Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Drama
I Miss You So Badly
5
Suka
4,862
Dibaca

Nama Re masih muncul di layar, rindu yang tak pernah hilang.

Hans menatap nama itu lama. Nama yang selalu membuat dadanya hangat.

Dulu, satu notifikasi dari Re mampu membuat malam yang buruk terasa ringan. Satu voice note darinya cukup membuat jarak antar kota seolah tidak berarti. Namun waktu mengubah banyak hal, termasuk cara seseorang menunggu, dan berhenti berharap.

Percakapan yang dulu panjang setiap malam, menyusut menjadi balasan singkat, lalu hilang sama sekali.

Cinta, perlahan memudar karena terlalu lama dibiarkan sendirian.

Pesan terakhir dari Re masih tersimpan di ponsel Hans.

"Terserah kamu mau bicara apa. Semuanya sudah aku anggap berlalu."

Sudah dua minggu berlalu sejak pesan itu dikirim. Dua bulan sejak Hans memilih diam, lalu menyesalinya setiap malam. Ia membaca ulang percakapan lama seperti orang yang mencari titik di mana semuanya mulai rusak. Namun tak pernah benar-benar menemukannya. Kadang hubungan hancur bukan karena satu kesalahan besar, melainkan banyak hal kecil yang dibiarkan.

Malam ini, setelah lama menimbang, Hans mengetik satu pesan singkat.

"Aku minta waktu bicara, kamu mau?"

Ia hampir menghapusnya, tapi jemarinya lebih dulu menekan kirim.

Balasan datang beberapa menit kemudian.

"Bicaralah, tapi jangan berharap apa-apa."

Hans menutup mata, orang masih membalas pesanmu terkadang bukan karena masih punya rasa, tapi hanya karena ingin menutup perpisahan dengan baik.

***

Gerimis turun ketika Hans membuka chat itu lagi di kafe kecil tempat mereka pertama kali bertemu di platform dan berbulan-bulan setelahnya hanya saling bicara lewat layar. Dulu meja itu menjadi tempat rindu bertemu, tapi hari ini meja itu terasa seperti ruang kosong.

Re membalas beberapa menit kemudian, membuka video call.

Ia masih sama, tatapan lembut, wajah yang selalu membuat Hans merasa pulang. Bedanya, kini ada jarak yang tak terlihat di antara mereka, jarak yang lebih jauh daripada kota ke kota mereka berasal yang dulu terasa begitu dekat.

“Aku kira kamu nggak akan balas,” tulis Hans.

“Aku balas supaya semuanya selesai,” jawab Re datar.

Kalimat itu langsung membuat dada Hans sesak.

Beberapa detik mereka hanya mendengar ketukan gerimis.

“Apa kabar?” Hans mencoba membuka sesuatu yang sudah lama runtuh.

Re menatapnya singkat. “Kamu manggil aku ke sini buat basa-basi?”

Hans terdiam, senyumnya tercekat.

“Aku cuma pengin minta maaf.”

Re tersenyum, tapi bukan senyum bahagia, senyum orang yang sudah terlalu lelah untuk marah.

“Maaf yang mana, Hans?” tanyanya lirih. “Karena berubah dingin? Karena bikin aku nunggu? Karena bohong seolah semuanya baik-baik saja? Atau karena pergi waktu aku masih sayang-sayangnya?”

Setiap pertanyaan itu terasa seperti batu yang dijatuhkan satu per satu ke dada Hans.

“Aku takut nyakitin kamu,” katanya akhirnya.

Re tertawa pelan, mengalihkan pandangan, matanya berkaca-kaca.

“Lucu ya, orang selalu bilang begitu setelah menyakiti.”

Hans menunduk.

“Aku bingung waktu itu.”

“Bukan bingung,” potong Re. “Kamu cuma nggak jujur.”

Hening.

Di luar, hujan makin deras.

Re menatap meja, lalu bicara pelan seolah sedang menceritakan luka kepada dirinya sendiri.

“Kamu tahu rasanya nunggu chat dari seseorang yang terlihat begitu baik? Lihat tulisan online penuh rayu, tapi pertanyaanku tentang kejujuranmu diabaikan? tapi aku masih pura-pura semuanya baik-baik saja?”

Hans tak berani mengangkat kepala.

“Aku nyalahin diriku tiap malam,” lanjut Re. “Aku kira aku kurang sabar, kurang cantik, kurang menarik, bahkan kurang pantas dicintai karena masa laluku. Padahal masalahnya bukan aku.”

Suara terakhirnya pecah.

Hans menutup wajah dengan kedua tangan.

“Maaf."

“Kamu tahu yang paling jahat dari semuanya apa?”

Hans menatap perlahan.

“Kamu bikin aku merasa harus mempercayai diriku untuk seseorang yang diam-diam sudah membohongi aku.”

Kalimat itu menghancurkan sisa pertahanan apa pun dalam diri Hans.

“Aku pengecut, Re.”

“Iya.”

