Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Sabtu, 25 April 2026.
Pare, Kediri.
Hai, anakku sayang. Hari ini mama lagi-lagi tidak bisa tertidur nyenyak. Bukan karena perasaan resah yang menyelimuti. Atau, kerinduan terhadap papamu yang berada jauh di pulau Bali. Mama hanya terpikirkan masa depan yang meleset jauh dari rencana awal.
Nak, kalau kamu baca surat ini, pasti umurmu sudah menginjak tujuh belas tahun. Mama memang berencana menulis surat ini, sejak kehadiranmu terasa di tubuh ini.
Jangan pernah membenci papamu, ya? Karena rasa cinta dan kasih sayang kami yang begitu besar. Hingga kamu hadir di rahim tempatmu berkembang semakin besar nantinya. Mama ingin kamu menjadi anak yang baik. Tumbuh dengan sehat tanpa sesuatu kekhawatiran tentang masa depan. Jangan hiraukan anak-anak lain yang akan mengejekmu, karena tidak hadirnya Papa di antara kita.
Membayangkan tujuh belas tahun lagi, Mama mulai berkaca-kaca. Dan memikirkan apakah mampu melewatinya sendirian. Meskipun di sini, nenekmu ikut bersama Mama. Tanpa tahu kehadiranmu. Kepergian Mama dari pulau Bali yang merupakan tanah kelahiran, merupakan sebuah langkah besar yang akan mengubah segalanya.
Cukup kasih sayang Mama saja. Tanpa kehadiran Papa. Atau, keluarga besar Mama. Selamat ulang tahun, anakku. Semoga dengan mengetahui kenyataan ini, kamu paham kalau kehadiranmu adalah hal yang sangat Mama nantikan.
***
Kim Jae-Han menggenggam secarik surat yang diberikan oleh mamanya dengan napas yang tercekat. Semua terasa masuk akal sekarang. Kenapa setiap menanyakan keberadaan papanya, Mamanya akan selalu menghindar.
"Eomma.." gumamnya dengan nada yang bergetar.
"Jangan membenci Papa, ya?" ucap Resina menarik tubuh jangkung putranya. Membiarkan remaja yang akan beranjak dewasa itu menangis di pundaknya.
"Kenapa Papa tidak mencari kita?" remaja putra dengan garis wajah tegas dan mata cokelat muda itu balik bertanya. Mempertanyakan tanggung jawab dari pria yang membuatnya hadir di dunia ini.
"Mama... Terlanjur kecewa."
"Kenapa?" Kali ini nada suara Jae-Han sedikit meninggi. Tatapan mata itu terluka. Seakan kenyataan yang ada membuat semuanya menjadi masuk akal.
"Papa memilih wanita lain, dan kehadiran Mama hanyalah sementara bahkan tidak pernah diharapkan. Tapi, ia memberikan hadiah perpisahan yang begitu berharga. Kamulah, Nak."
"Tapi.. Seharusnya Mama memperjuangkan perasaan itu. Memberitahukan kehadiranku."
"Jae-Han.. Ada hal yang seharusnya tidak kita perjuangkan. Termasuk perasaan seseorang yang telah meninggalkan kita."
Remaja tampan yang beranjak dewasa itu kembali memeluk tubuh mamanya. Tanpa mengatakan apapun. Ia menangis sesenggukan. Di depan sebuah toko bakery di musim gugur. Singapura menjadi rumah kedua baginya. Sebuah negara yang menjadi saksi, betapa keras mamanya berusaha untuk kelayakan hidupnya. Jae-Han memahami satu hal. Ketulusan cinta mamanya selama bertahun-tahun tidak pernah diketahui oleh papanya. Dan, ia berharap pria itu akan menyesali keputusannya suatu hari nanti.