Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Drama
Cita-Cita
2
Suka
5,569
Dibaca

Aku pikir hal paling menyeramkan yang tidak bisa aku atasi adalah ketika melihat mama meninggal karena serangan jantung setelah mendengarku dipenjara.

Nyatanya tidak, Ji…

Hari ini aku seperti biasa mengajar anak-anak di pengungsian yang masih belum bisa bersekolah sebab bangunan sekolah itu hancur dan belum direnovasi.

Anak-anak itu tertawa dan sangat antusias mendengarku mendongeng tentang seorang dokter jenius yang mendapatkan pasien yang unik-unik.

Ya, kuceritakan beberapa kisahmu yang menginspirasi itu, Ji. Kuharap kamu tidak keberatan.

Suatu kali seorang relawan lain, kawan baikku, bertanya pada anak-anak itu tentang cita-cita mereka. Kamu tahu? Sebagian besar dari mereka ingin menjadi guru.

Cita-cita mereka teramat mulia. Tapi aku tak sampai hati untuk menyampaikan pada mereka kalau sebaiknya guru dijadikan hobi saja, bukan pekerjaan utama. Sebab gaji guru tidak akan cukup untuk menghidupi hidup mereka kelak.

Lalu ada sebagian dari mereka ingin menjadi aparat penegak hukum berseragam coklat. Aku hanya bisa bilang, “Semoga kamu jadi penegak kebenaran yang amanah, ya, Dek.”

Aku tidak mungkin memberitahu tubuh kecil itu kalau dia ingin menjadi bagian dari orang-orang yang dibenci masyarakat, kan?

Kemudian salah satu dari mereka, yang tercerdas dari yang terpintar, berkata bahwa ia ingin menjadi astronot.

Aku hampir menangis mendengarnya, Ji. Rasa-rasanya ingin kucuci otaknya agar bisa berubah pikiran. Dia akan menyia-nyiakan potensinya dengan cita-citanya yang sejauh bulan tanpa ada roket untuk ditumpangi.

Dadaku sesak menyusun penjelasan dan alasan logis bahwa cita-citanya hampir tidak mungkin untuk diraih. Bahwa belum ada fasilitas yang mumpuni di negara kita ini untuk mewujudkan cita-cita itu, apalagi dari kalangan bawah.

Haruskah aku hancurkan harapannya atau haruskah kuberi harapan palsu?

Tapi kita berdua tahu. Aku tahu. Kamu juga tahu aku ini siapa, Ji. Aku tidak akan membiarkan anak itu punya mimpi kosong.

Aku akan mengenalkannya pada hal-hal yang lebih dekat untuk diraih tapi tetap hebat untuk didengar.

Kekerasan struktural tidak akan pernah ada di sekitarku, Ji. Sebab aku yang akan membinasakannya.

Aku mungkin tidak bisa menyelamatkan mama, tapi aku tidak akan membiarkan masa depan anak-anak ini mati begitu saja. Aku akan jadi pil pahit yang mengembalikan kewarasan mereka. 

Adikmu tersayang,

Hati Nurani

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (1)
Rekomendasi dari Drama
Flash
Bronze
si ayam jago dan permata
Ahmad Muhaimin
Flash
Cita-Cita
Keita Puspa
Flash
Kayu Bakar Simbok
Adjie P. Atmoko
Flash
Bronze
Vampire of Love
Silvarani
Novel
Daijoubu?
Kinarian
Novel
Bronze
DARA, Kutukan atau Anugerah.
Rosi Ochiemuh
Komik
18 Rainbow
deroops
Skrip Film
i want you to be fine (Script)
imajihari
Novel
Bronze
Lost Memories
MR Afida
Novel
Bronze
SELALU ADA RUANG UNTUK PULANG
Ifha Karima
Novel
Bronze
Cinta Dua Hati "Novel"
Herman Sim
Flash
Bronze
Si Penengah
Singkat Cerita
Flash
HANUM
Shinta Puspita Sari
Novel
Bronze
Selalu Ada Cinta dalam Cerita
Barkah Azhari
Novel
Di pagi hari cerita kita dimulai
Devalaska
Rekomendasi
Flash
Cita-Cita
Keita Puspa
Novel
JAM PULANG
Keita Puspa
Flash
Amplop
Keita Puspa
Flash
AIN
Keita Puspa
Flash
Sembilan Nyawa
Keita Puspa
Novel
CAHAYA HITAM
Keita Puspa
Flash
Pendosa
Keita Puspa
Flash
Masalah Jiwa
Keita Puspa
Flash
Bronze
Calon Suami Kak Helen (Sintas Universe)
Keita Puspa
Novel
He Is Not My Brother
Keita Puspa
Flash
Bantuan Terakhir
Keita Puspa
Flash
7th Skies
Keita Puspa
Flash
KANKER
Keita Puspa
Flash
Antropologi
Keita Puspa
Novel
Bronze
We're (Not) Really Break Up
Keita Puspa