Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Romantis
Did You Realize?
0
Suka
7
Dibaca
Flash Fiction ini masih diperiksa oleh kurator

​"Lo sama James sebenernya ada hubungan apa sih, Ki?"

​"Maksud lo gimana?"

​Dimple mendesah jengah. Gadis keturunan India dengan lesung pipit paling dalam yang pernah Kiara lihat itu menatap sahabatnya seolah Kiara adalah teka-teki yang paling sulit dipecahkan.

​"I think you actually understand what I meant here," ucap Dimple dengan penekanan pada setiap kata yang ia ucap.

​Gantian Kiara yang membuang napas kesal.

​"Ya cuma temenan, Di. Sama kayak gue ke lo. Emang kenapa sih? Lo naksir sama si cowok Inggris itu?"

​Mata cokelat Dimple membelalak seketika.

​"Ki, lo percaya nggak kalau gue bilang, James tuh aslinya naksir berat sama lo. Dia cuma tahu, kalau dia nunjukin itu terang-terangan, lo bakal langsung nolak kehadiran dia. Persis kayak cara lo nolak setiap cowok yang berusaha deketin lo di sekolah."

​Tangan Kiara yang tadi sibuk mencoret-coret buku tulis langsung terhenti. Ia menoleh, menatap sahabatnya dengan mata menyipit.

"Teori dari mana lagi sih ini? Kok lo bisa-bisanya ngomong kayak gitu?"

​Dimple jadi ingin sekali menjitak geram kepala gadis yang sudah jadi sahabatnya itu sejak mereka kelas sepuluh.

​"Ki, di mana-mana, nggak ada yang namanya persahabatan murni antara cewek dan cowok. Apalagi lo baru temenan sama James pas SMA. Cewek dan cowok baru bisa beneran jadi temen tanpa ada rasa kalau mereka mulainya dari kecil. Itu juga biasanya, salah satunya pasti ada aja yang nyimpan rasa suka diam-diam."

​Kiara meletakkan bolpoinnya di atas buku catatan. Jemari Kiara mulai memijat pelipisnya yang mendadak pening.

​"Ki, lo sadar nggak sih kalau James itu ganteng banget? Ngeliat James itu kaya cowok-cowokWattpad yang keluar ke dunia nyata. Dengan taraf kegantengan James yang udah nggak manusiawi itu tetep bikin lo nggak naksir juga sama dia, lo sih emang keterlaluan banget jadi cewek."

​Sekarang giliran Kiara yang ingin memelintir telinga Dimple karena ucapan cewek itu sudah mulai melantur ke mana-mana.

​"Lo kalau ngomong begini terus, gue sumpel pakai sambel terasi nenek gue ya! Mumpung nenek gue lagi bikin banyak hari ini."

​Dimple langsung menutup mulut, bukan karena takut dengan ancaman Kiara, melainkan karena Dimple menahan tawanya agar tidak meledak begiru dilihatnya rona merah di pipi Kiara mulai mencuat

​"Ki... cara orang buat deketin cewek itu beragam. Nggak cuma deketin terang-terangan kayak cowok-cowok yang selama ini berusaha mati-matian buat bikin lo jatuh hati. Apa yang selama ini dilakukan James ke lo, itu juga bentuk dari cara dia mendapatkan hati lo. Gue nggak bilang lo naif, karena gue tahu lo emang sepolos itu jadi cewek. But believe me when I say, he's falling so hard for you that he couldn't take his eyes away from you whenever you're in his radar."

​Kiara terdiam untuk beberapa saat. Pandangannya terlempar ke arah langit-langit kamar, mencoba mencari sanggahan yang masuk akal atas ucapan Dimple barusan.

​"Tapi dia emang cuma mau temenan kok sama gue, Di. Lo nggak lihat apa kita sering banget berantem di kelas untuk masalah sepele doang?"

​Dimple berdecak lagi, kesal setengah mati.

​"Berantem itu salah satu cara pendekatan yang paling mujarab untuk ngenalin karakter seseorang, Ki. Deketin orang yang ditaksir itu nggak cuma lewat bunga, cokelat dan kata-kata manis doang. Apa yang James lakuin ke lo itu udah masuk kategori cinta mati. Dengan dia nggak bolehin lo pulang diantar siapa pun kecuali sama si James ini, itu semacam gestur buat dia tunjukkin ke seluruh dunia kalau nggak boleh ada yang deketin lo kecuali James sendiri."

​Kiara menurunkan tatapannya ke arah Dimple dengan kening berkerut.

"Lo makin ngaco deh ngomongnya!"

​"Ih, beneran! Nih, gue kasih tahu faktanya."

Dimple membetulkan posisi duduknya agar bisa menatap Kiara lebih serius.

