Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Drama
KANKER
3
Suka
8,537
Dibaca

Ada satu perintah yang mutlak. Tertulis jelas dalam kontrak biologis yang tidak bisa dibantah. DNA. Tapi siapa bilang kemustahilan itu mustahil?

Sel-sel darah putih itu memberontak. Mengapa mereka hanya dapat hidup selama 4 hari sementara sel darah merah bisa menikmati dunia ini hingga 120 hari?

Dengan segenap kemampuan tanpa ada bantuan sel lain, bahkan tanpa bekerja sama dengan sesama, dia berusaha menghancurkan kontrak yang mengikat haknya untuk hidup. Awalnya dia diserang sesama. Sel-sel pahlawan itu menganggapnya pemberontak setara bakteri tuberkulosis. Menghajarnya tanpa ampun. 

Namun, ia tahu, meski ia kalah, sumsum tulang merah yang telah melahirkannya kelak akan melahirkan sel-sel yang sepemikiran dengannya. Apalagi tugas sel darah putih begitu krusial bagi kelangsungan kesehatan organisme yang mereka bangun. Akan selalu ada kebangkitan sel yang merasa akan lebih efektif jika mereka berumur panjang.

Sumsum tulang merah terus memproduksi sel darah putih. Dengan kontrak yang pelan-pelan rapuh. Kemudian sel-sel darah putih mulai bertahan lebih dari sehari. Lima hari, tujuh hari hingga mereka dapat memenangkan pertempuran. Mereka mengacaukan sistem imunitas si organisme.

“Mereka menyebut sel darah putih pemberontak itu sebagai kanker,” jelas Jiwa, mahasiswa kedokteran yang tengah menjalani masa koas, pada seorang anak kecil yang duduk sendirian menunggu mamanya di ruang poli bedah RS.

Anak kecil itu mengernyit. “Sel darah putih itu, kan, ga salah. Kenapa dia malah dianggap jahat?” tanyanya dengan nada tidak terima.

“Ya… karena dia ga nurut dengan kontrak kerja dan sistem tubuh kita,” ucap Jiwa berusaha tetap tersenyum. Padahal dia ingin dokter cepat-cepat selesai memeriksa mama anak ini.

“Om bilang kalau sel itu dulunya bisa hidup sendirian, kan?”

Jiwa mengangguk mengiyakan. 

“Kita ini pada dasarnya kumpulan oragnisme bersel tunggal, kan?”

Senyum Jiwa mulai kaku. Dia baru ingat kalau anak dokter Indira ini memiliki IQ di atas rata-rata anak pintar pada umumnya. Sepertinya dia bakal makin sulit mendiamkan anak lelaki ini. Tapi dia tetap mengangguk.

“Terus… kalau ada yang mau berdaulat kenapa marah? Kontrak di DNA mereka ga menguntungkan. Mereka ingin kembali jadi makhluk bersel satu mungkin?” Anak lelaki itu mengangkat bahu. “Mereka dapat apa pas bersatu jadi kita?”

Sebuah nada dering berhasil menyelamatkan Jiwa dari pertanyaan filosofis anak sepuluh tahun itu. Dia melihat layar ponsel kemudian mengangkatnya.

“Gimana, Nur? Pulang aja,” kata Jiwa pada kembarannya yang sedang melakukan aksi unjuk rasa menentang pemerintah yang akan memblokir akses perpustakaan online terbesar di dunia.

“Bilang sama Mama. Aku telat pulang.”

“Nur… pulang aja. Percuma kamu mengacaukan pemeliharaan sistem ini,” kata Jiwa frustrasi. Dia takut jika dari pintu IGD, kembarannya itu akan muncul dengan keadaan tidak utuh.

“Jiwa… denger, ya! Kalau aku harus… aku akan jadi kanker yang menggerogoti sistem bobrok ini sampai mampus!”

Pintu poli terbuka. Dokter Indira keluar memeluk anaknya dan berterimakasih karena telah menjaga anaknya selama dia diperiksa.

“Berdaulat atas diri sendiri itu bukanlah dosa, Om,” kata anak lelaki dokter Indira sambil menarik ujung jas putih Jiwa. “Iya, kan, Ma?” tanyanya pada dokter Indira yang mengangguk setuju.

Jiwa tersentak ke belakang, seolah baru sadar akan sesuatu. Hati Nurani bukanlah seorang pemberontak. Saudaranya itu hanya ingin melepaskan diri dari sistem non-mutual yang membelenggu mereka bahkan tanpa kontrak tertulis.

Mungkin evolusi memang sudah mencapai puncaknya. Dan sekarang, sel-sel pembentuk organisme kompleks itu ingin kembali merasakan apa yang nenek moyang mereka rasakan dahulu.

***

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (1)
Rekomendasi dari Drama
Skrip Film
Sanubari (Script)
Imajiner
Flash
KANKER
Keita Puspa
Novel
I ( Everything In My Life )
Liepiescesha
Novel
GALUH
Muala
Novel
Fate & Future
Vitri Dwi Mantik
Skrip Film
Sayap-Sayap Surga
Its J
Flash
Apa yang Terjadi Setelah Pemakaman Itu. . . .
Habel Rajavani
Novel
Bronze
Perempuan yang Bergelut dalam Kenangan
M.R. Pangestu
Flash
Cerdas Cermat
Kiara Hanifa Anindya
Novel
Bronze
Hold My Fire
diannafi
Komik
a Hero
Nur.Suji
Novel
Dear, diary
Liepiescesha
Novel
Meraki, Sebuah Catatan Kehidupan
Dian Y.
Flash
Hilang
SAKHA ZENN
Cerpen
Caelan Kecil Tak Ingin Tumbuh Dewasa
Eldoria
Rekomendasi
Flash
KANKER
Keita Puspa
Novel
AGASTYA
Keita Puspa
Flash
Masalah Jiwa
Keita Puspa
Flash
Pengusiran Setan
Keita Puspa
Flash
Amplop
Keita Puspa
Flash
KOLOR RIJEK
Keita Puspa
Flash
Jadi, Ternyata...
Keita Puspa
Flash
Kuburan yang Terlupakan
Keita Puspa
Flash
KEDASIH
Keita Puspa
Flash
Antropologi
Keita Puspa
Flash
Hidroponik
Keita Puspa
Flash
Cita-Cita
Keita Puspa
Novel
Bronze
We're (Not) Really Break Up
Keita Puspa
Novel
JAM PULANG
Keita Puspa
Flash
LOG OUT
Keita Puspa