Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Drama
Warna Pelangi
18
Suka
27,470
Dibaca

"Hai."

"Hai."

"Sedang apa?"

"Bersantai. Pemandangannya bagus."

"Sore yang indah, ya."

"Tidak ada yang lebih indah."

"Jika dilihat dari ketinggian, rasanya kehidupan di Bumi tidak ada artinya."

"Seperti semut."

"Betul. Betul. Padahal semut juga punya kesibukan."

"Tapi, karena kecil, kesibukan mereka juga kecil."

"Nyaris tidak berarti."

"Nyaris tidak berarti."

"Omong-omong, apa yang kaulihat?"

"Pelangi."

"Tapi tidak ada pelangi."

"Ada, kok. Besar. Saking besarnya, sampai menutup langit. Kamu tidak lihat?"

"Tidak."

"Ujung busurnya menancap di sebelah sana, sisi lainnya menancap di sini."

"Mana ada."

"Betulan, kok. Ada dua awan yang menopangnya."

"Awan?"

"Awan. Memangnya apalagi?"

"Tapi tidak ada awan."

"Matamu siwer? Jelas-jelas ada dua awan; mendung, besar sekali, seolah-olah sarat hujan, di situ dan situ."

"Sudah setahun hujan tidak turun."

"Bukan berarti tidak akan turun, bukan?"

"Tapi sungguh, tidak ada awan di mana pun, apalagi mendung. Lihat, keringatmu saja sebesar biji jagung."

"Biasanya juga begitu. Kalau mau hujan, udara jadi pengap. Mungkin gerimis sudah turun di kota. Sudah berkabut, kok."

"Berkabut? Jelas-jelas kering begitu."

"Petirnya menyambar-nyambar."

"Petir?"

"Petir. Dan pelanginya makin besar saja."

"Aku yakin, seribu persen tidak ada pelangi. Kamu tidak salah lihat?"

"Seribu persen ada pelangi. Punya delapan warna. Merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, ungu, dan satu lagi. Di bawah ungu. Tapi aku tidak tahu warna apa, karena tidak mirip warna apa pun."

"Ultraungu?"

"Apa itu?"

"Warna yang takdapat dilihat manusia. Ultraungu, inframerah, gamma, dan lebih banyak lagi—mungkin, aku tidak terlalu yakin. Pernah dipelajari di IPA, 'kan?"

"Berarti inframerah ada di atas merah?"

"Benar."

"Setelah dilihat-lihat, ternyata memang ada sesuatu di atas merah. Warna lain yang aneh."

"Seperti apa?"

"Tidak jelas. Dia bukan hijau, kuning, biru, atau campuran semuanya. Warna yang asing."

"Kamu tidak mengerjaiku, 'kan?"

"Buat apa membohongi boneka sendiri?"

"Boneka? Siapa yang boneka?"

"Kamu. Siapa lagi selain kamu?"

"Kamulah yang boneka. Boneka tanganku. Kamu meminjam mulutku untuk bicara; meminjam otakku untuk berpikir."

"Kata siapa?"

"Kalian bisa diam, tidak? Aku mau tidur."

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (4)
Rekomendasi dari Drama
Novel
Bronze
Katalis Kata
Aliha Ardila
Skrip Film
Script Film : Mendadak Drakor
indra wibawa
Flash
Warna Pelangi
Rafael Yanuar
Skrip Film
LUBANG HILUM: TANDA LAHIR (SEASON 2)
Priy Ant
Flash
ANAK-ANAK KONGLOMERAT
DENI WIJAYA
Cerpen
Bronze
Milo dan Silo
Foggy FF
Cerpen
Bronze
PATAH HATI DI UJUNG ADAT
ari prasetyaningrum
Skrip Film
Before Tomorrow
Noor Cholis Hakim
Skrip Film
BEBAS
ulfatul Khairah
Skrip Film
Double Dealing
Huyi Thiean
Flash
Atom Yang Berguna
myht
Novel
B.O.M.B
Ni Made Ayu Kristina Marta Dewi
Flash
Akhir Kehidupan
Wilis Juharini
Flash
Bronze
Nasib Buruh Demonstran
Sulistiyo Suparno
Flash
Bronze
Don't Lose Yourself When You're Falling in Love
Silvarani
Rekomendasi
Flash
Warna Pelangi
Rafael Yanuar
Flash
Aku Tak Ingin Mati Seperti Ini
Rafael Yanuar
Flash
Manusia Pertama
Rafael Yanuar
Novel
Di Antara Kelahiran dan Kematianku, Ada Kamu sebagai Hidup
Rafael Yanuar
Flash
Ternyata Aku Masih
Rafael Yanuar
Flash
Lari!
Rafael Yanuar
Flash
Clair de Lune
Rafael Yanuar
Flash
Secangkir Teh
Rafael Yanuar
Cerpen
Rehat Sejenak
Rafael Yanuar
Flash
Jalan Sepajang Malam
Rafael Yanuar
Flash
Janji Santiago
Rafael Yanuar
Flash
Upaya Sederhana Memaknai Kenangan
Rafael Yanuar
Cerpen
Kunang-Kunang di Jendela
Rafael Yanuar
Flash
Dunia dalam Tas
Rafael Yanuar
Flash
Sepayung Berdua
Rafael Yanuar