Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Yazan merebahkan tubuhnya di lantai ruang makan. Ia merentangkan tangan dan kaki selebar yang ia bisa. Tatapannya kosong menuju langit-langit rumah. Ia mencoba melupakan peristiwa di hutan sesaat ia akan pulang dengan memejamkan mata.
Ruang makan persis berada di tengah rumah. Sisi barat kamar mandi dan dapur, di utara ruang tamu dan kamar tidur ibunya. Yazan merasakan otot-otot di tubuhnya sangat lemas.
Fawaz keluar dari kamar hanya dengan celana pendek dan handuk yang menjuntai di pundaknya. Ia langsung menuju 2 ransel carrier 8 liter yang berdiri saling berpunggungan tak jauh dari Yazan.
"Zan, handuk kecil kakak yang kamu pinjaman mana? Mau kucuci."
"Aku menjatuhkannya di hutan," jawab Yazan dengan mata masih terkatup.
"Wah, kacau! Itu pemberian kak Sandra. Bisa berabe nih urusan kalau dia nanya."
Yazan menyingkirkan handuk di wajahnya sambil tersenyum dengan mata yang masih tertutup. "Ah, beli di pasar, banyak yang kayak gitu. Sekarang kakak cepat mandi. Badanku gatal-gatal."
Fawaz lalu menuju kamar mandi.
Malam itu suasana sangat hening. Yazan bisa mendengar detak jam dinding dengan jelas. Ia sangat senang dapat menaklukkan gunung pertamanya. Ia tidak sabar ingin segera bercerita pada ibu. Sekarang ibu pasti sudah tidur pikirnya.
Mata Yazan terbelalak. Ia langsung bangkit, terduduk. Pandangannya diarahkan ke kanan dan kiri, lalu tangannya. Tidak ada apa-apa. Saat terpejam tadi ia merasakan sesuatu merayap di lengannya. Yazan lantas mengusap pundaknya.
Yazan bangkit, dengan langkah hati-hati ia melihat pintu ruang tamu tertutup rapat. Bukan angin pikirnya, tapi lengannya benar-benar merasakan sesuatu. Kejadian di hutan kembali berkelebat di kepalanya.
Yazan mencoba tenang dengan kembali rebah dan menutup matanya. Suara kaca pecah sontak membuatnya kembali bangkit. Lalu suara gayung jatuh, disusul suara sesorang yang tercekat.
Yazan lantas menuju kamar mandi. Ia yakin betul suara tadi berasal dari sana.
"Kak?" Yazan berteriak.
Hening.
"Kak!" Yazan kembali berteriak
Dug! Dug! Dug!
Yazan memukuli pintu.
Ibu keluar. "Ada apa?"
"Kak Fawaz di dalam tapi diam saja."
Wajah ibu seketika berubah. "Nak," Ibu memukul-mukul pintu.
Tak ada jawaban.
Yazan dan ibu berpandangan. Kepanikan tak bisa disembunyikan keduanya. Pintu kembali digedor Yazan, disusul dengan hantaman kuat dengan bahunya. Pintu dari material plastik itu roboh.
Sosok Fawaz terbujur kaku. Beberapa bagian tubuhnya terpelintir, terutama lengan, seperti cucian baru diperas. Fawas seperti telah dililit sesuatu yang besar dan kuat.
Ibu seketika lemas dan jatuh tepat di tubuh Fawaz. Tangisnya pecah. Ibu menggoyang-goyangkan tubuh Fawaz. "Nak, bangun. Ini ibu, bangun, Nak!" teriak ibu, air matanya deras meleleh.
Seperti halnya ibu, Yazan juga tak berdaya. Tubuhnya seketika lemas, wajahnya dibanjiri air mata.
Ibu dan Yazan saling menatap. Berusaha saling menguatkan.
Yazan menyentuh leher Fawaz. Lalu kembali menatap ibu. "Maafkan Yazan, Bu." Suaranya serak dan sesegukan.
"Kakakmu seperti diserang ular betina. Mungkin dia datang untuk membalas dendam atas kematian pejantannya," ucap ibu lemah.
Deg!
Jantung Yazan seperti berhenti berdetak. Ingatannya langsung terbang pada peristiwa sebelum turun gunung. Ia menyabet seekor ular yang lewat di depannya saat ia buang air kecil dengan sebilah parang. Darah menterciprati wajahnya. Handuk yang dipinjamkan Fawaz dipakai mengelap darah di wajahnya. Yazan lalu meninggalkannya di hutan.