Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
“Faira? Baby, are you alright? You’ve been there for almost an hour. I’m starting to worry.”
Suara Hero menyapa dari balik pintu kamar mandi, diikuti ketukan pelan yang sarat akan kecemasan sejak tadi.
Sedangkan Faira sudah nyaris tidak punya tenaga untuk menyahut kekhawatiran Hero, memberi kepastian bahwa dirinya baik-baik saja.
Karena dunia Faira sendiri kini sedang runtuh tak berdaya.
Sekujur tubuhnya masih bergetar hebat, seakan seluruh energinya telah habis terkuras, hingga Faira tak lagi mampu untuk hanya sekadar mengendalikan jemarinya yang sejak tadi menggigil hebat.
Tangan Faira mencengkeram benda pipih di genggamannya dengan kekuatan yang tersisa—seolah jika pegangan itu mengendur sedikit saja, ia akan langsung luruh dan hancur di atas lantai kamar mandi.
Faira terduduk kaku di atas penutup toilet. Matanya kembali terpaku pada benda di tangannya.
Di sana, Faira tercenung meratapi dua garis merah pada benda pipih ditangannya dengan nanar.
Tergambar dengan pekat dan jelas, seolah dua garis itu sedang mengejek Faira, menghantamkannya dengan keras pada realitas baru yang harus Faira hadapi ketika badai hidupnya yang lain bahkan belum selesai ia tangani.
Pada testpack ketiga yang kini tergenggam di jemari Faira, dua lainnya tergeletak tak berdaya di atas nakas wastafel, menjadi saksi bisu pertama atas keputusasaan Faira.
Pada percobaan pertama, hasil positif itu muncul begitu cepat, tanpa keraguan sedikit pun. Namun, Faira masih memupuk secercah penyangkalan bahwa alat pertama yang di gunakannya mungkin saja rusak, atau istilahnya yang sering Faira dengar, false positive.
Faira pun mencoba lagi untuk kedua kalinya, dengan merapalkan harapan dan doa semoga kekhawatirannya tidak benar-benar terjadi.
Namun Tuhan tampaknya tidak mampu mendengar harapan Faira.
Karena pada percobaan kedua, hasilnya pun tetap sama.
Pikiran Faira pun mulai kacau balau. Dada nya semakin sesak dipenuhi segala ketakutan.
Hingga percobaan ketiga pada testpack terakhirnya ini, dengan sisa kekuatan dan secuil harapan yang Faira miliki, ia kembali mencobanya lagi.
Jantungnya seakan jatuh ke lantai kamar mandi.
Hasilnya tidak berubah.
Dua garis merah.
Tebal.
Nyata.
Seolah benda kecil itu sedang berteriak lantang pada dunia, mengumumkan pada alam semesta bahwa sebuah kehidupan baru memang telah hadir dan berdenyut di dalam tubuh Faira.
“Baby, please talk to me.”
Suara Hero kembali menembus keheningan dari luar kamar mandi.
Dari celah di bawah pintu, Faira bisa melihat bayangan pria itu yang masih setia berdiri di sana, menunggu Faira untuk sekadar menyahut.
Sesak di dada Faira jadi semakin tidak keruan.
Ketakutan, amarah, dan kebingungan berbenturan hebat di dalam kepala Faira.
Selama dua menit penuh, Faira membiarkan air matanya luruh tanpa suara. Ia berharap dengan membiarkannya mengalir, maka rasa sesak yang menghimpit paru-paru Faira pun akan berkurang.
Namun sia-sia saja. Bahkan air matanya saja tidak mampu menghalau secuilpun ketakutan dalam diri Faira Adrianna.
Hanya setitik keberanian yang tersisa di sudut hatinya yang akhirnya memaksa Faira untuk bangkit.
Faira menguatkan tumpuan kakinya, menyangga tubuhnya yang lemas untuk melangkah keluar.
Begitu kenop pintu diputar dan terbuka, pemandangan pertama yang menyapa Faira bukanlah mata sendu Hero yang penuh penantian. Pandangannya justru jatuh pada dada bidang Hero yang bertelanjang dada.
