Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Drama
I Miss You So Badly
2
Suka
27
Dibaca
Flash Fiction ini masih diperiksa oleh kurator

Nama Re masih muncul di layar, rindu yang tak pernah hilang.

Hans menatap nama itu lama. Nama yang selalu membuat dadanya hangat.

Dulu, satu notifikasi dari Re mampu membuat malam yang buruk terasa ringan. Satu voice note darinya cukup membuat jarak antar kota seolah tidak berarti. Namun waktu mengubah banyak hal, termasuk cara seseorang menunggu, dan berhenti berharap.

Percakapan yang dulu panjang setiap malam, menyusut menjadi balasan singkat, lalu hilang sama sekali.

Cinta, perlahan memudar karena terlalu lama dibiarkan sendirian.

Pesan terakhir dari Re masih tersimpan di ponsel Hans.

"Terserah kamu mau bicara apa. Semuanya sudah aku anggap berlalu."

Sudah dua minggu berlalu sejak pesan itu dikirim. Dua bulan sejak Hans memilih diam, lalu menyesalinya setiap malam. Ia membaca ulang percakapan lama seperti orang yang mencari titik di mana semuanya mulai rusak. Namun tak pernah benar-benar menemukannya. Kadang hubungan hancur bukan karena satu kesalahan besar, melainkan banyak hal kecil yang dibiarkan.

Malam ini, setelah lama menimbang, Hans mengetik satu pesan singkat.

"Aku minta waktu bicara, kamu mau?"

Ia hampir menghapusnya, tapi jemarinya lebih dulu menekan kirim.

Balasan datang beberapa menit kemudian.

"Bicaralah, tapi jangan berharap apa-apa."

Hans menutup mata, orang masih membalas pesanmu terkadang bukan karena masih punya rasa, tapi hanya karena ingin menutup perpisahan dengan baik.

***

Gerimis turun ketika Hans membuka chat itu lagi di kafe kecil tempat mereka pertama kali bertemu di platform dan berbulan-bulan setelahnya hanya saling bicara lewat layar. Dulu meja itu menjadi tempat rindu bertemu, tapi hari ini meja itu terasa seperti ruang kosong.

Re membalas beberapa menit kemudian, membuka video call.

Ia masih sama, tatapan lembut, wajah yang selalu membuat Hans merasa pulang. Bedanya, kini ada jarak yang tak terlihat di antara mereka, jarak yang lebih jauh daripada kota ke kota mereka berasal yang dulu terasa begitu dekat.

“Aku kira kamu nggak akan balas,” tulis Hans.

“Aku balas supaya semuanya selesai,” jawab Re datar.

Kalimat itu langsung membuat dada Hans sesak.

Beberapa detik mereka hanya mendengar ketukan gerimis.

“Apa kabar?” Hans mencoba membuka sesuatu yang sudah lama runtuh.

Re menatapnya singkat. “Kamu manggil aku ke sini buat basa-basi?”

Hans terdiam, senyumnya tercekat.

“Aku cuma pengin minta maaf.”

Re tersenyum, tapi bukan senyum bahagia, senyum orang yang sudah terlalu lelah untuk marah.

“Maaf yang mana, Hans?” tanyanya lirih. “Karena berubah dingin? Karena bikin aku nunggu? Karena bohong seolah semuanya baik-baik saja? Atau karena pergi waktu aku masih sayang-sayangnya?”

Setiap pertanyaan itu terasa seperti batu yang dijatuhkan satu per satu ke dada Hans.

“Aku takut nyakitin kamu,” katanya akhirnya.

Re tertawa pelan, mengalihkan pandangan, matanya berkaca-kaca.

“Lucu ya, orang selalu bilang begitu setelah menyakiti.”

Hans menunduk.

“Aku bingung waktu itu.”

“Bukan bingung,” potong Re. “Kamu cuma nggak jujur.”

Hening.

Di luar, hujan makin deras.

Re menatap meja, lalu bicara pelan seolah sedang menceritakan luka kepada dirinya sendiri.

“Kamu tahu rasanya nunggu chat dari seseorang yang terlihat begitu baik? Lihat tulisan online penuh rayu, tapi pertanyaanku tentang kejujuranmu diabaikan? tapi aku masih pura-pura semuanya baik-baik saja?”

Hans tak berani mengangkat kepala.

“Aku nyalahin diriku tiap malam,” lanjut Re. “Aku kira aku kurang sabar, kurang cantik, kurang menarik, bahkan kurang pantas dicintai karena masa laluku. Padahal masalahnya bukan aku.”

Suara terakhirnya pecah.

Hans menutup wajah dengan kedua tangan.

“Maaf."

“Kamu tahu yang paling jahat dari semuanya apa?”

Hans menatap perlahan.

“Kamu bikin aku merasa harus mempercayai diriku untuk seseorang yang diam-diam sudah membohongi aku.”

Kalimat itu menghancurkan sisa pertahanan apa pun dalam diri Hans.

