Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Romantis
Pelembab Bibir
1
Suka
42
Dibaca
Flash Fiction ini masih diperiksa oleh kurator

Namaku Ara. Aku sudah berpacaran satu tahun ini dengan Ardi, hanya saja kami berbeda kota, jadi jarang bertemu. Ini jadwalnya kami bertemu saat sama-sama libur dari kerja. Dia menjemputku di tempat biasanya kami bertemu. Aku membawa motor sendiri, dia juga membawa motornya. Dia mengiringiku dari belakang sampai ke kosan. Sepanjang perjalanan, ia selalu melihat spion untuk memastikan aku tetap aman berkendara di belakangnya. Singkat cerita, kami sampai di kosan.

“Assalamualaikum,” salamku begitu ia membuka pintu.

“Waalaikumsalam,” jawabnya lalu meletakkan kunci motor.

Aku duduk bersandar dekat pintu. Kami mengobrol seperti biasa sampai menjelang waktu azan Zuhur.

“Mau sholat di sini atau di masjid?” Kebetulan masjid dekat dengan kosan.

“Masjid aja.” Kami berjalan kaki ke sana. Selesai sholat, ia menungguku di tangga. Setelah itu, aku mencium tangannya. Kami kembali lagi ke kosan.

Aku mengeluarkan alat riasan dari tas, sementara dia hanya melihatku mulai merias wajah. Merasa diperhatikan, aku maju dan duduk di depannya. Ia melebarkan kaki agar aku berada dalam lingkarannya.

“Kenapa?” tanyaku sambil menatapnya.

“Enggak apa-apa.”

Ia kembali ke gamenya, dan aku melihat bibirnya kering. “Bibirnya kering sekali,” komentarku. Aku mengeluarkan pelembap tanpa warna dari dalam tas.

“Sini.” Aku sedikit menengadahkan wajahnya, lalu dengan kelingkingku mulai mengoleskan pelembap itu di bibirnya.

Ia terus menatapku. Aku hanya tersenyum tipis sambil terus mengoleskan sampai merata.

“Ini kalau dimakan aman, enggak?” tanyanya.

“Aman, tapi enggak boleh dimakan juga.” Aku masih serius dengan bibirnya dan pelembap itu.

“Oh.”

Tanpa aba-aba, ia mencium bibirku. Manis dari pelembap tadi bercampur di antara bibir kami. Perlakuannya yang tiba-tiba membuatku terpaku, sampai jariku saja belum turun.

Ia memegang tanganku, membawanya turun, masih dengan penyatuan bibir kami.

“Manis,” komentarnya, sedangkan aku masih terpaku.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Romantis
Flash
Pelembab Bibir
Nila Kresna
Novel
Bronze
Tidak Apa-apa Tidak Sempurna
Ravistara
Flash
Langit Kelabu Tanda Hujan Tak Kunjung Reda
winda aprillia
Novel
Bronze
Memori Sonata
🕯Koo Marko✨
Novel
HALFPACE
pearsnpearls
Flash
Tentang Hujan dan Lentera yang Bersandar di Samping Jendela
Muhammad Hamdan Mukafi (Emhaf)
Novel
KORONA
Raja Muda Hasibuan
Novel
Memoria
Fiha Ainun
Novel
Bronze
Memories Of Rain
Diyah Islami
Cerpen
Bronze
Aku, Pensil 2B, dan Cinta yang Berwarna
Ardhi
Novel
Ochilisious
Aprilia Ningsih
Novel
Bronze
MERENGKUH LANGIT
Lintang Kalani
Novel
The Law Of Psychology
Pramdigdya Sasliandri Priantama
Novel
The Day After Tomorrow
nothin' on me
Novel
When Women Married with a Crazy Gay
Jatra Saputra
Rekomendasi
Flash
Pelembab Bibir
Nila Kresna
Novel
Cinta Di Langit Finlandia
Nila Kresna
Novel
WANGSA
Nila Kresna
Flash
Janji yang Tidak Benar-benar Pergi
Nila Kresna
Flash
Bronze
Hampir Disetubuhi Dalam Mimpi
Nila Kresna
Flash
Bronze
Meja Operasi
Nila Kresna
Novel
Perempuan Berniqab Hitam 2
Nila Kresna
Novel
Lebaran 1994 Rumah yang Tak Pernah Berbagi.
Nila Kresna
Novel
Angkasa Raya
Nila Kresna