Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Tata menyandarkan tubuhnya di pohon besar di belakangnya. Kakinya ia luruskan, satu buku yang terbuka tergeletak terbalik di pangkuannya. Semilir angin menyentuh lembut pipinya, menerbangkan rambutnya yang ia biarkan tergerai. Matanya tertutup, sedang telinganya ia sumpal dengan headphone yang memutar lagu yang belakangan ia sukai.
Tata mencoba fokus pada lagu yang didengarnya, tubuhnya ia sembunyikan sebaik mungkin di balik pohon besar yang ia sandari. Harusnya ini tempatnya bersembunyi, tapi saat ini, sepertinya ini adalah tempat yang paling ingin ia hindari. Di depan pohon itu adalah lapangan sepak bola, sedang ada permainan dari kelasnya dan kelas sebelah. Banyak suara bersorak sorai tapi yang paling banyak adalah cerita tentang dirinya, si anak baru. Meski mereka sendiri tidak sadar yang mereka bicarakan ada di balik pohon tak jauh dari mereka, semak di depan pohon cukup tinggi, hingga orang tak akan tau bahwa seseorang duduk di sini.
“Kudengar dia pindah-pindah terus karena terlibat masalah,” kata seorang gadis yang Tata sendiri tidak tau bagaimana wajahnya. Orang di sekitarnya berpekik dan balik bertanya tentang kebenaran itu,
“Lihat saja, bukankah dia sama sekali tidak berniat berteman?” Katanya lagi,
“Tapi siswa laki-laki banyak yang mengajaknya bicara,” timpal seseorang,
Gadis yang pertama kali bicara tertawa sinis, “Mereka hanya tertarik karena ada wajah baru.”
“Dia bahkan menanggapinya, padahal sama sesawa siswi dia jarang bicara.”
Rahangnya mengeras, Tata menaikkan volume musiknya, tangannya mencengkeram ponselnya erat. Bahkan dengan irama yang memenuhi telinganya, suara di balik pohon masih dapat ia dengar samar-samar, mengaburkan lirik lagu yang didengarnya. Matanya ia paksakan tetap terpejam, mencoba kembali tenggelam dalam lagu yang masih di putar, meski iramanya lewat begitu saja tanpa ada yang tertinggal.
Bayangan hitam tiba-tiba menghalangi matahari yang sejak tadi menyorot ke wajahnya, sebelum Tata dapat mendongak ke atas, suara teriakan terdengar berat.
“Berisik.”
Sosok itu ada di sana, matanya menatap gadis-gadis itu dengan tajam. Melihat wajahnya jelas sekali suasana hatinya sedang tidak baik. Tata melepas headphonenya, tak ada lagi suara-suara yang sejak tadi mengusiknya. Gadis-gadis itu beranjak dan pergi dari tempatnya. Apa ia harus pergi juga?
Mata mereka bertemu ketika Tata memutuskan untuk mengambil bukunya dan bersiap pergi dari sana, tapi laki-laki itu hanya terdiam, melihat Tata sekilas sebelum menjatuhkan tubuhnya di sisi lain pohon.
Tata mempercapat gerakkannya, mengambil semua barangnya yang berserakan.
“Berisik,” kata laki-laki itu, bukan teriakkan seperti tadi, suaranya terdengar bosan. Membuat Tata menghentikan semua gerakannya. Ia mendekap bukunya erat di dadanya, matanya mencuri pandang ke belakang. Laki-laki itu merebahkan tubuhnya, satu lengannya ia gunakan sebagai bantal sedang lengan yang lainnya menutupi matanya dari sinar matahari.
Tata meletakkan kembali bukunya, menyandarkan punggungnya lagi. Keheningan tiba-tiba terasa begitu menenangkan.