Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Romantis
Kamu dan "Kamu"
0
Suka
4
Dibaca
Flash Fiction ini masih diperiksa oleh kurator

“Nah, sudah kukatakan apa yang selama ini paling kurahasiakan dalam persahabatan kita.” Rena mengangkat cangkir kopi yang baru saja diantar pelayan itu lantas menatap pola cantik di permukaannya. “Ayo gantian.”

Teo tersenyum, tak lama kemudian pundaknya bergetar karena menahan tawa.

“Kenapa?” Mata Rena menyipit curiga.

“Tidak ada,” jawab Teo santai. “Hanya saja, hm ... kurasa tak ada lagi yang aku sembunyikan darimu.”

“Ah, kau bohong.”

“Baiklah ... tanyakan apa saja.”

Rena menyeruput minumannya, meletakkan kembali ke meja kemudian melipat dua tangan. Dari ekspresi wajah, gadis itu terlihat begitu penasaran seolah sudah menantikan momen ini entah sejak kapan.

“Soal asmara.”

Senyum Teo tak lenyap, bahkan ia pun tak nampak heran. Alisnya sedikit terangkat ketika dua detik kemudian Rena tak kunjung mengajukan pertanyaan.

Gadis itu agak kecewa melihat reaksi Teo. “Kita sudah saling merahasiakan soal asmara selama satu tahun kita kenal, dan tadi aku sudah katakan semua. Gantianlah.”

“Oke.” Teo menyeruput kopinya pula. “Kau ingin mulai dari mana?”

Rena berpikir sejenak, matanya melirik ke atas. “Tentang perempuan yang ketika kau melihatnya dari jauh saja, bahkan tanpa mengobrol, kau sudah merasa senang sekali.”

“Oh itu.” Teo berdeham dua kali sebelum memulai ceritanya. “Aku kenal dia dari SMP kelas dua.”

“Wah, sudah tujuh tahun, dong?”

Teo mengangguk membenarkan. “Aku kenal dia karena waktu itu kuotaku habis dan harus kirim pesan ke orang tua kalau aku pulang lebih awal. Kebetulan dia sama-sama menunggu jemputan, aku minta hotspot kepadanya, dan itu jadi obrolan pertama kami.”

Rena mengangguk-angguk sambil mendengarkan seksama. Ia menatap mata Teo yang seolah sedang melihat kejadian itu tepat di depan mata.

“Ternyata dia ramah sekali, obrolan kita pun nyambung. Padahal dari jauh wajahnya seperti perempuan galak.” Teo terkekeh, menyeruput kopinya lagi. “Dan besoknya, kami menunggu jemputan bersama lagi.”

“Pulang awal lagi?”

Teo mengangguk.

“Enak sekali.”

“Kebetulan yang tak datang dua kali. Kelasku dan kelasya pulang awal bersama.”

“Teruskan ... teruskan ....” Saat itu pelayan membawa pesanan makanannya dan Rena langsung mengambil kentang goreng dari tempatnya.

Kesepuluh jari tangan Teo saling remas. Setelah menarik napas panjang, ia melanjutkan. “Lalu saat porseni, kami menonton tiap pertandingan bersama-sama, tempat duduknya selalu dekat denganku, dia—”

“Ah, kau yang sengaja dekat-dekat dia, kan?” ucap Rena dengan alis naik turun. “Jujur saja padaku.”

Teo terkekeh, akan tertawa keras jika mulutnya tak ditutup dengan tangan. “Yang pasti dia cerewet.”

“Oh?”

“Kalau dia bicara, tak pernah ada titik dan koma, tapi dia selalu mengaku sebagai introvert.” Makanan Teo datang, ceritanya berhenti sejenak untuk mengucap terima kasih kepada pelayan. “Tapi dia selalu tahu kapan untuk diam, seperti ketika aku cerita tentang puisiku yang kalah lomba, bahkan jadi bahan cemoohan banyak kontestan—”

“Soal puisi itu kau tak pernah ceritakan padaku.” Rena mengerucutkan bibir, menatap tak senang. “Apa maksudmu?”

Mulut Teo masih terbuka karena ucapannya belum selesai, tapi senyumnya terbit tak lama kemudian. “Tak ada maksud apa-apa, itu kan memalukan untuk diceritakan—”

“Tapi kau tak malu cerita kepada dia.”

“Ekhm, yah ... sekarang kau sudah tahu, kan?”

“Kenapa tidak dari kemarin?”

“Kau ingin dengar kelanjutannya tidak?”