“Aku takut bilang kalau aku menyembunyikan sesuatu.”

“Iya.”

“Aku takut kehilangan kamu, tapi aku juga nggak tahu cara bertahan.”

Re mengangguk pelan. “Makanya kamu memilih diam, dan membiarkan aku tenggelam sendirian.”

Hans tak bisa membantah, karena memang begitu.

Lama sekali mereka diam.

Akhirnya Hans berkata dengan suara serak, “Aku pikir waktu bakal menyembuhkan semuanya.”

Re menatap ke luar jendela.

“Waktu nggak selalu menyembuhkan, Hans.”

Ia berpaling, matanya basah, tapi tenang.

“Kadang waktu cuma membuat seseorang sadar kalau yang ia perjuangkan ternyata tak pernah sungguh-sungguh ingin tinggal.”

Hans merasa napasnya hilang.

“Aku masih sayang sama kamu,” katanya lirih.

Re tersenyum getir.

“Tapi sayang tanpa kejujuran itu cuma cara lain untuk melukai.”

Hans menangis untuk pertama kali di depan Re. Tidak keras, hanya air mata yang jatuh diam-diam seperti penyesalan yang lama ditahan.

“Apa sekarang kamu masih benci aku?”

Re menggeleng.

“Aku nggak benci.”

“Masih sayang?”

Pertanyaan itu membuat Re terdiam cukup lama.

Lalu ia menjawab pelan, nyaris seperti bisikan.

“Enggak.”

Satu kata itu lebih menyakitkan daripada bentakan apa pun.

“Aku pernah sangat sayang kamu,” lanjutnya. “Sampai rela menunggu, rela memaafkan, rela bertahan, tapi semua itu ada batasnya.”

Ia menarik napas panjang.

“Dan sekarang”

Re mendorong kursinya.

“Tak ada rindu lagi.”

Hans ikut panik. “Re.”

Perempuan itu menatapnya lagi untuk terakhir kali di layar. Tatapan yang hangatnya pernah menjadi rumah, segera akan menjadi kenangan.

“Aku sudah memaafkanmu,” katanya lembut. “Tapi beberapa cinta selesai bukan karena kurang besar, tapi karena terlalu sering disakiti.”

Ia memalingkan wajah, dan mengakhiri video call.

Hans mematung, menatap layar kosong seperti mendengar lonceng pintu cafe berbunyi saat wajah Re menghilang di layar bersama hujan yang tak reda.

Kehilangan paling kejam bukan saat seseorang pergi, melainkan saat ia masih ada di depan mata, namun seluruh perasaannya untukmu sudah mati.

Ternyata bukan maaf yang datang terlambat, tapi kejujuran.

"Maafkan aku Re, I miss you so badly" bisikku dalam sesak yang kutahan.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (4)
Rekomendasi dari Drama
Novel
Pemupuk Bahagia
Mahabb Adib-Abdillah
Flash
Sebuah Keraguan
Anisah Ani06
Flash
Bronze
Kisah Kelam Kehidupan: Si Buruk Rupa Juga Manusia Biasa
mahes.varaa
Flash
Selamat Natal
Astromancer
Flash
Just Go
Azuma.H
Flash
I Miss You So Badly
Hans Wysiwyg
Novel
#PARE(tidak)JAHAT
Ilma Wahid
Novel
Diary Nabila
Khansa Humaira Dyfka
Novel
LDR (Long Distance Religionship)
A Story by Fidnaa
Komik
Why Should it be Me?
Azizah Nur Muallifah
Novel
Stigma
Nita Simamora
Novel
Gold
Misteri Boneka Melodi
Mizan Publishing
Novel
Bronze
Yes, I have "D.I.D"!
rafa alfurqan
Novel
Bronze
Prima Cinta Mama
Yasmin Shafa Nadiyah
Cerpen
Bronze
Jodoh Gunung
Anjrah Lelono Broto
Rekomendasi
Flash
I Miss You So Badly
Hans Wysiwyg
Flash
MAKLAR
Hans Wysiwyg
Flash
DINARA Tak Ada Lagi Jalan Pulang
Hans Wysiwyg
Flash
Setoples Bintang Kecil
Hans Wysiwyg
Novel
DI BAWAH LANGIT YANG TERLUKA Beneath The Wounded Sky
Hans Wysiwyg
Flash
PAMIT
Hans Wysiwyg
Flash
Pensil Untuk Lira
Hans Wysiwyg
Cerpen
Jendela yang Pecah
Hans Wysiwyg
Flash
Dinda
Hans Wysiwyg
Cerpen
THE CHOICE
Hans Wysiwyg
Cerpen
Maybe Someday
Hans Wysiwyg
Cerpen
MESIN WAKTU
Hans Wysiwyg
Cerpen
RUMAH TERAKHIR
Hans Wysiwyg
Cerpen
MANTRA LUDAH
Hans Wysiwyg
Cerpen
Musim Gugur Tak Pernah Menunggu
Hans Wysiwyg