Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
"Mas, aku ingin memelukmu."
Rama mengangguk. Aku membenamkan diri dalam pelukannya. Aku mengencangkan tubuhku dan merapatkan kepalaku di dadanya.
"Mas, sepertinya sudah waktunya kita mengakhiri hubungan ini." Aku menarik tubuhku dari dekapan Mas Rama.
Kami saling menatap lama. Aku tahu Mas Brama juga merasakan hal yang sama. Kehangatan dalam pelukan ini sudah lama hilang, tetapi kami mencoba bertahan untuk sekadar menjaga perasaan juga keutuhan dua keluarga. Pun ketika aku beranjak pergi, kuyakin langkah Mas Rama juga akan semakin lega usai dari sini.
"Kau tidak membenciku?" lirih Mas Rama.
Aku menghela napas panjang. Mata pria di depanku ini masih sama sejak awal aku melihatnya, penuh ketulusan dan tidak sedikit pun bermaksud menyakitiku.
"Mas ...." Aku mengulum senyum, berusaha membendung gemuruh dalam hatiku. Amarah mulai bergejolak dan siap dimuntahkan, bukan pada Mas Rama, melainkan untuk diriku sendiri. "Aku yang seharusnya dibenci, Mas. Kamu harusnya membenciku."
Aku meluapkan tangisku di depannya dan dia masih berusaha untuk tegar. Dia berusaha menenangkanku dan aku kembali memeluknya. Mungkin ini untuk terakhir kali, dia tidak memintaku kembali, dia hanya ingin memastikan aku baik-baik saja ketika dia pergi, meski aku telah mendua hati dan melukainya.
"Aku akan tetap membelamu di depan orang tua kita, Rin dan kupastikan kau akan baik-baik saja setelahnya."
Dia mengusap punggung tanganku dengan lembut. Aku menikmati bola mata yang jernih itu terakhir kali. Kami bertemu tatap. Meski aku masih berharap, tapi aku tidak menemukan cinta lagi di sana. Pernikahan ini sudah tidak bisa dipertahankan.