Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
"Om, besok anterin anak saya ke sekolah, ya?"
"Siap, Bu. Jam tujuh, kan?"
"Jam setengah tujuh harus udah di rumah. Jangan cuma ngomong aja, Om!" Seorang ibu terlihat sedikit memarahi pria yang sedang berjalan sambil menuntun motornya yang mogok.
"Tenang, Bu. Sumpah, deh, besok enggak telat."
Belum sampai seratus meter berjalan, Om Do kembali ditegur. "Om Do! Besok anterin saya ke pasar, ya? Jangan sampe saya nungguin, tapi enggak jadi."
"Siap, Bu! Besok saya jemput setelah nganterin anaknya Bu Imah, deh. Sumpah, Bu, besok enggak telat lagi!"
"Om! Katanya mau nongkrong?" tegur bapak pemilik angkringan.
"Kapan-kapan, ya, Pak. Ini motornya lagi mogok. Nanti kalo uang udah lancar, bisa beli motor cakep, sumpah, deh, angkringan bapak yang pertama dilarisin." Meskipun merasa lelah, Om Do tetap tersenyum ke setiap orang.
"Om, uangnya udah diterima. Besok-besok jangan ngomong mau bayar utang cepet, padahal ngaret lama. Jujur aja, Om! Jangan bawa-bawa sumpah. Ngeri saya, omongan Om Do susah dipegang!"
"Siap, Neng! Hehe, maaf, Neng. Sumpah, deh, besok enggak sumpah-sumpah lagi." Om Do terkikik dan melanjutkan jalannya hingga sampailah di bengkel.
**
Esok paginya, tepat jam enam pagi Om Do sudah siap untuk memulai ojeknya. Namun, pria itu bingung karena rumahnya yang tiba-tiba saja menjadi kerumunan massa. Di antara kerumunan tersebut, Om Do melihat Bu Imah. "Bu, ini ada apa? Anak ibu jadi dianterin ke sekolah enggak? Saya udah bangun pagi, nih."
Tidak ada sahutan sama sekali. Om Do mulai merasa heran karena Bu Imah seakan tidak melihatnya sama sekali. Sampai ketika matanya mengikuti arah pandang semua orang, baru ia melihat dirinya sendiri yang tengah berbaring di ruang tamu.
"Padahal kemarin saya baru minta buat nganterin anak saya."
"Saya juga minta dianterin ke pasar, Bu."
"Baru aja kemarin Om Do bilang enggak akan sumpah-sumpah lagi," seorang perempuan muda yang biasa dipanggil 'Neng' turut berkomentar dengan mata yang berkaca-kaca.
Om Do terpaku di tempat melihat dirinya lelap di lantai dengan mulut berbusa. Ia harap ini mimpi, tetapi ingatan semalam saat ia sedang makan permen dan tersedak membuatnya tahu apa yang sebenarnya terjadi. Om Do menangis meraung-raung. Ia menyesali semuanya dan meminta maaf ke semua orang agar tidak menagih janji lagi. Sayangnya, tidak ada yang mendengarkan. Sama seperti janji manisnya, tidak ada lagi yang mau mendengar Om Do.