Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Romantis
Pelembab Bibir
1
Suka
5,547
Dibaca
Flash Fiction ini masih diperiksa oleh kurator

Namaku Ara. Aku sudah berpacaran satu tahun ini dengan Ardi, hanya saja kami berbeda kota, jadi jarang bertemu. Ini jadwalnya kami bertemu saat sama-sama libur dari kerja. Dia menjemputku di tempat biasanya kami bertemu. Aku membawa motor sendiri, dia juga membawa motornya. Dia mengiringiku dari belakang sampai ke kosan. Sepanjang perjalanan, ia selalu melihat spion untuk memastikan aku tetap aman berkendara di belakangnya. Singkat cerita, kami sampai di kosan.

“Assalamualaikum,” salamku begitu ia membuka pintu.

“Waalaikumsalam,” jawabnya lalu meletakkan kunci motor.

Aku duduk bersandar dekat pintu. Kami mengobrol seperti biasa sampai menjelang waktu azan Zuhur.

“Mau sholat di sini atau di masjid?” Kebetulan masjid dekat dengan kosan.

“Masjid aja.” Kami berjalan kaki ke sana. Selesai sholat, ia menungguku di tangga. Setelah itu, aku mencium tangannya. Kami kembali lagi ke kosan.

Aku mengeluarkan alat riasan dari tas, sementara dia hanya melihatku mulai merias wajah. Merasa diperhatikan, aku maju dan duduk di depannya. Ia melebarkan kaki agar aku berada dalam lingkarannya.

“Kenapa?” tanyaku sambil menatapnya.

“Enggak apa-apa.”

Ia kembali ke gamenya, dan aku melihat bibirnya kering. “Bibirnya kering sekali,” komentarku. Aku mengeluarkan pelembap tanpa warna dari dalam tas.

“Sini.” Aku sedikit menengadahkan wajahnya, lalu dengan kelingkingku mulai mengoleskan pelembap itu di bibirnya.

Ia terus menatapku. Aku hanya tersenyum tipis sambil terus mengoleskan sampai merata.

“Ini kalau dimakan aman, enggak?” tanyanya.

“Aman, tapi enggak boleh dimakan juga.” Aku masih serius dengan bibirnya dan pelembap itu.

“Oh.”

Tanpa aba-aba, ia mencium bibirku. Manis dari pelembap tadi bercampur di antara bibir kami. Perlakuannya yang tiba-tiba membuatku terpaku, sampai jariku saja belum turun.

Ia memegang tanganku, membawanya turun, masih dengan penyatuan bibir kami.

“Manis,” komentarnya, sedangkan aku masih terpaku.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Romantis
Flash
Pelembab Bibir
Nila Kresna
Novel
The Billionaire's Pet
Chacha Prima
Novel
Bronze
My Boss?
Tania
Novel
Bronze
Love is Dangerous
Juya
Novel
Kersen Merah Jambu
Fasihi Ad Zemrat
Novel
Tentang Kita: Yang Tertulis untuk Bian
Nandreans
Skrip Film
Kau Mentariku
Andhika Yudistira Syah Putra
Skrip Film
Bangku Berhadapan pada Sebuah Gerbong Kereta
Latif Pungkasniar
Novel
Bronze
Rumah Syauqi
Pipit Laila Fitria
Novel
LAST LOVE Amara Vers
Laila Nur Fitria D
Cerpen
KAMU, AKU DAN KENANGAN
lilla safira alhasanah
Novel
Bronze
AKAD
Icha Azzahra
Novel
Dentuman Hati di Balik Tabir
Shyellee
Novel
Biarkan Air Mengalir Sebagaimana Hujan
dari Lalu
Cerpen
Winter In My Heart
Diyah Ayu NH
Rekomendasi
Flash
Pelembab Bibir
Nila Kresna
Flash
Bronze
Hampir Disetubuhi Dalam Mimpi
Nila Kresna
Flash
Bronze
Meja Operasi
Nila Kresna
Flash
Janji yang Tidak Benar-benar Pergi
Nila Kresna
Flash
Janji ||
Nila Kresna
Novel
Perempuan Berniqab Hitam 2
Nila Kresna
Novel
Cinta Di Langit Finlandia
Nila Kresna
Novel
Lebaran 1994 Rumah yang tak Pernah Berbagi
Nila Kresna
Novel
WANGSA
Nila Kresna
Novel
Angkasa Raya
Nila Kresna