Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Drama
Jadikan Aku Selingkuhanmu
7
Suka
4,314
Dibaca

Aku punya teori bahwa manusia itu seperti frekuensi radio. Ada yang memancar sangat kuat sampai suaranya memenuhi ruangan, dan ada yang frekuensinya begitu tipis sampai orang lain menganggapnya hanya derau statis.  

Lalu, di mana posisiku? Ya, aku ada dalam ruang yang kedua.

Maya satu-satunya orang yang terkadang mencoba memutar kenop radionya untuk mencariku. Kami berteman sejak kuliah. Selalu duduk berdampingan di kelas. Saling mengejek dan mendukung di waktu yang bersamaan. Jenis pertemanan yang awet karena sejatinya tidak pernah saling menuntut.

Memang, belakangan aku merasakan keberadaanku bagaikan energi darurat untuknya. Saat ban mobilnya bocor jam sepuluh malam, dia lebih memilih meneleponku. Dia juga tidak malu merengek supaya aku mau menemaninya membeli hadiah ulang tahun untuk Aris.

"Bum, jujur, kamu itu orang paling baik yang aku kenal," katanya suatu sore, sambil memilih dasi untuk Aris di sebuah mal. "Kamu nggak kepikiran cari pacar, gitu? Biar nggak direpotin aku terus."

Aku hanya tersenyum tipis. Pertanyaannya ibarat pisau tumpul yang terus ditekan ke dadaku. Dia tidak tahu bahwa aku sudah pernah duduk di kencan-kencan yang canggung. Aku duduk di sebuah kursi romantis, tetapi hanya menjadi pendengar yang melankolis. Sebab, setelahnya, aku tidak pernah dikirimi pesan lagi. Mungkin mereka mencium bau keputusasaan yang kusembunyikan di balik sikap santunku.

Mulutku selalu bisu. Otakku selalu mendadak kosong. Aku tidak punya magnet. Aku tidak punya gravitasi. Tidak ada alasan bagi siapa pun untuk tetap tinggal di orbitku. Tidak ada yang mengitariku ada, selain Maya.

Hingga malam itu, di teras rumahnya. Maya baru saja bertengkar hebat dengan Aris. Dia menangis sampai tubuhnya gemetar. Aris pergi begitu saja karena suatu urusan yang menurutnya lebih penting.

Aku datang ketika semuanya sudah selesai, menyisakan reruntuhan emosi. Awalnya, aku hanya bermaksud mengembalikan sweater Maya yang tertinggal di mobilku. Namun, melihat luka di wajahnya, aku langsung menyodorkan bahuku.

Maya langsung bersandar dan menumpahkan semua sumpah serapah tentang kepiluannya. Dia merasa tidak terlihat lagi bagi Aris. Hanya menjadi pajangan yang dipamerkan di acara kantor atau saat makan malam bersama teman-teman kekasihnya.

"Aku cuma pengen dicari, Bum. Bukan hanya dibutuhkan saat dia perlu," isaknya. "Aku pengen merasakan lagi kepanikannya saat aku nggak angkat teleponnya. Aku ingin kembali menjadi prioritasnya saat dia butuh pelarian dari pekerjaannya. Aku pengen merasa sangat diinginkan sampai-sampai dia rela melakukan kesalahan demi aku."

Aku merasakan ada yang patah di diriku. Ada retakan yang perlahan terbuka dengan cara dipaksakan. Bukan karena kasihan kepadanya, tetapi karena aku menyadari betapa ironisnya dia. Dia mengeluh tidak diinginkan, padahal tepat di sampingnya, ada seorang pria yang sudah sepuluh tahun menghitung jumlah kedipan matanya.

Sungguh ironi yang getir. Sama halnya dengan lampu teras yang hanya dihidupkan untuk mengusir gelap, menjadi "orang baik" ternyata hanya sekadar cara paling sopan untuk dilupakan. Aku paham. Jika aku terus menjadi teman yang menetap, aku akan selamanya menjadi udara. Tidak terlihat, meski selalu ada untuk mendekapnya.

"Aris tidak akan pernah mencarimu seperti itu," ujarku. Suaraku memberat, seperti benturan nurani dan akal sehat.

Maya menoleh, matanya memantulkan keperihan yang teramat dalam. "Apa maksudmu?" 

"Dia merasa memikimu seutuhnya. Dan itu masalahnya. Dia tidak perlu takut kehilanganmu, karena kamu selalu ada di tempat yang seharusnya." Aku berdiri, menatapnya dengan kejujuran yang mungkin menghancurkan. "Kamu ingin merasa dicari? Kamu ingin tahu rasanya diinginkan sampai seseorang rela mengacaukan moralitasnya?" 

Aku menarik napas panjang. Inilah evaluasi terakhir dari hidupku yang kosong. Jika aku tidak bisa masuk lewat pintu depan, aku akan masuk dengan mendobrak dindingnya. 

"Jangan minta Aris melakukannya. Dia tidak punya alasan untuk itu." Aku melangkah mendekat, masuk ke zona nyamannya yang selama ini tidak berani kusentuh. Ruangan terbentang dikelilingi banyak bintang di atas, tetapi aku seakan tersedot dalam pengap yang mencekik. "Mintalah padaku." 

