Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Ki, mau dianter lagi nggak nanti sampe ke halte busway? Kalo iya, ntar gue antarin. Gue mau makan mie ayam deket halte busway disitu. Kata orang enak banget. Lo mau nyoba makan nggak sama gue nanti? Kelihatan banget modusnya ya, Ki? Hehehe maaf ya, Ki, tapi jangan di tolak dong ya Ki :)
Kiara nyaris meledakkan tawa jika saja ia tidak cepat-cepat menggigit bibir bawahnya untuk mengendalikan diri.
Ia baru saja menerima secarik kertas kumal hasil estafet panjang dari teman-teman sebaris mejanya—sebuah pesan super 'modus' dari Noah Fosters. Kiara berusaha setengah mati membacanya tanpa menimbulkan kecurigaan Mrs. Williams, yang saat ini tengah sibuk menerangkan kerumitan rumus aljabar di depan kelas.
Sambil menahan tawa yang menggelitik dada dengan menekan jemari di depan bibir kuat-kuat, Kiara sebisa mungkin mencuri tatapan ke seberang deretan meja di bagian kanan kelas.
Radar matanya tertuju pada Noah, cowok blasteran Spanyol yang kini sedang meringis lebar, memamerkan senyum konyol yang terlihat persis seperti anak kecil yang baru saja tertangkal basah melakukan kenakalan.
Noah kemudian membuat gerakan mengangguk-angguk antusias ke arah Kiara, bibirnya komat-kamit tanpa suara, membuat gerakan untuk meyakinkan Kiara agar menerima ajakannya sepulang sekolah nanti.
Wajah Kiara langsung memanas, rona merah mulai menjalar di pipinya, hingga Kiara tidak kuasa lagi untuk menahan tawa lebih lama.
Sayangnya, James menyaksikan setiap detik adegan menyebalkan itu tepat di depan matanya. Tak ada satu pun detail yang lolos dari tangkapan retina mata abu-abunya yang tajam.
Karena James duduk tepat di belakang Kiara, ia jadi punya posisi paling strategis untuk menonton setiap drama bisu nan kacangan di depannya dari awal sampai akhir.
Dan semakin reka adegan antara Noah dan Kiara berlangsung di depan mata James, semakin membara pula gejolak cemburu di dalam dada cowok itu.
Kaki panjang James dengan impulsif bergerak gusar di bawah meja, berusaha menjangkau kaki Kiara. Ia menendang pelan, mencoba menarik perhatian Kiara agar setidaknya mau menoleh sedikit saja ke arah James. Namun, sekeras apa pun James berusaha menarik perhatiannya, gadis yang sudah tiga hari ini enggan berbicara dengan James tetap bersikeras mengabaikan keberadaannya.
Biasanya, Kiara selalu lari padanya.
Biasanya, James adalah orang pertama yang akan mendapat laporan detail dari Kiara tentang siapa pun yang berusaha mendekatinya secara terang-terangan.
Biasanya, Kiara akan langsung menanyakan pendapat James tentang apa yang harus dilakukannya untuk menolak setiap pendekatan dari para cowok-cowok di sekolah mereka.
Dan biasanya juga, James akan selalu senantiasa pasang badan, mewakili penolakan Kiara dengan bergerak maju paling depan mengusir setiap cowok yang berani mendekati Kiara.
Tapi kali ini berbeda. Semenjak pertengkaran hebat mereka dan kebodohan fatal yang dilakukan James tiga hari yang lalu, Kiara masih konsisten menjalankan aksi puasa bicara pada James. Hal itu sukses membuat James jadi semakin uring-uringan dan frustrasi setengah mati dalam beberapa hari terakhir.
Tiba-tiba saja, James merasa seperti baru saja dicekik, saat dilihatnya Kiara mengambil sebuah pulpen untuk menuliskan balasan di surat Noah.
Yang membuat tubuh James menegang bukan karena gadis itu menjawab apapun yang Noah tuliskan di selembar kertas tersebut.
Melainkan senyum Kiara.
