Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Romantis
SISA - Patah
1
Suka
1,848
Dibaca

Aku bukannya tidak ingin kau bahagia, air mata ini jatuh bukan karena aku tak suka melihatmu bahagia. Kukira aku yang akan ada di sana, berdiri di sampingmu, menggumamkan celoteh riang seperti kita biasanya. Aku kira rasamu sama dengan aku, saat kau bilang ingin kita bersama selamanya, aku kira kita berada di kapal yang sama, di tujuan yang sama. Tapi ternyata aku salah… sebab bagiku selamanya berarti berjalan bersama ‘selamanya’. Tapi bagimu, selamanya mungkin hanya kata ganti waktu, bukan mengartikan harus aku dan kamu, kemudian dirangkai menjadi ‘kita’. Karena aku dan kamu sejak awal tidak pernah menjadi ‘kita’

Hana menarik mundur kakinya, meski matanya tak bisa lepas dari dua sosok di depannya, kakinya mendesak untuk berlari menjauh dari sana. Matanya sudah terasa panas sejak tadi, bibirnya bahkan sudah ia gigiti hingga terasa anyir di lidahnya. Dan saat tatapannya mulai kabur karena tumpukan air di matanya, Hana berpaling, merasakan lelehan panas di pipinya. Kakinya berjalan dengan segera, seakan waktu mereka tak banyak.

“Perkenalkan ini Hana, teman masa kecilku.” Kata laki-laki itu saat ketiganya berhadapan beberapa menit yang lalu. Hana mencoba menarik bibirnya tinggi-tinggi, meski nyatanya bibirnya yang bergetar hanya mampu memberikan ringisan tipis di sana.

Kemudian laki-laki itu mendekat pada Hana, “Ini orangnya,” katanya sambil menatap gadis di depannya, kemudian bergerak lebih dekat ke arah Hana dan berbisik, “Orang yang kusukai.” Senyumannya saat itu mungkin bisa membuat bibirnya robek, matanya yang tak lepas dari gadis di depannya yang kini ikut tersipu bahkan tak bisa melihat bagaimana wajah Hana berubah menjadi pucat pasi.

Tawa kecil lepas dari bibir Hana, ia sendiri tidak tau kenapa ia tertawa, ia hanya merasa semuanya lucu. Lucu sekali hingga rasanya ia ingin menangis.

Hana berhenti melangkah saat tawanya habis, menyisakan sesak yang mencekik. Kedua orang itu bahkan tidak menoleh sedikit pun saat kaki Hana terhenti dan langkahnya tertinggal di sana. Kini hanya dua punggung itu yang perlahan pergi meninggalkannya sendirian, menjelaskan jarak dengan begitu jelas dan menyakitkan. 

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Romantis
Flash
Yang Terlewat di Halte Bus
Listian Nova
Flash
Bronze
Luapan Luka Luna
lidia afrianti
Flash
SISA - Patah
Ayuningti
Novel
DOUBTFULLNESS
Fitra Nopiyanti
Novel
Aku Tidak Jatuh Cinta
Nine
Novel
Bronze
Stuck On You
Venny Lestari
Novel
(Draf) Madwa: Tiga Puluh Tahun Mencari Pacar Pertama
alpistasedo pelawi
Skrip Film
ICE CREAM
eko pujihartono
Flash
Rahasia Kucing
Cheri Nanas
Flash
SISA- Hujan
Ayuningti
Cerpen
Di Antara Dua Sunyi
Shavrilla
Cerpen
Bronze
Diam-diam Menyukai Tante'nya Sendiri
Putut Dwiffalupi Sukmadewa
Novel
Flight to Meet You
Adora Lee
Novel
Bronze
VIP (Very Important Partner)
SOS (Share Our Story)
Novel
Ratu sekolah
fabian
Rekomendasi
Flash
SISA - Patah
Ayuningti
Flash
SISA- Hujan
Ayuningti
Novel
Di Ujung Garis Batas
Ayuningti
Flash
SISA- Bertemu Kembali
Ayuningti
Flash
SISA- Rasa Baru
Ayuningti
Flash
DATK- Ter Tidur
Ayuningti
Flash
DATK- Berisik
Ayuningti
Flash
SISA - Hilang
Ayuningti
Flash
DATK- Halaman 20
Ayuningti
Flash
DATK- Ter Tidur 2.0
Ayuningti
Flash
DATK- Bukan Titik 2.0
Ayuningti
Flash
DATK- Bukan Titik
Ayuningti