Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Religi
Layang-Layang
9
Suka
19,470
Dibaca

Suara benang putus meretas kesunyian di sore yang muram itu. Anak itu menangis, tapi segera melupakan penyebabnya. Dia kibas air mata, lalu berlari menghampiri ibunya yang menunggu di sudut lapangan. Dia menggenggam payung hitam dengan tangan kanannya. Tak lama kemudian, mereka menghilang di sudut jalan, dan kita tak akan melihatnya lagi.

Mendung membuat langit menjadi seperti lapisan dalam pada cangkang kerang. Angin berembus masai. Burung-burung terbang pulang. Hujan pun turun, menciptakan noktah hitam di permukaan aspal. Roda-roda kendaraan melindas genangan hingga menciptakan renjisan di celana pejalan kaki. Di langit, sehelai layang-layang berputar-putar tanpa kendali. Tak ada yang mendengar teriakannya, tak ada yang memperhatikannya melambaikan tangan. Begitu hujan turun dengan deras dan rapat, Bumi bagai kehilangan penghuni.

Kini, setelah tak ada lagi yang dapat dia lakukan untuk menyelamatkan diri, layang-layang itu hanya ingin pergi sejauh mungkin dari benang yang dipegang erat-erat—dan akhirnya putus—oleh anak kecil yang mudah menangis itu. Karena tak ingin dicari, dikejar, atau ditangkap, dia belajar terbang kepada seekor burung. Dengan sayapnya yang patah, meski harus menahan perih tak terperi, dia melambung di atas pohon, tiang lampu, dan kabel listrik. Dia berserah kepada angin saat letih menguasainya. Dia lenyap, muncul, naik, lalu turun. Setelah melewati sawah-sawah yang menguning, dia memandang takjub setapak yang sunyi.

Saat langit makin pekat, dia biarkan tetes-tetes air meleleh di tubuhnya. Dia biarkan panah-panah gerimis melubangi kulitnya. Dia biarkan rasa sakit pelan-pelan menyublim di jantungnya. Dia biarkan derita mendamaikannya. Karena tak lagi menarik—hanya rangka bambu yang hampir tak terlihat, dia tak perlu khawatir anak-anak akan mengejarnya. 

Akhirnya, cita-citanya tercapai, tak ada yang mempedulikannya, tak ada yang mencarinya. Dia bisa berkelana sesuka hati, meski sesekali harus meminta bantuan angin yang penyabar saat hampir menghantam tanah.

Dia terbang tanpa kenal lelah, meski tubuhnya tinggal belulang belaka. Dia melayang di atas desa dan kota, lalu memandang lirih bangunan-bangunan rumah ibadah yang beraneka ragam. Dia melewati perbatasan bangsa-bangsa, melampaui benua, menyeberangi lautan, lalu tanpa sadar menembus ruang dan waktu.

Layang-layang patah itu berjalan ke hari kemarin, bepergian ke masa lampau. Dia telusur jejak ziarah yang masih berdarah. Dia pandang iring-iringan yang begitu ramai. Dia dengar suara pecut yang tajam, tapi tak jua berhenti. Dia temukan para perempuan yang menangis tanpa mampu membendung isak. Dia pandang Mata itu, seperti Petrus di pagi yang baru saja. 

Dia jatuh di bukit Golgota; menjadi satu di antara tiga.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (2)
Rekomendasi dari Religi
Flash
Layang-Layang
Rafael Yanuar
Novel
Gold
Jodoh Dunia Akhirat
Mizan Publishing
Flash
Hari Lebaran Badru
Rudi Rustiadi
Novel
Gold
Kiai Hologram
Bentang Pustaka
Novel
Gold
Tafsir Al-Quran di Medsos: Mengkaji Makna dan Rahasia Ayat Suci pada Era Media Sosial (REPUBLISH)
Bentang Pustaka
Novel
Bronze
Jingga Ambang
Gia Oro
Cerpen
Bronze
Dialog
Eva Maulidiyah BL
Flash
Bronze
Surat Protes Untuk Tuhan
Mukti Dwi Wahyu Rianto
Novel
Bronze
Mantan: Masih Ada Cahaya Di sana!
Imajinasiku
Novel
Gold
Marry me! Or Never!
Mizan Publishing
Novel
Bronze
Seperti Apa Wajahmu Ayah?
Siti Nashuha
Novel
Reflection
Dita Sofyani
Novel
Rengkuh
Lily N. D. Madjid
Novel
Gold
Ada Pelangi di Balik Hujan
Mizan Publishing
Novel
Gelutuk Nyengir
Bias Divhanka
Rekomendasi
Flash
Layang-Layang
Rafael Yanuar
Cerpen
Rehat Sejenak
Rafael Yanuar
Flash
Merayakan Tahun Baru
Rafael Yanuar
Flash
Setelah Gelap Datang
Rafael Yanuar
Flash
Manusia Pertama
Rafael Yanuar
Flash
Ternyata Aku Masih
Rafael Yanuar
Cerpen
Toko Buku Kecil di Kaki Bukit
Rafael Yanuar
Cerpen
Gubuk Kecil di Kota Kuning
Rafael Yanuar
Flash
Bronze
Gadis Kecil Berkaleng Kecil
Rafael Yanuar
Flash
Aku Tak Ingin Mati Seperti Ini
Rafael Yanuar
Novel
Jalan Setapak Menuju Rumah
Rafael Yanuar
Cerpen
Hujan yang Arif Tahu Kapan Harus Turun
Rafael Yanuar
Cerpen
Arwah Kunang-Kunang
Rafael Yanuar
Flash
Ding Dong, Bioskop, dan Kafe
Rafael Yanuar
Flash
Secangkir Teh
Rafael Yanuar