Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Self Improvement
Bunga terakhir
2
Suka
1,989
Dibaca

Bunga Terakhir

Alkisah, di sebuah desa hiduplah seorang petani tua renta. Usianya sudah mencapai seperempat abad. la bekerja dan selalu menghabiskan sisa hidupnya di ladang yang amat ia sayangi. Hamparan ladang yang luas itulah yang menjadi tempat terakhirnya untuk pulang.

Untuk senyuman selalu terukir pada wajahnya yang penuh kerutan. la begitu mencintai tanaman yang ia rawat dengan sepenuh hati. Setiap hari, tanaman itu tumbuh dan berkembang dengan menawan. Hingga beberapa waktu, petani tua itu jatuh sakit.

Di tengah sakitnya, ia masih berharap satu hal:

"Siapa yang akan merawat ladang ini nanti?"

Kekhawatiran itu membuatnya memikirkan cara. Akhirnya, ia memutuskan untuk menaburkan benih bunga yang ia tanam sendiri bunga yang tidak pernah tumbuh di tanaman lain, hanya di ladang miliknya saja.

"Tuhanku, jika nanti aku tiada, semoga sedikit saja dapat menumbuhkan bunga yang tak pernah layu di ladang ini."

Setiap hari, selama ia masih mampu, petani tua itu menjaga ladangnya. la memijat tanah, memeriksa setiap tanaman, dan berbicara lembut pada bunga-bunga kecilnya. Namun, doa yang kedua tidak terlaksana. Beberapa hari kemudian, ia wafat. Bunga di ladang itu pun layu, seolah kehilangan pemiliknya.

Hingga suatu ketika, hujan turun dengan deras, membasahi ladang yang gersang. Setelah reda, angin bertiup pelan, membawa sedikit biji bunga yang tersisa. Biji-biji itu tersebar, jatuh di beberapa sudut ladang.

Ajaibnya, di samping makam petani tua itu, tumbuh sekuntum bunga yang tak kunjung layu. Angin terus meniupnya, menyebarkan serbuk sari ke seluruh penjuru desa. Lama-kelamaan, bunga-bunga itu bermekaran di seluruh ladang lebih indah dari sebelumnya.

Setiap pagi, para pekerja datang dan melihat bunga itu tumbuh subur, seolah sang petani tua masih menemani dari tempat peristirahatan terakhirnya.

Dan di sanalah ia tetap hidup-dalam setiap bunga yang ia tanam dengan cinta.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Self Improvement
Flash
Bunga terakhir
Aris Setiawan
Novel
Gema dalam Hening: Kamus Cinta yang Tak Terucap
Bintang Senjaku
Cerpen
Lagi, Lagi, Lagi dan Lagi
talbiatin
Cerpen
Senyum Syukur
Adam Nazar Yasin
Flash
Senyum Semerekah Pagi
DMRamdhan
Cerpen
Akasia dalam diriku
Rain Dandelion
Novel
Bilang, Ibu Gak Ada di Rumah
Naufal Abdillah
Flash
Kursi Dari Langit
Hans Wysiwyg
Cerpen
Bronze
Riana
Titin Widyawati
Cerpen
Bronze
Ibu Segalanya Tentangnya
Ricko Pradana
Cerpen
Bronze
Monolog Dalam Tempo Adagio
Noona Moon
Novel
Bronze
Inheritance
Aylanna N. Arcelia
Cerpen
Bronze
Dunia Orang Dewasa itu, Keseriusan dan Kesenangan seolah Melebur
Nuel Lubis
Flash
Hidupku
winda aprillia
Flash
Bronze
Two Divers
Silvarani
Rekomendasi
Flash
Bunga terakhir
Aris Setiawan
Cerpen
Tumbuh dengan caraku
Aris Setiawan
Cerpen
Angka yang tidak pernah bertanya
Aris Setiawan
Cerpen
Catatan dari hal-hal yang sederhana.
Aris Setiawan
Cerpen
Porsi yang sudah ditentukan
Aris Setiawan
Novel
Komunitas tingkat bawah
Aris Setiawan
Cerpen
PEPELING
Aris Setiawan
Novel
Dilihat lagi dan lagi
Aris Setiawan