Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Drama
KANKER
3
Suka
6,256
Dibaca

Ada satu perintah yang mutlak. Tertulis jelas dalam kontrak biologis yang tidak bisa dibantah. DNA. Tapi siapa bilang kemustahilan itu mustahil?

Sel-sel darah putih itu memberontak. Mengapa mereka hanya dapat hidup selama 4 hari sementara sel darah merah bisa menikmati dunia ini hingga 120 hari?

Dengan segenap kemampuan tanpa ada bantuan sel lain, bahkan tanpa bekerja sama dengan sesama, dia berusaha menghancurkan kontrak yang mengikat haknya untuk hidup. Awalnya dia diserang sesama. Sel-sel pahlawan itu menganggapnya pemberontak setara bakteri tuberkulosis. Menghajarnya tanpa ampun. 

Namun, ia tahu, meski ia kalah, sumsum tulang merah yang telah melahirkannya kelak akan melahirkan sel-sel yang sepemikiran dengannya. Apalagi tugas sel darah putih begitu krusial bagi kelangsungan kesehatan organisme yang mereka bangun. Akan selalu ada kebangkitan sel yang merasa akan lebih efektif jika mereka berumur panjang.

Sumsum tulang merah terus memproduksi sel darah putih. Dengan kontrak yang pelan-pelan rapuh. Kemudian sel-sel darah putih mulai bertahan lebih dari sehari. Lima hari, tujuh hari hingga mereka dapat memenangkan pertempuran. Mereka mengacaukan sistem imunitas si organisme.

“Mereka menyebut sel darah putih pemberontak itu sebagai kanker,” jelas Jiwa, mahasiswa kedokteran yang tengah menjalani masa koas, pada seorang anak kecil yang duduk sendirian menunggu mamanya di ruang poli bedah RS.

Anak kecil itu mengernyit. “Sel darah putih itu, kan, ga salah. Kenapa dia malah dianggap jahat?” tanyanya dengan nada tidak terima.

“Ya… karena dia ga nurut dengan kontrak kerja dan sistem tubuh kita,” ucap Jiwa berusaha tetap tersenyum. Padahal dia ingin dokter cepat-cepat selesai memeriksa mama anak ini.

“Om bilang kalau sel itu dulunya bisa hidup sendirian, kan?”

Jiwa mengangguk mengiyakan. 

“Kita ini pada dasarnya kumpulan oragnisme bersel tunggal, kan?”

Senyum Jiwa mulai kaku. Dia baru ingat kalau anak dokter Indira ini memiliki IQ di atas rata-rata anak pintar pada umumnya. Sepertinya dia bakal makin sulit mendiamkan anak lelaki ini. Tapi dia tetap mengangguk.

“Terus… kalau ada yang mau berdaulat kenapa marah? Kontrak di DNA mereka ga menguntungkan. Mereka ingin kembali jadi makhluk bersel satu mungkin?” Anak lelaki itu mengangkat bahu. “Mereka dapat apa pas bersatu jadi kita?”

Sebuah nada dering berhasil menyelamatkan Jiwa dari pertanyaan filosofis anak sepuluh tahun itu. Dia melihat layar ponsel kemudian mengangkatnya.

“Gimana, Nur? Pulang aja,” kata Jiwa pada kembarannya yang sedang melakukan aksi unjuk rasa menentang pemerintah yang akan memblokir akses perpustakaan online terbesar di dunia.

“Bilang sama Mama. Aku telat pulang.”

“Nur… pulang aja. Percuma kamu mengacaukan pemeliharaan sistem ini,” kata Jiwa frustrasi. Dia takut jika dari pintu IGD, kembarannya itu akan muncul dengan keadaan tidak utuh.

“Jiwa… denger, ya! Kalau aku harus… aku akan jadi kanker yang menggerogoti sistem bobrok ini sampai mampus!”

Pintu poli terbuka. Dokter Indira keluar memeluk anaknya dan berterimakasih karena telah menjaga anaknya selama dia diperiksa.

“Berdaulat atas diri sendiri itu bukanlah dosa, Om,” kata anak lelaki dokter Indira sambil menarik ujung jas putih Jiwa. “Iya, kan, Ma?” tanyanya pada dokter Indira yang mengangguk setuju.

Jiwa tersentak ke belakang, seolah baru sadar akan sesuatu. Hati Nurani bukanlah seorang pemberontak. Saudaranya itu hanya ingin melepaskan diri dari sistem non-mutual yang membelenggu mereka bahkan tanpa kontrak tertulis.

Mungkin evolusi memang sudah mencapai puncaknya. Dan sekarang, sel-sel pembentuk organisme kompleks itu ingin kembali merasakan apa yang nenek moyang mereka rasakan dahulu.

***

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (1)
Rekomendasi dari Drama
Flash
KANKER
Keita Puspa
Novel
The Bad Couple
Relia Rahmadhanti
Novel
Talak Di Hari Pernikahan
Claire Park
Flash
Buah tangan
Mahmud
Flash
Bronze
Sampan Tua
Afri Meldam
Skrip Film
Retak Yang Mengutuh (Skrip)
Dzalabu
Flash
Bronze
Yang Pergi Tak Selalu Pindah Hati, Yang Berdiam Diri Tak Selalu Menanti
Silvarani
Flash
The Pretender
myht
Flash
Di Lampu Merah Itu
Elkanara K.
Novel
Mambangkik Batang Tarandam
Tesya Ridal
Novel
Bronze
KARTINI KECIL AYAH
ANDI RIRIN NOVIARTI
Novel
Bronze
Celengan Rindu
Bisma Lucky Narendra
Novel
Enigmatic Soul
Nanas-imnida
Novel
Bronze
Yang Hilang Takkan Kembali
afafraaa
Novel
Tuan Lori
Adinda Amalia
Rekomendasi
Flash
KANKER
Keita Puspa
Novel
SINTAS
Keita Puspa
Novel
He Is Not My Brother
Keita Puspa
Flash
Pendosa
Keita Puspa
Novel
DELTA TEAM
Keita Puspa
Novel
CAHAYA HITAM
Keita Puspa
Flash
Menjual Jiwa
Keita Puspa
Flash
Bronze
Calon Suami Kak Helen (Sintas Universe)
Keita Puspa
Cerpen
Black Friday
Keita Puspa
Flash
Bronze
Telor Rebus (Sintas Universe)
Keita Puspa
Flash
Masalah Jiwa
Keita Puspa
Flash
Bronze
Pertengkaran Kecil Menuju Puncak Besar (Sintas Universe)
Keita Puspa
Flash
Kuburan yang Terlupakan
Keita Puspa
Flash
KEDASIH
Keita Puspa
Flash
AIN
Keita Puspa