
Gold
Clown Terror
Noura Publishing
Novel
Bronze
Diburu Oleh Mayat Hidup
Handi Yawan
Novel
VAMANA
Hazsef
Flash
SUARA LEBAH
Katangga
Flash
Black
Rama Sudeta A
Novel
Bronze
Charlie, Charlie Are You There?
Lewi Satriani
Novel
Inang Kedua
Camèlie
Novel
Binar Kasih di Tengah Teror Gaib
Meliawardha
Novel
Renggut
Eve Shi
Novel
TRAWANG
Marion Drossi
Novel
Malam Takziah
Marion Drossi
Rekomendasi
Flash
Ry... Namanya
hyaeonasa
Flash
Jejak yang Tak Pernah Sampai
hyaeonasa
Cerpen
Bronze
Hal-Hal yang Diajarkan Kemiskinan Tanpa Bertanya
hyaeonasa
Flash
Eksperimen Bahlil
hyaeonasa
Flash
Moca
hyaeonasa
Novel
12-K
hyaeonasa
Novel
Bronze
Perempuan yang Menangis Setelah Semua Orang Tidur
hyaeonasa