Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Romantis
Tentang Hujan dan Lentera yang Bersandar di Samping Jendela
1
Suka
4,900
Dibaca

Bulan ini, hujan terlalu sering datang, seolah segan untuk mengakhiri redup dalam enam bisikan purnama. Aku memilih untuk lebih banyak melangkah dengan kakiku sendiri, berlari dan mencipratkan air comberan pada dinding-dinding batu di sepanjang gang.

Hari ini, ketika pucuk musim memancarkan cahaya, kukira terang akan lebih lama daripada malam. Roda berputar, klakson menggonggong, dan siulan mengeong, pada taman-taman kota dan jalan-jalan aspal yang mempertemuan tiga kota di pesisir utara.

Orkestrasi itu dimulai dari para tukang becak yang mengusap keringat panasnya. Ibu-ibu yang berdesakan di gerbong kereta Stasiun Tawang menitikan air mata untuk tubuh-tubuh jiwa melayang di Kota Bekasi. Kadang, kita tak harus selalu di jalan sama untuk bisa saling merasa.

Aku berhenti di ujung jalan Sampangan, sepatuku terasa seperti telur panggang yang menolak untuk meleleh. Keduanya seperti sudah tahu bahwa mendung pasti akan datang, entah pada detik ke berapa, yang pasti hari ini.

Mobil berselimut jingga dengan pengeras suara yang berdentum di dalamnya. Dua penyanyi opera sabun menjelmakannya serupa kamar mandi. Mikrofon kemasan pun pelan-pelan meluruhkan warnanya dengan bau masam khas tubuh-tubuh yang menutupi kelusuhannya. Aku duduk di antara mereka, masih dengan huruf-huruf yang melayang di ujung jemariku.

Hari berlalu cepat seolah ditutup dengan tukang becak yang mengganti lap panasnya dan sepuluh lembar 50 ribuan. Aku memilih untuk duduk di samping jendela, menghindari dua manusia yang tak juga lelah menggetarkan suaranya.

Mendung benar-benar datang serupa tabir panggung teater yang pelan-pelan menutup akhir pementasan. Hanya saja, ketika tirai itu ditutup, justru cerita yang sebenarnya benar-benar dibuka. Aku bertanya pada diriku, dalam mata yang sesekali terpejam, di antara keterjagaan, "Siapakah nama yang memantul di antara derasnya, pada kesendirian dan keramaian, pada pesta dan pertapaan?"

Kakiku melompat setelah pintu di buka, berlari dan mencari setiap comberan sehabis hujan. Tembok-tembok batu bersiulan ketika percikan itu menyapu barisan wajahnya.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Romantis
Flash
Tentang Hujan dan Lentera yang Bersandar di Samping Jendela
Muhammad Hamdan Mukafi (Emhaf)
Novel
Bronze
Cinta Satu Dekade
Nita Roviana
Flash
Mendarah
Ismi Chairani
Novel
GEMINIDS
Chiklarasati
Flash
SURAT UNTUK NEPTUNUS
M Fadly Hasibuan
Novel
CINCIN PERKAWINAN
Embart nugroho
Novel
DRU: Rasa Menuju Pulang
Titis nariyah
Novel
Bronze
Irama Bulan
Arifin
Novel
Meskipun Hujan Masih Turun
Shabrina Ws
Skrip Film
JATUH CINTA ANTARA BANDUNG DAN JOGJA
Mario Matutu
Flash
Penantian Sebuah Ideologi Sikap
Ellya Kaddams
Cerpen
Bronze
Cinta di Bawah Langit Pegunungan
SADNESS SECRET
Cerpen
Bronze
Imamodinium: Unsur Kimia dari Aku untuk Monica
Nuel Lubis
Novel
Gold
Sahabat Dilarang Jatuh Cinta
Falcon Publishing
Skrip Film
Uang panai bukanlah Penghalang
Pricilia Zhany
Rekomendasi
Flash
Tentang Hujan dan Lentera yang Bersandar di Samping Jendela
Muhammad Hamdan Mukafi (Emhaf)
Flash
Surat Lentera untuk Kelana
Muhammad Hamdan Mukafi (Emhaf)
Flash
LENTERA APIARI KELANA
Muhammad Hamdan Mukafi (Emhaf)
Flash
KELANA LABIRIN LENTERA
Muhammad Hamdan Mukafi (Emhaf)
Novel
Bronze
HoQ: PUZZLE PERJALANAN WALET
Muhammad Hamdan Mukafi (Emhaf)
Flash
Lambaian Lentera Kelana
Muhammad Hamdan Mukafi (Emhaf)
Flash
Lentera dan Kelana yang Menciptakan Badai
Muhammad Hamdan Mukafi (Emhaf)
Flash
Pada Sebuah Dunia Ketika Kelana Diterangi Lentera, Juga Sebaliknya
Muhammad Hamdan Mukafi (Emhaf)
Flash
Lentera yang Meredup Ketika Rintik Memanggilnya
Muhammad Hamdan Mukafi (Emhaf)
Novel
Bronze
DUA CINCIN SEGALA SEMESTA
Muhammad Hamdan Mukafi (Emhaf)
Flash
Di Kota-Kota Yang Sama ketika Lentera Menjadi Kelana
Muhammad Hamdan Mukafi (Emhaf)
Flash
Kelana: Menurutmu Kita Apa Lentera?
Muhammad Hamdan Mukafi (Emhaf)