Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Horor
Datang
2
Suka
4,058
Dibaca

“Dia datang,” ucap Ibu dengan suara serak dan menggigil.

Setiap malam, selepas magrib, selama dua tahun terakhir, Ibu selalu berkata seperti itu. Kadang, aku menangis ketakutan. Kadang, aku hanya mengangguk, membenarkannya dalam hati. Namun, sesekali aku berbicara dengan nada tinggi kepadanya, bersikeras bahwa tidak ada siapa pun di luar—lalu menyeretnya ke kamar.

Malam ini, aku tidak tahu harus menjadi yang mana.

Pintu depan sama sekali tidak diketuk, tetapi udara di ruang tamu mendadak mendingin, mencengkeram tengkuk. Tidak ada yang seharusnya pulang. Di rumah ini, hanya ada aku dan Ibu yang tinggal.

Ibu meringkuk di sudut sofa, jemarinya yang pucat meremas ujung daster.

“Tidak ada siapa-siapa, Bu.” Aku mencoba tetap tenang. Sementara, napasku mulai tersengal, paru-paru menyempit.

“Aaa… ada. Di… sana.” Suara Ibu terputus-putus. Telunjuknya mengarah ke jendela di belakangku, memaksaku untuk melihat.

Aku menyibakkan tirai, tidak lebih dari sejengkal. Mataku memutar, menyisir sisi demi sisi dengan presisi.

Kosong. Hanya ada halaman depan yang temaram disiram cahaya lampu jalan yang berkedip.

“Apa yang sebenarnya Ibu lihat?” tanyaku, tegas dan menekan.

Tidak ada jawaban. Hening membungkus hawa panas yang merangsek ke kulitku.

Saat aku berbalik, Ibu sudah menatapku. Tatapannya sangat dalam, seolah mencari sesuatu yang pernah ia kenal. Lalu, perlahan berubah. Matanya menyipit, napasnya memburu.

“Pergi!” jeritnya tiba-tiba. “Jangan ambil wajah anakku!”

Aku terpaku. Suasana yang Ibu ciptakan membuat rumah meremang. Lantai seakan meraba kakiku. Bahkan, aku mendengar derit pintu-pintu terbuka, padahal semuanya tertutup rapat.

“Kembalikan anakku!” Ibu mengulang narasi yang sama.

“Ini aku, Bu,” pekikku.

Ibu menggeleng keras. Tubuhnya kian merapat ke sandaran sofa. “Bukan. Kamu bukan anakku.”

Aku ingin mendekat, tetapi langkahku tertahan cepat. Di bawah cahaya lampu gantung yang kelelahan, bayanganku tidak bergerak bersamaku.

Ia tertinggal, dan perlahan berdiri di depanku, melepaskan diri dari kakiku. Tingginya sama denganku. Rambutnya terurai sejajar dengan rambutku. Aku tidak melihat wajahnya, tetapi aku tahu ia sedang meniruku.

Aku tak berani berkedip. Hanya bisa menyembunyikan napas di tenggorokan, diikuti tawa gugup yang pecah tanpa kendali.

Bayangan itu menoleh. Ia menyeringai dengan deretan gigi penuh. Ia masih punya geraham yang utuh. Taringnya tampak lebih panjang dan lebih tajam.

Ibu terisak pelan. “Dia sudah di sini. Dia berhasil masuk.”

Benar. Semua yang Ibu katakan bukan delusi. Sesuatu memang datang, dan ia tidak perlu mengetuk pintu.

Lampu-lampu berkelip liar. Angin mengaum, merobek atap.

Bayangan itu berbisik, “Aku yang akan menjaganya untukmu.”

Ia tidak hanya meniru bentukku. Ia juga mencuri suaraku.

Tubuhku lumpuh. Pandanganku runtuh ke dalam gelap.

Seandainya aku lebih sabar, tidak terus-menerus menyangkal kedatangannya, mungkin aku tidak harus menanggung rasa bersalah dan kekalahan ini.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (1)
Rekomendasi dari Horor
Flash
Datang
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
Paket atas Nama Adi
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
Lorong Kosong di Lantai Tiga
Risti Windri Pabendan
Cerpen
Bronze
Panggung Pertama dan Terakhir
anantara
Novel
Fright and Fear
Roy Rolland
Novel
Gold
Fantasteen Ghost Dormitory in Alaska
Mizan Publishing
Cerpen
Bronze
JIMAT SEMAR MESEM: Antara Cinta dan Kutukan
Sang Alifas Yang Merumput
Cerpen
Bronze
Burung Pembawa Kematian
Imajinasiku
Novel
Bronze
Derflow dan Delusi
White Blossom
Komik
AVENDOR
Audhy R.H
Novel
Bronze
Purnama Yang Menelan Pelangi Dan Senja
Meliana
Flash
Gentayangan
Afri Meldam
Cerpen
Bronze
Aku Sendiri
Kemal Ahmed
Flash
Bronze
Leak
Bksai
Komik
Bronze
REBORN
Aitzuga
Rekomendasi
Flash
Datang
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
Paket atas Nama Adi
Jasma Ryadi
Flash
Ombak, Luka, dan Hal-Hal yang Tetap Datang
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
Gamophobia
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
Adam
Jasma Ryadi
Flash
Layangan di Langit Hitam
Jasma Ryadi
Flash
Bu, Mengapa Orang-Orang Mati?
Jasma Ryadi
Flash
Bulan ke-10
Jasma Ryadi
Flash
Dahlia
Jasma Ryadi
Flash
Badut Biru
Jasma Ryadi
Flash
Lintang
Jasma Ryadi
Flash
Mengapa Aku Belum Mati?
Jasma Ryadi
Flash
Telepon
Jasma Ryadi
Flash
Jejak
Jasma Ryadi
Flash
Mereka Bilang Aku Setan
Jasma Ryadi