Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Aska menatap pantulan dirinya di cermin, tangannya mengaitkan jam di tangan kirinya. Ia merapikan kerah kemejanya yang sudah sempurna. Matanya terangkat lagi ke cermin, kini menatap seorang laki-laki yang nyaris tanpa ekspresi. Hanya jarinya yang terus menarik ujung kemejanya tanpa sadar. Dua tahun, sudah selama itu waktu berlalu, apakah ia akan bertemu lagi dengan gadis itu sekarang?
…
Aula tempat reuni tampak padat dan sesak dengan banyaknya orang, padahal dulu saat ia masih berada di sekolah, rasanya aula ini sangat besar. Ia mengambil salah satu gelas dengan cairan hitam di dalamnya, tangannya menggoyang-goyangkannya, membiarkan isinya berputar pelan. Matanya menatap berkeliling, banyak wajah yang ia kenali, tapi gadis itu tidak ada di sana.
"Ta."
Panggilan itu membuat kepalanya berputar dengan cepat, mencari sumber suara. Tidak terlalu jauh, seorang laki-laki berkemeja hitam berjalan mendekat ke seseorang, di ujung satunya, sosok itu ada di sana. Untuk pertama kalinya setelah mereka berpisah, Aska dapat melihat wajah itu lagi dengan tatapan yang hanya melihat ke arahnya… seperti dulu.
"Hai, Cinta." Ejek seorang laki-laki di kelas saat seorang anak baru memperkenalkan namanya. Kelas seketika riuh, bahkan mereka tidak melihat si anak baru yang wajahnya sudah memerah seperti kepiting rebus.
Gadis itu meremas tangannya sendiri, bibirnya ia gigit hingga telihat tak lagi ada darah yang mengalir di sana.
Brakk
Aska menggebrak meja di depannya dengan bosan.
Ia mengalihkan pandangannya ke jendela, di luar angin menerbangkan daun-daun kering yang berterbangan. Setidaknya pemandangan itu lebih menyenangkan dibandingkan melihat tingkah laku teman-teman sekelasnya yg kekanakan.
Ia menekuk sikunya, menyandarkan kepala di tangannya tanpa berpaling, bahkan saat Pak Budi memulai ceramahnya seperti biasa.
Suara-suara di belakangnya sudah tak terdengar, matanya sibuk menikmati pemandangan di luar jendela.
Bangku di sampingnya berderik ketika seseorang menggesernya, siswi baru itu duduk di sana dengan canggung.
Saat itu ia tidak tau, bahwa orang yang kini duduk di sebelahnya akan menjadi alasan baginya untuk tersiksa selama hampir dua tahun.
Matanya masih tak meninggalkan Tata, ketika gadis itu menyapa laki-laki berkemeja hitam dan tersenyum padanya, mata Aska bahkan belum berpaling sama sekali. Setelah satu detik yang terasa panjang, dari balik pundak hitam, mata mereka kembali terkunci.
"Hai."
Hanya satu kata sederhana, tapi Aska tau, bahkan setelah dua tahun berlalu kisahnya belum selesai.
Silahkan baca DATK- Bukan Titik untuk melihat dari versi si gadis.