Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Drama
Dahlia
2
Suka
5,882
Dibaca

Pagar bambu di halaman rumah itu sudah mulai melapuk. Fondasinya tak lagi membentuk sekat yang simetris. Namun, di baliknya, ada yang dipaksa berdiri menadah ke langit. Kelopaknya kuning keemasan, warna yang terlalu terang, seolah sengaja menyerap cahaya matahari pagi agar batangnya kokoh lebih cepat. Ia tampak merona dalam isolasi diri.

Aku menyandarakan sepeda jengki tua di batang pohon mangga. Dari jarak lima meter, aku memperhatikannya dengan saksama. Ia menari bersama angin. Daunnya mengepak, akarnya berusaha menopang setiap gerakan—tetapi ia masih sangat kaku. Ia mengingatkanku pada sesuatu yang terlalu dini, atau mungkin sesuatu yang belum waktunya kumiliki.

Dunia kadang terasa sinis, memberi celah tanpa melapangkan ruang. Bertemu, lalu mengeja nama dalam hati. Kadang bukan takut berucap, melainkan takut salah menyodorkan tangan.

Dahlia itu melirik ke arahku. Ia menyadari aku tengah memandanginya. Ia tersenyum kecil. Tidak marah. Tidak mengusir. Namun, aku merasa ada jarak yang ia pelihara dalam caranya tersenyum. Ia tidak seperti melati yang pasrah dipetik untuk pengharum ruangan, atau seperti mawar yang senjatanya terlalu jelas terlihat.

Ia mekar di saat bunga-bunga lain masih tertidur, di akhir musim panas hingga awal musim gugur. Ia menjaga taman tetap memiliki keindahan, walau strukturnya belum mengembang sempurna. Satu sentuhan saja bisa meruntuhkan segalanya. Ia rentan. Ia adalah kerapuhan yang harus menanggung suatu vegetasi.

“Sampai kapan kamu di sana?” tanyaku, bergumam.

Aku teringat lirik-lirik yang kudengar dari radio usang milik Bapak. Tentang janji yang terdengar menyuburkan, tetapi justru membuat layu. Tentang riuh yang datang sebentar, lalu pergi tanpa rasa bersalah.

Ia mungkin bisa menjaga keutuhannya. Namun, aku meliihat sisi gelap dari mekar yang prematur: semakin lebar ia terbuka, semakin mudah tangan-tangan usil mematahkan tangkainya. Ia dibawa ke dalam kamar-kamar yang pengap untuk diijadikan penghias sementara. Warnanya pun tak akan lagi alami karena ia mengabsorpsi nutrisi dari vas yang ia tempati.

Tangan kananku meraba saku kemeja yang lepek oleh keringat. Ada keinginan untuk melangkah, melewati pagar itu, memastikan kelopaknya yang seperti beludru terbebas dari debu. Aku juga ingin memastikan sikapnya yang dingin—karena terbiasa ditatap dari luar atau menyimpan hangat yang selama ini kucari.

Baru satu kaki berayun, langkahku langsung tertahan. Seekor makhluk bersayap kaku hinggap dengan kasar di atas mahkotanya. Suara dengungnya merusak sunyi yang sedari tadi kujaga. Ia mendarat hanya untuk mencuri nektar dengan tergesa, mengacak-acak simetri kelopak. Setelah itu, ia pergi tanpa pernah menoleh lagi.

Serangga itu datang hanya untuk mencicipi manis di ujung lidah. Persis seperti penggalan terakhir di lirik lagu yang kudengar itu: banyak yang mengaku cinta dengan mengisap madu, tetapi tidak mau menjaga kemurniannya.

Aku kembali menaiki sepeda. Pedal kuputar perlahan, meninggalkan pertanyaan yang tak terjawab olehnya. Sesekali aku menoleh ke belakang sebelum terus melaju, melepaskan hasrat untuk menyentuhnya. Aku memilih membiarkan ia tetap di halaman rumah itu, menjadi rahasia yang membusuk di balik pagar bambu.

Apakah ia akan bertahan sampai musim depan? Ataukah esok pagi, seorang pria asing dengan gunting dan dompet tebal akan datang membawanya pergi?

Aku tidak tahu. Terkadang, mencintai sesuatu berarti membiarkannya tetap menjadi kemungkinan, bukan kepastian yang berakhir layu di genggaman.

Entahlah. Aku terus mengayuh, dan di tikungan jalan, bayangan kuning keemasan itu hilang dari spion, menorehkan sesak yang bersedimentasi menjadi rasa berdosa.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Flash
MUSIM KEMARAU
Apriliana Michel
Flash
Dahlia
Jasma Ryadi
Novel
Bronze
Querencia
Delana Siwarka
Novel
KACA MATA HITAM
salsafmilenia
Novel
Zachariel
Davian Mel
Novel
Rumah Para Pelacur
Diva Aelah
Flash
Surprise
Ilfi Rahmadani
Flash
Kondangan rasa reuni
Devita Sukma Nur Alifa
Flash
Bronze
Harus Tidur
Rere Valencia
Cerpen
Maharnya ? Sekarung Awan Impor
Mahalawan
Cerpen
JARWO & JAMILA
MUCHAMAD FADHLI
Novel
Bronze
Money Baby
Naomi Saddhadhika
Novel
Ringan Seperti Kapas
Muhammad Alfi Rahman
Komik
Do you hate me ?
takatin
Skrip Film
Jadikan Aku Islam
Herman Siem
Rekomendasi
Flash
Dahlia
Jasma Ryadi
Flash
Ikan adalah Luka
Jasma Ryadi
Cerpen
Silsilah Para Penambal
Jasma Ryadi
Novel
Karantina
Jasma Ryadi
Flash
Teras
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
Inang
Jasma Ryadi
Flash
Diam yang Menghukum
Jasma Ryadi
Flash
Sepatu Basah
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
Anita dan Penghuni Lain
Jasma Ryadi
Flash
Tuhan, Jadikan Hariku Senin Selalu
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
Teman yang Tidak Datang ke Pemakaman
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
Simetris
Jasma Ryadi
Flash
Bu, Mengapa Orang-Orang Mati?
Jasma Ryadi
Flash
Bagaimana Jika Aku Tidak Menikah?
Jasma Ryadi
Novel
Bronze
Mereka di Sini
Jasma Ryadi