Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Aku sedang kesal, dongkol banget, sampai asap hampir keluar dari kepala.
Di depan mataku, Davian berjalan sambil bergandengan tangan dengan seseorang berambut panjang, lurus, berkilau, lebih halus dari rambutku yang tiap pagi berantem sama sisir.
Orang itu tertawa manja, bahunya menempel ke bahunya Dav.
Oh jadi begini caranya? diam-diam mesra di tempat umum?
Davian bahkan membetulkan helai rambut orang itu dengan lembut.
Rasanya kok sakit banget.
Aku mengikuti mereka diam-diam sampai ke depan kafe, mereka berhenti. Orang itu memeluk Dav.
Aku tak tahan lagi.
“DAV!”
Mereka menoleh bersamaan.
Davian kaget setengah mati, “Lho, Laras?”
“Aku? Harusnya aku yang tanya! Ini siapa?!”
Orang berambut panjang itu melepas kacamata hitamnya.
Rahang kotak.
Suara bariton.
“Bro, ini cewek lu?”
Aku terdiam.
Davian menepuk jidat. “Ya ampun, ini Rio, teman lama gue Ras.”
“Teman?” suaraku mengecil.
Rio mengibaskan rambutnya. “Model runway, Kak. Rambut aset utama.”
Aku masih belum pulih.
Davian nyengir. “Dia tadi pinjam tangan gue karena heels-nya licin.”
Rio mengangguk serius. “Dan aku butuh energi maskulin.”
Aku ingin pingsan.
Rio lalu menatap rambutku dan berkata, “By the way, conditioner kamu apa? Ujungnya kering deh kayaknya.”