Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Bunga Terakhir
Alkisah, di sebuah desa hiduplah seorang petani tua renta. Usianya sudah mencapai seperempat abad. la bekerja dan selalu menghabiskan sisa hidupnya di ladang yang amat ia sayangi. Hamparan ladang yang luas itulah yang menjadi tempat terakhirnya untuk pulang.
Untuk senyuman selalu terukir pada wajahnya yang penuh kerutan. la begitu mencintai tanaman yang ia rawat dengan sepenuh hati. Setiap hari, tanaman itu tumbuh dan berkembang dengan menawan. Hingga beberapa waktu, petani tua itu jatuh sakit.
Di tengah sakitnya, ia masih berharap satu hal:
"Siapa yang akan merawat ladang ini nanti?"
Kekhawatiran itu membuatnya memikirkan cara. Akhirnya, ia memutuskan untuk menaburkan benih bunga yang ia tanam sendiri bunga yang tidak pernah tumbuh di tanaman lain, hanya di ladang miliknya saja.
"Tuhanku, jika nanti aku tiada, semoga sedikit saja dapat menumbuhkan bunga yang tak pernah layu di ladang ini."
Setiap hari, selama ia masih mampu, petani tua itu menjaga ladangnya. la memijat tanah, memeriksa setiap tanaman, dan berbicara lembut pada bunga-bunga kecilnya. Namun, doa yang kedua tidak terlaksana. Beberapa hari kemudian, ia wafat. Bunga di ladang itu pun layu, seolah kehilangan pemiliknya.
Hingga suatu ketika, hujan turun dengan deras, membasahi ladang yang gersang. Setelah reda, angin bertiup pelan, membawa sedikit biji bunga yang tersisa. Biji-biji itu tersebar, jatuh di beberapa sudut ladang.
Ajaibnya, di samping makam petani tua itu, tumbuh sekuntum bunga yang tak kunjung layu. Angin terus meniupnya, menyebarkan serbuk sari ke seluruh penjuru desa. Lama-kelamaan, bunga-bunga itu bermekaran di seluruh ladang lebih indah dari sebelumnya.
Setiap pagi, para pekerja datang dan melihat bunga itu tumbuh subur, seolah sang petani tua masih menemani dari tempat peristirahatan terakhirnya.
Dan di sanalah ia tetap hidup-dalam setiap bunga yang ia tanam dengan cinta.