Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Misteri
Ular Berbisa
0
Suka
2,941
Dibaca

Saat Risna berlari dari ladang belakang rumah, aku hanyut dalam simpati yang dalam. Jika sampai orang pendiam seperti Risna harus berteriak seperti itu berarti ada sesuatu yang menggelisahkan hatinya. Soalnya jarang sekali ia seperti itu, biasanya dia selalu terlihat tenang dan bisa mengendalikan diri dalam situasi terhimpit sekalipun.

“Ma!” pekiknya.

Suaranya berhasil membuat seisi rumah mengambur keluar. Piring-piring berisi nasi dan lauk ditinggal begitu saja di atas meja.

“Ada apa, Ris? Kenapa?” Wajah Mamah ikut panik. “Paman Yudi, Ma ... Paman Yudi.” Risna mengulang-ulang nama itu sambil menunjuk-nunjuk ke arah ladang. Mamah terus mengguncang-guncang tubuh Risna untuk menyadarkannya.

Papah tergopoh-gopoh menuju ladang. Ia juga memanggil-manggil nama adik iparnya itu. Ia menyisir barisan batang kopi yang lebat untuk menemukan laki-laki itu. dalam kalut yang menyelimutinya, Papah kembali ke rumah.

“Aku tidak ketemu, Yudi, Mah,” lapornya.

Risna yang sudah lebih tenang akhirnya angkat suara, “Paman Yudi. Dia ada dekat pohon besar itu, Pak. Dekat perbatasan.”

Papah segera paham. Ia kembali mengajak kakak laki-laki Risna menuju lokasi yang diterangkan. Mereka sangat tergesa-gesa, sampai kakak laki-laki tersandung beberapa kali. Mereka kembali menyusuri kebun kopi yang lebat itu. Sebenarnya mereka bisa memilih jalur lurus saja. Namun, perbatasan serasa sangat jauh karena kemelut di kepala mereka membuat mereka seperti orang linglung. Mereka berjalan berkelok-kelok, menepis ranting kopi yang menyambangi kepala mereka dan sesekali serapah ke luar dari mulut Papah.

“Tuhan!” Papah memekik. Matanya melotot dan ia tersungkur di hadapan tubuh berwajah pucat yang terbujur kaku tersebut. Papah mengguncang tubuh itu. “Telepon Mamah, Man. Segera bilang bawa angkong,” perintah Papah.

Arman merogoh saku celananya gelagapan. Ia menyentuh layar ponselnya dengan gemetar. “Pa ... Paman Yudi, meninggal, Mah,” terangnya ketika Mamah di balik telepon itu meminta kejelasan.

Seperti abu jerami bertemu angin, berita kematian Paman Yudi langsung menyebar. Orang-orang segera datang ke rumah menyambangi keluarga yang sedang berduka. Risna duduk di samping jenazah itu. Matanya berkaca-kaca, tetapi itu bukan air mata kesedihan, justru sebaliknya. Tidak ada lagi orang yang mengganggunya, melecehkannya dengan kata-kata kotor atau meraba-raba bagian tubuhnya yang molek itu.

Tidak ada orang yang tahu sebaik aku ketika Risna menyiapkan ular berbisa dalam kotak kayu yang biasanya dijadikan tempat sementara untuk burung hasil jerat tangkap Papahnya. Pun hanya aku yang tahu, ketika nafsu telah menguasai Paman Yudi ia gampang percaya pada Risna dan memasukkan tangannya ke dalam kotak itu. Papan kayu penutup kotak itu segera di dorong ke bawah tepat ketika pergelangan tangan Pak Yudi sudah masuk ke dalam. Paman Yudi menjerit dia berusaha menarik tangannya, tetapi Risna semakin mengencangkannya.

Paman Yudi kemudian melemah. Perlahan tubuh melorot dan jatuh ke tanah. Risna lalu melepas ular berbisa itu dan berlari menuju rumah. Ia tak menceritakan pelecehan yang diterimanya dari Paman Yudi. Yang terpenting baginya ialah memiliki kuasa atas tubuhnya kembali dan tidak akan pernah lagi kehilangannya. Aku menjadi saksi bagaimana Risna semakin kuat dalam diamnya. Ia mendesis pelan dengan gemulainya, lalu saat Paman Yudi merasa telah berhasil menjinakkan Risna, di situlah bisa paling mematikan disemburkan.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Misteri
Flash
Ular Berbisa
BANYUBIRU
Flash
Kurenggut Hidupnya
Via S Kim
Cerpen
Bronze
Lentara yang Padam
Nurfaizah
Novel
Rumah Pilu Tak Berpintu
Dann
Novel
Rumah Bertuah
Serenarara
Novel
Hayalism
Pipo Vernandes
Cerpen
Bronze
Obrolan Tengah Malam
Arcadio Buendia
Cerpen
Bronze
Zona Hijau -DILARANG MASUK-
andri hasanuddin
Cerpen
KAMUS 50 ISTILAH INTI VOLUME I
Tourtaleslights
Novel
Bronze
Sabtu Malam Lisa
Listian Nova
Cerpen
Bronze
Pelaku
Christian Shonda Benyamin
Flash
Gone Boy
Jatmiko Wicaksono
Flash
Bronze
AI, Pria Tua, di Malam Natal
Nuel Lubis
Novel
TERDAMPAR DI PULAU MENEKETEHE
Andhika Wandana
Flash
Lanjutan Si Kerudung Merah
Vika Rahelia
Rekomendasi
Flash
Ular Berbisa
BANYUBIRU
Flash
Aku Ini Presiden
BANYUBIRU
Flash
Kata Orang
BANYUBIRU
Flash
Monster
BANYUBIRU
Flash
Kiri, Pak!
BANYUBIRU
Flash
Keluarga
BANYUBIRU
Flash
Cincin Antik
BANYUBIRU
Flash
Nggak Kenal
BANYUBIRU
Flash
Surat Ramalan
BANYUBIRU
Flash
Badai Tidak Akan Berlalu
BANYUBIRU
Flash
Negeri Cermin
BANYUBIRU
Flash
Kembang Api
BANYUBIRU
Flash
Runyam
BANYUBIRU
Flash
Bersemi
BANYUBIRU
Flash
Suara-Suara
BANYUBIRU