Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Drama
Cita-Cita
2
Suka
6,855
Dibaca

Aku pikir hal paling menyeramkan yang tidak bisa aku atasi adalah ketika melihat mama meninggal karena serangan jantung setelah mendengarku dipenjara.

Nyatanya tidak, Ji…

Hari ini aku seperti biasa mengajar anak-anak di pengungsian yang masih belum bisa bersekolah sebab bangunan sekolah itu hancur dan belum direnovasi.

Anak-anak itu tertawa dan sangat antusias mendengarku mendongeng tentang seorang dokter jenius yang mendapatkan pasien yang unik-unik.

Ya, kuceritakan beberapa kisahmu yang menginspirasi itu, Ji. Kuharap kamu tidak keberatan.

Suatu kali seorang relawan lain, kawan baikku, bertanya pada anak-anak itu tentang cita-cita mereka. Kamu tahu? Sebagian besar dari mereka ingin menjadi guru.

Cita-cita mereka teramat mulia. Tapi aku tak sampai hati untuk menyampaikan pada mereka kalau sebaiknya guru dijadikan hobi saja, bukan pekerjaan utama. Sebab gaji guru tidak akan cukup untuk menghidupi hidup mereka kelak.

Lalu ada sebagian dari mereka ingin menjadi aparat penegak hukum berseragam coklat. Aku hanya bisa bilang, “Semoga kamu jadi penegak kebenaran yang amanah, ya, Dek.”

Aku tidak mungkin memberitahu tubuh kecil itu kalau dia ingin menjadi bagian dari orang-orang yang dibenci masyarakat, kan?

Kemudian salah satu dari mereka, yang tercerdas dari yang terpintar, berkata bahwa ia ingin menjadi astronot.

Aku hampir menangis mendengarnya, Ji. Rasa-rasanya ingin kucuci otaknya agar bisa berubah pikiran. Dia akan menyia-nyiakan potensinya dengan cita-citanya yang sejauh bulan tanpa ada roket untuk ditumpangi.

Dadaku sesak menyusun penjelasan dan alasan logis bahwa cita-citanya hampir tidak mungkin untuk diraih. Bahwa belum ada fasilitas yang mumpuni di negara kita ini untuk mewujudkan cita-cita itu, apalagi dari kalangan bawah.

Haruskah aku hancurkan harapannya atau haruskah kuberi harapan palsu?

Tapi kita berdua tahu. Aku tahu. Kamu juga tahu aku ini siapa, Ji. Aku tidak akan membiarkan anak itu punya mimpi kosong.

Aku akan mengenalkannya pada hal-hal yang lebih dekat untuk diraih tapi tetap hebat untuk didengar.

Kekerasan struktural tidak akan pernah ada di sekitarku, Ji. Sebab aku yang akan membinasakannya.

Aku mungkin tidak bisa menyelamatkan mama, tapi aku tidak akan membiarkan masa depan anak-anak ini mati begitu saja. Aku akan jadi pil pahit yang mengembalikan kewarasan mereka. 

Adikmu tersayang,

Hati Nurani

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (1)
Rekomendasi dari Drama
Flash
Cita-Cita
Keita Puspa
Cerpen
Bronze
PENGAKUAN DOSA
Refy
Novel
Bronze
Beda
Rolly Roudell
Novel
Gold
KKPK Ibu Baru
Mizan Publishing
Novel
Kict It
Kim YuMi
Novel
Sebait Rindu untuk Ibu Guru
Kandil Sukma Ayu
Flash
Bronze
I Hate Your Wife on Facebook
Abdi Husairi Nasution
Cerpen
Bronze
Cinta yang Menghancurkan Hati
Elisabet Erlias Purba
Novel
Bronze
Buku Harian Alana
Nur Chayati
Novel
Bronze
Korupsi Dalam Puisi Sepotong Roti
Arroyyan Dwi Andini
Novel
Bronze
Namaku Susan
Johanes Gurning
Novel
Before the Silence
Renja Permana
Flash
Pernikahan Kemarin
Miranti
Flash
Bronze
Jendela untuk pulang
Hana Mutiah
Flash
Bronze
BORNEO, Surga Dunia Itu Bernama Borneo
Silvarani
Rekomendasi
Flash
Cita-Cita
Keita Puspa
Flash
7th Skies
Keita Puspa
Flash
Bronze
Calon Suami Kak Helen (Sintas Universe)
Keita Puspa
Flash
Tsun Tsun Dere Dere
Keita Puspa
Flash
Masalah Jiwa
Keita Puspa
Flash
KEDASIH
Keita Puspa
Flash
Amplop
Keita Puspa
Novel
AGASTYA
Keita Puspa
Flash
Kuburan yang Terlupakan
Keita Puspa
Cerpen
Satu Hari di 2010
Keita Puspa
Novel
SINTAS 2.0: ENDURE
Keita Puspa
Cerpen
Black Friday
Keita Puspa
Flash
Antropologi
Keita Puspa
Novel
SINTAS
Keita Puspa
Flash
AIN
Keita Puspa