​"Sebelum lo masuk, James itu sama sekali nggak pernah punya teman cewek di sekolah. Boro-boro teman, ada yang modus deketin dia aja langsung ditolak mentah-mentah. Persis banget kayak lo kalau nolak cowok. Terus ya, dia itu dulu nakal banget. Reputasi dia yang suka pesta dan keluar masuk kelab malam tuh udah terkenal sejagad raya, udah nggak ada obat! Dia hampir nggak pernah mau nongkrong di kantin cuma buat ngobrol nggak jelas."

​Dimple menarik napas panjang, lalu melanjutkan,

"Tapi semenjak kenal lo, tuh cowok British kayak kena hipnotis. Tiba-tiba banget dia jadi rajin ke kantin karena lo suka ke kantin. Tiba-tiba dia betah di kelas kalau ada lo, bahkan dia mau nimbrung ngobrol sama geng cewek-cewek kita, tapi matanya cuma ke lo doang. Padahal yang lebih cantik dari lo di depan mata dia tuh banyak banget..."

​"Sialan lo," umpat Kiara pelan.

​Dimple tidak menggubris gerutuan Kiara, "Tiba-tiba aja dia jadi mau bawa mobil atau motor ke sekolah supaya bisa antar jemput lo, padahal dia sendiri juga belum lama di Jakarta. Mana ada cowok Eropa mau capek-capek hafalin jalanan Jakarta kalau tujuannya bukan karena naksir cewek, Ki?"

​Kiara baru saja mau membuka mulut, tapi jari lentik Dimple sudah lebih dulu membungkam bibirnya.

​"Dan yang paling penting, nggak ada cowok yang ngakunya nggak ada rasa kalau sampai setiap malam minggu selalu punya alasan buat datang ke rumah lo dengan kedok ngerjain tugas. Yaelah, Ki. James biar nakal begitu, otaknya encer banget. Kabarnya pas di London dulu, dia itu pemenang medali emas olimpiade sains tingkat internasional."

​Dimple berhenti bicara, memberi kesempatan bagi Kiara untuk merespons.

Namun, seperti dugaan Dimple, Kiara mendadak jadi bungkam. Penjabaran Dimple terasa terlalu nyata untuk bisa Kiara bantah.

​"Untuk ukuran cowok yang katanya nggak naksir sama lo..." Dimple meraih cokelat yang masih utuh di atas meja lalu membukanya.

​"Apa yang dilakukan James ke lo itu berbanding terbalik sama apa yang berusaha lo yakini selama ini, Ki."

​Dimple menggigit cokelatnya dengan lahap. Mata cokelatnya menatap Kiara yang sekarang terlihat dirundung kebimbangan.

Setelah terdiam cukup lama, Kiara akhirnya buka suara.

"So, what's your point?"

​"My point is... you need to start looking deeply to whatever James doing to you from now on. Dia jatuh cinta sama lo, Ki. Dia sedang berusaha membuat lo jatuh hati juga sama dia. Lo harus mulai sadar akan hal itu."

​Yang Dimple tidak tahu adalah, jauh sebelum teori itu meluncur dari mulut Dimple, Kiara sudah punya kesimpulannya sendiri tentang semua sikap James.

Kiara hanya belum cukup berani untuk mengakuinya, bahkan kepada Dimple sekalipun.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Romantis
Novel
EPIPHANY
Rindu Kamu
Novel
Dari ANRES untuk SHENA
Devi Jum'atika
Flash
Did You Realize?
Farah Maulida
Novel
Good(bye) Happiness
Junata Fan Dessi Sinaga
Skrip Film
CEO Bucin (Draft 1)
Eko Witjaksono
Novel
Bronze
Proof Of My Heart
Ndah08
Novel
Bukan Badboy Penyelamat Sekolah
Muhammad Azhar
Skrip Film
Selepas Senja
Yunda pramukti
Flash
Surat Cinta
Suci Asdhan
Flash
Bronze
Curhat pada Sopir Taksi
Sulistiyo Suparno
Cerpen
Eternity
Tuti Haryati
Novel
Bronze
Rama's Story Origins : Shape Of Angel
Cancan Ramadhan
Novel
Bronze
Saga dan Senja
Kartika kurniati
Novel
Secangkir Matcha
imagivine
Flash
Bronze
Eiffel Evil
Silvarani
Rekomendasi
Flash
Did You Realize?
Farah Maulida
Cerpen
After Two Years
Farah Maulida
Cerpen
Kala Itu, di Bandung
Farah Maulida
Flash
Never Just a Friend
Farah Maulida
Flash
Unexpected You
Farah Maulida
Cerpen
Edge of Us
Farah Maulida
Cerpen
Bukan Roman Picisan
Farah Maulida
Flash
Bronze
Anterior to Your Heart
Farah Maulida
Flash
Parallax of Truth
Farah Maulida
Flash
Bronze
Half-Written Love
Farah Maulida
Novel
Its Always Been You, Fraya
Farah Maulida
Flash
Bronze
I Found You First
Farah Maulida
Flash
Bronze
Semua Untuk Anya
Farah Maulida
Flash
Always Have Been, Always Will Be
Farah Maulida
Flash
Bronze
The Galaxy In Our Room
Farah Maulida