Gadis itu mengulum senyum yang tidak pernah ia berikan pada siapapun, termasuk pada James sendiri.
Senyum Kiara kali ini berbeda.
Bukan senyuman tanda penolakan yang sudah James hapal mati bentuknya.
Senyuman Kiara kali ini, membuat kedua pipinya merona merah.
Dan senyuman menggemaskan itu bukan untuk James.
Darah James seolah tersulut naik ke atas kepalanya dalam sekejap.
Dengan gerakan kesetanan yang tak mampu ia kendalikan, tubuhnya berdiri sangat cepat hingga menciptakan bunyi derak pada meja James yang terdengar gaduh dan kasar.
Kegaduhan James kontan membuat seisi kelas tersentak kaget dan menoleh bersamaan ke arah James. Di saat yang sama pula, dengan gesit tangan James menyambar secarik kertas dari tangan Kiara yang hampir saja cewek itu lipat.
Kiara membelalak hebat, terkejut bukan main karena kertas di tangannya kini sudah beralih tangan dalam hitungan detik.
James kembali duduk, bersikap tak acuh seolah-olah kegaduhan yang ia ciptakan tadi tidak pernah terjadi.
Sambil melempar senyum separo pada Mrs. Williams, James berkata acuh.
"Nothing happened here, Ma'am. We're fine."
Sementara Mrs. Williams kembali menuliskan materi pada lembar slide digital didepan kelas, Kiara menoleh tanpa suara, melotot tajam ke arah James.
"Give that letter back to me, you idiot!" desis Kiara tajam sambil berusaha merebut kertas di tangan James.
Namun, cowok itu sudah lebih dulu menjauhkan tangannya lebih cepat, di luar jangkauan Kiara.
"You didn't response to any of my question earlier, Ki," balas James dingin.
"Because I didn't have any obligation to report any of that to you! Lagipula, kamu juga tidak akan tahu isi suratnya ini apa. Kamu mana pernah paham bahasa Indonesia!" desis Kiara lebih tajam, masih pantang menyerah berusaha meraih kertas itu dari tangan James.
James tidak peduli. Tangannya semakin ia angkat tinggi-tinggi agar menghalau tangan Kiara yang menjangkaunya dengan susah payah.
Sedetik kemudian, James sengaja melempar tatapan keji kearah Noah yang masih duduk di mejanya.
James sudah bisa menduga, aksinya kali ini akan tepat memantik amarah cowok itu. Kini tidak ada lagi raut jahil atau senyuman renyah di wajah Noah.
Dengan kesadaran penuh, James memutuskan untuk melakukan satu kali lagi tindakan bodoh, yang James tahu, akan menimbulkan konsekuensi jauh lebih dahsyat dari sekadar didiamkan Kiara selama berhari-hari.
James merobek kertas di tangannya dengan gerakan yang sengaja diperlambat secara dramatis, memastikan setiap sobekannya tertangkap jelas oleh pandangan Noah maupun Kiara.
Tindakan provokatifnya sukses membuat Noah maupun Kiara melotot dan menganga lebar, tak percaya dengan apa yang mereka lihat.
James merobek kertas itu berkali-kali dengan penuh penekanan. Memastikan sobekannya terpecah sekecil mungkin hingga siapa pun tidak akan mampu untuk menyatukannya lagi.
Setelah puas, James mengembalikan tumpukan robekan kertas itu tepat di telapak tangan Kiara, yang tentu saja, diterima gadis itu dengan wajah melongo dan mulut menganga lebih lebar.
"Kamu mau memberi Noah jawaban, kan? Berikan ini untuk dia," ucap James dingin, menatap lurus ke mata Kiara. "Suruh dia usaha lebih keras untuk menyatukan semua ini, kalau dia memang mau tahu jawaban kamu apa untuk suratnya yang norak sekali itu."
*******
Ikuti kisah lengkap Kiara dan James di Novel mereka berjudul "Evernear" yang sudah ku publish di Kwikku juga ya teman-teman ♥️