Maya terdiam, napasnya tertahan. Aku duduk sesaat, meredam getaran yang kian hebat di tubuhku, lalu aku kembali menadahkan wajahku ke dalam pandangannya.

"Jadikan aku selingkuhanmu." 

Kalimat itu meluncur bukan sebagai godaan, apalagi candaan. Ia adalah permohonan yang merusak dan mengerikan. "Aku tidak butuh status. Aku tidak butuh diakui di depan orang-orang. Aku hanya ingin ponselku bergetar karena kamu sedang bersembunyi di kamar mandi hanya untuk mengirimiku pesan. Aku ingin kamu berbohong pada semua orang hanya untuk menemuiku selama sepuluh menit. Aku ingin menjadi alasan kamu merasa bersalah, karena setidaknya, rasa bersalah itu membuktikan bahwa aku punya dampak dalam hidupmu."  

"Bum, kamu..." 

"Jadikan aku selingkuhanmu, May!” Aku mengulang ucapanku. Lebih menekan, lebih memohon. “Cintai aku di tempat gelap, tempat di mana Aris tidak bisa melihat. Jadikan aku dosa yang paling ingin terus kamu ulang.”

Maya tidak menjawab malam itu. Dia juga tidak mengusirku dengan makian atau tamparan. Dia hanya menatapku seolah baru pertama kali melihatku sebagai laki-laki, bukan sekadar 'Bumi yang baik'. Kemudian, dia masuk ke dalam rumah dan mengunci pintu.

Mungkin dia akan membenciku. Mungkin dia tidak akan pernah meneleponku lagi. Anehnya, aku merasa puas. Aku merasa tidak lagi menjadi derau statis di frekuensi radionya. Aku telah mengirimkan sinyal yang begitu kuat hingga dia harus mematikan radionya agar tidak terganggu. 

Malam ini, tiga malam setelah semua itu tumpah, aku duduk di mobilku sambil memandangi jendela kamarnya. Aku tidak berani mengetuk. Hanya mampu berbicara dengan ponselku yang gelap nan sunyi.

Aku sudah menimbang hasilnya. Jika dia mengiyakan, aku akan mendapatkan yang kuminta: rasa dibutuhkan yang ilegal. Jika dia menolak, aku akhirnya punya alasan untuk benar-benar hilang dari hidupnya. 

Dua-duanya adalah kemenangan bagiku. Mungkin.

Aku adalah Bumi, pria yang cukup berbahaya untuk diingat. Pria yang baru saja menukar seluruh harga dirinya demi sebuah getaran di layar ponsel.

Akan tetapi, mungkin kepastian itu masih mengeram di bawah temaram, di dalam kamar. Aku akan menunggunya, menggelar sabar tanpa takaran.

Aku kembali menghidupkan mesin mobil. Melaju ke depan, walau senyap mengaburkan batas kewarasan.

Tidak niat untuk berkhianat atau mengkhianati. Aku sekadar ingin merasakan bahwa aku sangat dibutuhkan. Sebuah pencapaian menyedihkan dari kesepian yang tak pernah diselesaikan. 

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (1)
Rekomendasi dari Drama
Flash
SEMANIS COKLAT
M Fadly Hasibuan
Flash
Bronze
Menanti Sepi
Herman Siem
Flash
Bronze
Melody Ariana
Indah Budiarti
Flash
Bronze
Pecah
Keita Puspa
Flash
Bronze
Nasi Lemak MRT Singapura
Silvarani
Flash
Jadikan Aku Selingkuhanmu
Jasma Ryadi
Flash
Aku Bungkam
Lisnawati
Flash
Bronze
Radio Kuna Kunawi
Sulistiyo Suparno
Flash
Bronze
Hujan di Balkon
Risti Windri Pabendan
Novel
Bronze
Nyanyian Badai
Han Gagas
Flash
Dreamcore Room
Lail Arahma
Flash
Bangun Pagi
Molena Banana
Flash
Bronze
Sunday
Rama Sudeta A
Novel
Perjalanan Ranum
Faiqotun Nafiah
Novel
The Woman with Purpose
judea
Rekomendasi
Flash
Tatapan dari Jendela
Jasma Ryadi
Flash
Jadikan Aku Selingkuhanmu
Jasma Ryadi
Flash
Bagaimana Jika Aku Menjadi Umbi-Umbian?
Jasma Ryadi
Flash
Terminal
Jasma Ryadi
Flash
Teras
Jasma Ryadi
Flash
Museum Kenangan
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
Prenuptial Agreement: Antara Luka dan Logika
Jasma Ryadi
Flash
Telepon
Jasma Ryadi
Flash
Sisa Siang
Jasma Ryadi
Flash
Rumah Tanpa Isinya
Jasma Ryadi
Flash
Anatomi Tempat Tidur
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
Satu Kali Lagi
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
Laut yang Tak Menjawab
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
Tanganku di Timur, Hatimu di Barat
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
Bingkai Tak Berujung
Jasma Ryadi