Di sana, di atas kulit pria yang hanya mengenakan celana pendek hitam itu, terpampang sebuah tato bertuliskan ‘Adrianna’.
Namanya.
Nama kedua Faira, yang terukir tepat di atas jantung Hero.
“Baby, what’s wrong? Are you sick?”
Faira akhirnya memberanikan diri mengangkat wajah, membiarkan netranya tenggelam dalam abu-abu kehijauan mata Hero yang meneduhkan.
Sebelum Hero sempat menariknya ke dalam dekapan, tangan Faira bergerak lebih dulu.
Ia mengangkat benda pipih putih itu ke hadapan Hero.
Untuk satu detik yang terasa abadi, Faira bisa merasakan napas Hero tertahan. Kerutan cemas akan penantian Hero menunggu Faira keluar dari kamar mandi tadi perlahan memudar.
Hero mengangkat wajah menatap Faira, kemudian turun lagi untuk menatap hasil pada testpack di jemarinya. Begitu terus selama beberapa kali. Sebelum ia akhirnya mampu mengeluarkan sebuah suara pada tenggorokannya yang tercekat.
“It is real?” bisik Hero tak percaya.
Faira tak mampu mengeluarkan sepatah kata pun. Ia hanya sanggup mengangguk lemah seraya menunduk.
“We’re pregnant?”
Faira tersentak pelan dengan mengangkat wajah, mendengar ada nada gembira yang menyusup dalam suara Hero atas reaksi yang tak Faira sangka.
“We? No, Hero. I’m pregnant.”
Mata Hero melembut, namun sebuah senyuman lebar yang tulus mulai terukir di bibirnya.
“Faira… yang ada di dalam perut kamu itu bukan cuma anak kamu. Ini anak kita, Sayang.”
“Hero, why you looks so happy? This is so wrong! Mama bakal membunuhku kalau sampai dia tahu aku hamil!”
Belum sempat Hero menenangkan, Faira kembali merutuk dengan napas tersengal.
“Bagaimana dengan karier kamu? Bagaimana dengan kuliahku? Bagaimana dengan mimpi-mimpi kita—”
Rentetan amarah Faira terputus ketika Hero menarik tubuh Faira dan mendaratkan sebuah ciuman dalam, guna membungkam kekhawatiran yang meluap dari bibir gadis itu.
Sejenak kemudian, Hero menarik diri sedikit. Jarak mereka begitu intim, hingga ujung hidung mereka masih bersentuhan.
“We’re gonna be alright, Sayang. We’re still gonna have our dream. Our future will be better now. Because of this…”
Hero meletakkan telapak tangannya di atas perut Faira. Ia mendekapnya dengan kelembutan yang memabukkan, seolah tangan Hero sedang menyapa kehidupan di dalam gadis yang begitu ia cintai.
“Ini adalah bentuk nyata dari cinta kita, Faira. We’re gonna go through this together. Just you, and me. And our baby. Our love. Aku akan pastikan, dengan seluruh nyawaku, kamu akan tetap baik-baik saja. Kamu akan tetap punya mimpi kamu, dan aku akan tetap memiliki mimpi aku. Mimpi kita. Semuanya tetap akan baik-baik saja.”
Faira selalu tahu bahwa Hero mencintainya. Cinta yang Faira yakini, tidak akan ia dapatkan dalam diri pria manapun di muka bumi ini.
Namun pada detik ini, Faira kembali tidak pernah menyangka bahwa cinta pria dihadapannya ini bisa tumbuh jauh lebih raksasa setiap harinya. Bahkan di saat kenyataan pahit menghantam hidup mereka berdua, cinta Hero justru semakin mekar bahkan disaat Faira berada pada titik terendah dalam hidupnya.
Hero menangkup wajah Faira yang basah oleh air mata dengan kedua tangannya yang besar. Ibu jarinya menghapus jejak kesedihan di kedua mata Faira.
Dengan seluruh raga, Hero kembali mencium Faira begitu dalam, menyalurkan seisi semesta cinta yang Hero miliki hanya untuk gadis itu.
“Just you and me,” bisik Hero dengan suara rendah yang menggetarkan. “And our baby.”