Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Februari.
Sebuah awal yang sederhana-- sebuah pertemuan singkat yang kini menjelma kenangan tak lekang.
Ia hanya bertanya hal kecil, informasi sepele yang mungkin bisa ia tanyakan pada siapa pun… namun entah bagaimana, justru padakulah ia memilih menyapa. Mungkin karena aku orang pertama yang lebih dulu ia kenal di tempat itu, atau mungkin… semesta memang sengaja mengarahkan langkahnya padaku.
"Kak, senam di sini biasanya hari apa ya?"
Itu obrolan pertama kami... atau lebih tepatnya, pertanyaan selintas yang ia lontarkan pada manusia yang kebetulan lewat di hadapannya.
Ia, laki-laki yang diam-diam kuanggap sebagai gambaran dari sosok yang kusukai. Tinggi, berkacamata, tampan dengan caranya sendiri. Ada ketenangan dalam senyumnya, ada kesantunan dalam bahasanya, dan ada kesyahduan dalam caranya menunduk ketika sujud di musala tempat kami bekerja.
Ia bukan tipikal lelaki yang sok gagah, bukan pula narsis yang menyebalkan untuk dipandang. Ia sederhana… namun justru di situlah letak pesonanya.
Anehnya, kami tak pernah benar-benar berbincang lebih jauh tentang siapa diri kami masing-masing.
Aku bukan tipe yang mudah membuka diri, dan kurasa ia pun begitu, atau mungkin aku hanya berprasangka. Yang jelas, andai harus kunilai, aku hanya bisa menilainya dengan sebaik-baiknya prasangka. Dan itulah yang membuatku celaka, sebab semakin baik penilaianku, semakin dalam pula aku jatuh cinta.
Dua tahun telah lewat sejak kontrak kerja itu usai. Dua tahun pula kami tak pernah bertemu lagi-- bahkan sekadar bersisian di jalan, di lampu merah, atau mungkin di antrean minimarket. Seolah hidup sengaja membiarkan kami tetap menjadi kenangan.
Dan lucunya, selama dua tahun itu aku masih mencintainya. Seakan waktu tak punya kuasa atas rasa yang kuserahkan pada sosok yang bahkan tak pernah kumiliki.
Kata orang, cinta lama bisa terhapus ketika cinta baru datang.
Tapi bagaimana bisa aku menampung cinta baru, jika bayangannya masih betah menetap di sudut pikiranku? Bagaimana bisa aku membuka ruang lain, jika tiap kali aku mencoba, wajahnya selalu datang mendahului yang lain?
Aku akui, rasanya konyol. Menerima kenyataan bahwa aku masih terikat pada seseorang… yang mungkin tak menaruh rasa apa-apa padaku.
Anehnya, aku masih mengingatnya terlalu jelas. Bahkan sampai sekarang, aku masih sesekali membuka media sosialnya hanya untuk melihat apakah ia baik-baik saja.
Malam ini pun begitu.
Aku membuka profilnya lagi setelah berbulan-bulan mencoba berhenti.
Foto profilnya berubah.
Ia mengenakan kemeja putih rapi, di sampingnya terdapat foto seorang perempuan berkemeja putih dengan jilbab hitam. Mereka berada dalam bingkai yang sama dengan latar biru yang sama pula.
Tanganku membeku di atas layar.
Lalu aku tertawa kecil.
Akhirnya aku sadar, selama dua tahun ini, ternyata aku bukan sedang menunggu seseorang kembali.
Aku hanya belum rela ditinggalkan oleh versi diriku yang pernah berharap dicintai olehnya.