Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Horor
Datang
0
Suka
3
Dibaca
Flash Fiction ini masih diperiksa oleh kurator

“Dia datang,” ucap Ibu dengan suara serak dan menggigil.

Setiap malam, selepas magrib, selama dua tahun terakhir, Ibu selalu berkata seperti itu. Kadang, aku menangis ketakutan. Kadang, aku hanya mengangguk, membenarkannya dalam hati. Namun, sesekali aku berbicara dengan nada tinggi kepadanya, bersikeras bahwa tidak ada siapa pun di luar—lalu menyeretnya ke kamar.

Malam ini, aku tidak tahu harus menjadi yang mana.

Pintu depan sama sekali tidak diketuk, tetapi udara di ruang tamu mendadak mendingin, mencengkeram tengkuk. Tidak ada yang seharusnya pulang. Di rumah ini, hanya ada aku dan Ibu yang tinggal.

Ibu meringkuk di sudut sofa, jemarinya yang pucat meremas ujung daster.

“Tidak ada siapa-siapa, Bu.” Aku mencoba tetap tenang. Sementara, napasku mulai tersengal, paru-paru menyempit.

“Aaa… ada. Di… sana.” Suara Ibu terputus-putus. Telunjuknya mengarah ke jendela di belakangku, memaksaku untuk melihat.

Aku menyibakkan tirai, tidak lebih dari sejengkal. Mataku memutar, menyisir sisi demi sisi dengan presisi.

Kosong. Hanya ada halaman depan yang temaram disiram cahaya lampu jalan yang berkedip.

“Apa yang sebenarnya Ibu lihat?” tanyaku, tegas dan menekan.

Tidak ada jawaban. Hening membungkus hawa panas yang merangsek ke kulitku.

Saat aku berbalik, Ibu sudah menatapku. Tatapannya sangat dalam, seolah mencari sesuatu yang pernah ia kenal. Lalu, perlahan berubah. Matanya menyipit, napasnya memburu.

“Pergi!” jeritnya tiba-tiba. “Jangan ambil wajah anakku!”

Aku terpaku. Suasana yang Ibu ciptakan membuat rumah meremang. Lantai seakan meraba kakiku. Bahkan, aku mendengar derit pintu-pintu terbuka, padahal semuanya tertutup rapat.

“Kembalikan anakku!” Ibu mengulang narasi yang sama.

“Ini aku, Bu,” pekikku.

Ibu menggeleng keras. Tubuhnya kian merapat ke sandaran sofa. “Bukan. Kamu bukan anakku.”

Aku ingin mendekat, tetapi langkahku tertahan cepat. Di bawah cahaya lampu gantung yang kelelahan, bayanganku tidak bergerak bersamaku.

Ia tertinggal, dan perlahan berdiri di depanku, melepaskan diri dari kakiku. Tingginya sama denganku. Rambutnya terurai sejajar dengan rambutku. Aku tidak melihat wajahnya, tetapi aku tahu ia sedang meniruku.

Aku tak berani berkedip. Hanya bisa menyembunyikan napas di tenggorokan, diikuti tawa gugup yang pecah tanpa kendali.

Bayangan itu menoleh. Ia menyeringai dengan deretan gigi penuh. Ia masih punya geraham yang utuh. Taringnya tampak lebih panjang dan lebih tajam.

Ibu terisak pelan. “Dia sudah di sini. Dia berhasil masuk.”

Benar. Semua yang Ibu katakan bukan delusi. Sesuatu memang datang, dan ia tidak perlu mengetuk pintu.

Lampu-lampu berkelip liar. Angin mengaum, merobek atap.

Bayangan itu berbisik, “Aku yang akan menjaganya untukmu.”

Ia tidak hanya meniru bentukku. Ia juga mencuri suaraku.

Tubuhku lumpuh. Pandanganku runtuh ke dalam gelap.

Seandainya aku lebih sabar, tidak terus-menerus menyangkal kedatangannya, mungkin aku tidak harus menanggung rasa bersalah dan kekalahan ini.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Horor
Flash
Datang
Jasma Ryadi
Komik
Bronze
Hu-man: The Perfect Child
morningmoonmoon.id
Flash
Dari Dimensi Lain
bomo wicaksono
Cerpen
Bronze
Tumbal
Refy
Flash
Negeri Cermin
BANYUBIRU
Novel
PERJANJIAN
Tira Riani
Komik
Bronze
Paket menjelang senja
BT family
Novel
Bronze
Perjamuan Terakhir Boneka Porselen
Aprilia Budi Paramita
Cerpen
Bronze
Di Balik Layar
Johanes Gurning
Novel
Fright and Fear
Roy Rolland
Novel
Pesantren Gaib
Ariny Nurul haq
Flash
Malam Jum'at
Arlindya Sari
Flash
Aku Ingin Melihatmu
Fia Shofia
Cerpen
WIRADELIMA(IB.webtoon WIRADELIMA)
icikiwir
Novel
JASAD DI DASAR JEMBATAN
Heru Patria
Rekomendasi
Flash
Datang
Jasma Ryadi
Flash
Diam yang Menghukum
Jasma Ryadi
Flash
Layangan di Langit Hitam
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
Tanganku di Timur, Hatimu di Barat
Jasma Ryadi
Flash
Teras
Jasma Ryadi
Flash
Rumah Tanpa Isinya
Jasma Ryadi
Flash
Gerimis yang Percuma
Jasma Ryadi
Flash
Telepon
Jasma Ryadi
Flash
Mengasuh Sabar
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
Efisiensi
Jasma Ryadi
Flash
Dahlia
Jasma Ryadi
Flash
Bagaimana Jika Aku Tidak Menikah?
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
Inang
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
Semangkuk Mie Ayam Sebelum Mati
Jasma Ryadi
Flash
Aroma Semur
Jasma Ryadi