“Aku pengecut, Re.”

“Iya.”

“Aku takut bilang kalau aku menyembunyikan sesuatu.”

“Iya.”

“Aku takut kehilangan kamu, tapi aku juga nggak tahu cara bertahan.”

Re mengangguk pelan. “Makanya kamu memilih diam, dan membiarkan aku tenggelam sendirian.”

Hans tak bisa membantah, karena memang begitu.

Lama sekali mereka diam.

Akhirnya Hans berkata dengan suara serak, “Aku pikir waktu bakal menyembuhkan semuanya.”

Re menatap ke luar jendela.

“Waktu nggak selalu menyembuhkan, Hans.”

Ia berpaling, matanya basah, tapi tenang.

“Kadang waktu cuma membuat seseorang sadar kalau yang ia perjuangkan ternyata tak pernah sungguh-sungguh ingin tinggal.”

Hans merasa napasnya hilang.

“Aku masih sayang sama kamu,” katanya lirih.

Re tersenyum getir.

“Tapi sayang tanpa kejujuran itu cuma cara lain untuk melukai.”

Hans menangis untuk pertama kali di depan Re. Tidak keras, hanya air mata yang jatuh diam-diam seperti penyesalan yang lama ditahan.

“Apa sekarang kamu masih benci aku?”

Re menggeleng.

“Aku nggak benci.”

“Masih sayang?”

Pertanyaan itu membuat Re terdiam cukup lama.

Lalu ia menjawab pelan, nyaris seperti bisikan.

“Enggak.”

Satu kata itu lebih menyakitkan daripada bentakan apa pun.

“Aku pernah sangat sayang kamu,” lanjutnya. “Sampai rela menunggu, rela memaafkan, rela bertahan, tapi semua itu ada batasnya.”

Ia menarik napas panjang.

“Dan sekarang”

Re mendorong kursinya.

“Tak ada rindu lagi.”

Hans ikut panik. “Re.”

Perempuan itu menatapnya lagi untuk terakhir kali di layar. Tatapan yang hangatnya pernah menjadi rumah, segera akan menjadi kenangan.

“Aku sudah memaafkanmu,” katanya lembut. “Tapi beberapa cinta selesai bukan karena kurang besar, tapi karena terlalu sering disakiti.”

Ia memalingkan wajah, dan mengakhiri video call.

Hans mematung, menatap layar kosong seperti mendengar lonceng pintu cafe berbunyi saat wajah Re menghilang di layar bersama hujan yang tak reda.

Kehilangan paling kejam bukan saat seseorang pergi, melainkan saat ia masih ada di depan mata, namun seluruh perasaannya untukmu sudah mati.

Ternyata bukan maaf yang datang terlambat, tapi kejujuran.

"Maafkan aku Re, I miss you so badly" bisikku dalam sesak yang kutahan.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (1)
Rekomendasi dari Drama
Flash
I Miss You So Badly
Hans Wysiwyg
Cerpen
Bronze
Pengakuan
SIONE
Novel
KISAH YANG TAK PERNAH SELESAI "TASYA"
natastas
Novel
Bronze
Imprisoned Voice
IyoniAe
Novel
Bronze
Lika liku mahasiswa farmasi
Ghiyas
Flash
Bronze
Sang Komedian Runtuh
Rere Valencia
Cerpen
Cateutan Akika Jilid Dua, Yuk Mari
Dillon Gintings
Novel
Notice Notes
Inne Gracea
Novel
Larasati: Perempuan Penabur Mimpi
Atilla
Novel
Langit Aja Gak Pake Bumi
Umi Hani
Novel
Mendadak Jadi Nyonya Mafia
Dista rumanasari
Flash
Aku Tak Ingin Mati Seperti Ini
Rafael Yanuar
Flash
Bronze
Idola (Isi Jiwa)
Rere Valencia
Novel
Sang Surya dan Doa Yang Tertinggal di Laut
Oktonawa
Skrip Film
Bukan Cinta Biasa
Lindaw
Rekomendasi
Flash
I Miss You So Badly
Hans Wysiwyg
Cerpen
Bandang
Hans Wysiwyg
Flash
Tertawan Hati
Hans Wysiwyg
Flash
Tetonam
Hans Wysiwyg
Flash
Titik Nol
Hans Wysiwyg
Cerpen
Itaewon AFTER 29 Oktober 2022
Hans Wysiwyg
Cerpen
Jangan Paksa Rindu
Hans Wysiwyg
Flash
PARMIN DAN BURUNG MAJIKAN
Hans Wysiwyg
Flash
PAMIT
Hans Wysiwyg
Flash
Kesempatan Kedua
Hans Wysiwyg
Flash
Dinda
Hans Wysiwyg
Flash
Suami Selamanya
Hans Wysiwyg
Cerpen
MESIN WAKTU
Hans Wysiwyg
Flash
Manna dan Salwa
Hans Wysiwyg
Flash
RUMAH SUNYI TANPA AKU
Hans Wysiwyg