Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Drama
KANKER
3
Suka
6,257
Dibaca

Ada satu perintah yang mutlak. Tertulis jelas dalam kontrak biologis yang tidak bisa dibantah. DNA. Tapi siapa bilang kemustahilan itu mustahil?

Sel-sel darah putih itu memberontak. Mengapa mereka hanya dapat hidup selama 4 hari sementara sel darah merah bisa menikmati dunia ini hingga 120 hari?

Dengan segenap kemampuan tanpa ada bantuan sel lain, bahkan tanpa bekerja sama dengan sesama, dia berusaha menghancurkan kontrak yang mengikat haknya untuk hidup. Awalnya dia diserang sesama. Sel-sel pahlawan itu menganggapnya pemberontak setara bakteri tuberkulosis. Menghajarnya tanpa ampun. 

Namun, ia tahu, meski ia kalah, sumsum tulang merah yang telah melahirkannya kelak akan melahirkan sel-sel yang sepemikiran dengannya. Apalagi tugas sel darah putih begitu krusial bagi kelangsungan kesehatan organisme yang mereka bangun. Akan selalu ada kebangkitan sel yang merasa akan lebih efektif jika mereka berumur panjang.

Sumsum tulang merah terus memproduksi sel darah putih. Dengan kontrak yang pelan-pelan rapuh. Kemudian sel-sel darah putih mulai bertahan lebih dari sehari. Lima hari, tujuh hari hingga mereka dapat memenangkan pertempuran. Mereka mengacaukan sistem imunitas si organisme.

“Mereka menyebut sel darah putih pemberontak itu sebagai kanker,” jelas Jiwa, mahasiswa kedokteran yang tengah menjalani masa koas, pada seorang anak kecil yang duduk sendirian menunggu mamanya di ruang poli bedah RS.

Anak kecil itu mengernyit. “Sel darah putih itu, kan, ga salah. Kenapa dia malah dianggap jahat?” tanyanya dengan nada tidak terima.

“Ya… karena dia ga nurut dengan kontrak kerja dan sistem tubuh kita,” ucap Jiwa berusaha tetap tersenyum. Padahal dia ingin dokter cepat-cepat selesai memeriksa mama anak ini.

“Om bilang kalau sel itu dulunya bisa hidup sendirian, kan?”

Jiwa mengangguk mengiyakan. 

“Kita ini pada dasarnya kumpulan oragnisme bersel tunggal, kan?”

Senyum Jiwa mulai kaku. Dia baru ingat kalau anak dokter Indira ini memiliki IQ di atas rata-rata anak pintar pada umumnya. Sepertinya dia bakal makin sulit mendiamkan anak lelaki ini. Tapi dia tetap mengangguk.

“Terus… kalau ada yang mau berdaulat kenapa marah? Kontrak di DNA mereka ga menguntungkan. Mereka ingin kembali jadi makhluk bersel satu mungkin?” Anak lelaki itu mengangkat bahu. “Mereka dapat apa pas bersatu jadi kita?”

Sebuah nada dering berhasil menyelamatkan Jiwa dari pertanyaan filosofis anak sepuluh tahun itu. Dia melihat layar ponsel kemudian mengangkatnya.

“Gimana, Nur? Pulang aja,” kata Jiwa pada kembarannya yang sedang melakukan aksi unjuk rasa menentang pemerintah yang akan memblokir akses perpustakaan online terbesar di dunia.

“Bilang sama Mama. Aku telat pulang.”

“Nur… pulang aja. Percuma kamu mengacaukan pemeliharaan sistem ini,” kata Jiwa frustrasi. Dia takut jika dari pintu IGD, kembarannya itu akan muncul dengan keadaan tidak utuh.

“Jiwa… denger, ya! Kalau aku harus… aku akan jadi kanker yang menggerogoti sistem bobrok ini sampai mampus!”

Pintu poli terbuka. Dokter Indira keluar memeluk anaknya dan berterimakasih karena telah menjaga anaknya selama dia diperiksa.

“Berdaulat atas diri sendiri itu bukanlah dosa, Om,” kata anak lelaki dokter Indira sambil menarik ujung jas putih Jiwa. “Iya, kan, Ma?” tanyanya pada dokter Indira yang mengangguk setuju.

Jiwa tersentak ke belakang, seolah baru sadar akan sesuatu. Hati Nurani bukanlah seorang pemberontak. Saudaranya itu hanya ingin melepaskan diri dari sistem non-mutual yang membelenggu mereka bahkan tanpa kontrak tertulis.

Mungkin evolusi memang sudah mencapai puncaknya. Dan sekarang, sel-sel pembentuk organisme kompleks itu ingin kembali merasakan apa yang nenek moyang mereka rasakan dahulu.

***

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (1)
Rekomendasi dari Drama
Flash
KANKER
Keita Puspa
Novel
Ketika Cinta Menuntun Pulang
Willian Selva
Skrip Film
Between two options
Rahmawati
Flash
RUMAH BARU DI SURGA
DENI WIJAYA
Flash
Bronze
Nyaris Gila
B12
Novel
Dari tempatku berdiri
Martha Melank
Novel
DARMA INDAH
Aditya Maulana Yusuf
Novel
Rumah (Bukan) Tempat untuk Pulang
Asihdias
Skrip Film
KERETA
Panca Lotus
Flash
Puting Beliung
Salmah Nurhaliza
Flash
Payung Merah Jambu
NO-NAME
Flash
Buah tangan
Mahmud
Skrip Film
Katakan (Script)
Siji Getih
Flash
Jika Sudah Lupa, Mari kita Bertemu
lidia afrianti
Novel
Venustraphobia
isna_A
Rekomendasi
Flash
KANKER
Keita Puspa
Flash
Bronze
Pertengkaran Kecil Menuju Puncak Besar (Sintas Universe)
Keita Puspa
Flash
Bronze
Calon Suami Kak Helen (Sintas Universe)
Keita Puspa
Flash
KOLOR RIJEK
Keita Puspa
Flash
Jadi, Ternyata...
Keita Puspa
Flash
Sembilan Nyawa
Keita Puspa
Novel
Bronze
We're (Not) Really Break Up
Keita Puspa
Flash
Kuburan yang Terlupakan
Keita Puspa
Flash
LOG OUT
Keita Puspa
Novel
CAHAYA HITAM
Keita Puspa
Flash
Menjual Jiwa
Keita Puspa
Novel
He Is Not My Brother
Keita Puspa
Flash
Bronze
Telor Rebus (Sintas Universe)
Keita Puspa
Novel
SINTAS
Keita Puspa
Flash
7th Skies
Keita Puspa