Mereka saling pandang untuk sekian lama, dengan sebal akhirnya Rena mengembuskan napas kasar dan mengambil satu steak dari piring Teo. “Ini untukku sebagai permintaan maaf!” ucapnya. “Lanjutkan ceritamu!”

Teo merasa sedikit keberatan dengan sikap Rena, tapi pemuda itu tak mempermasalahkannya. “Dia juga suka memotong percakapan orang, memang agak tidak sopan, sudah kuingatkan berkali-kali tapi susah untuk diubah.”

“Bilang saja kau sedang menyindirku.” Rena menggigit steak curiannya kuat-kuat.

Teo menggeleng. “Aku jujur,” ujarnya. “Ketika lulus SMP, dia masuk SMA dan aku SMK. Walau tak pernah bertemu, tapi kami masih saling komunikasi lewat chat.”

“Tunggu, kalian tidak pacaran?”

Teo diam sebentar, matanya menerawang ke kejauhan. Ia masih tersenyum, tapi matanya seolah tak mencerminkan senyum itu. “Setelah dua bulan masuk SMK, aku mengutarakan perasaanku padanya dan kami resmi berpacaran, walau orang tua kami tidak tahu.”

“Cie ....”

Teo mengabaikannya. “Seperti anak-anak muda pacaran pada umumnya, kami sering jalan-jalan di akhir pekan, saling menyemangati, pergi ke bioskop, dan bertengkar.”

Rena terlihat makin tertarik, matanya melebar dengan senyum yang lebih terkembang. Sebaliknya, perlahan Teo kehilangan senyum yang tadi tak pernah mengendur sedikit pun.

“Ketika kami naik ke kelas dua, dia cuti sekolah selama hampir satu semester.”

Wajah ceria Rena menghilang dalam sekejap. “Kenapa?” tanyanya spontan.

“Kecelakaan parah, dia koma tiga bulan.”

“Lalu sekarang, bagaimana keadaannya?”

“Untung masih bisa diselamatkan.” Teo menghela napas panjang, merasa lega dengan itu. “Lalu dia kembali bersekolah, walau sangat kesulitan menyesuaikan dengan teman-temannya.”

“Syukurlah ....” Setelah meneguk sedikit kopinya, Rena mendesak. “Lalu bagaimana denganmu?”

“Saat aku mengirim pesan padanya, jawabannya aneh, dia—”

“Dia sudah punya yang baru?!” Mata Rena melotot dan tangannya terkepal erat. “Seperti di film-film itu?”

“Tidak, tenanglah.” Teo tak bisa menahan tawanya melihat tingkah Rena. “Dengar dulu.”

Rena melemaskan seluruh urat syaraf, memasang wajah serius.

“Dia ....” Ucapan Teo terhenti selama beberapa detik, dan keningnya sedikit mengerut. Wajahnya seperti sedang menahan sakit.

“Kenapa?” Rena mengulurkan tangan, mengusap jemari Teo pelan. “Apa yang terjadi setelahnya?”

Usapan tangan Rena seolah memberinya kekuatan baru. Dengan suara lirih, Teo menjawab. “Dia ... dia lupa kepadaku.” Saat mengucapkannya, tubuh Teo seperti tersentak karena suatu hal tak kasat mata.

Bahkan tangan Rena yang mengusap jemari Teo sampai sedikit bergetar. Gadis itu sama sekali tak menyangka perempuan yang diceritakan sahabatnya akan mengalami lupa ingatan.

“Aku sudah berusaha meyakinkannya bahwa aku pacarnya, tapi dia tak percaya dan malah curiga, lalu memblokirku, dan yah ... hubungan kami berakhir.”

Kali ini Rena tak memotong ucapan Teo, tetap diam memasang telinga dan memperhatikan dengan seksama. Rena tahu saat ini ia harus diam.

Sepertinya pada bagian ini terasa sangat berat, Teo meneguk kopinya beberapa kali dan menarik napas panjang. Selang beberapa detik, ia melanjutkan. “Lalu saat aku masuk kuliah, kami bertemu lagi di universitas yang sama bahkan satu jurusan.”

Mata Rena membesar sedikit, rasa penasarannya kembali tergugah. “Boleh kutahu namanya?” tanya Rena hati-hati.

Teo menatap sepasang mata gadis itu, selang beberapa saat, senyum pahit pun tercipta.

“Namanya Rena.”

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Romantis
Flash
Kamu dan "Kamu"
Rakanta
Novel
Gold
Jejak Cinta 20 Tahun Berlalu
Mizan Publishing
Novel
QUEER
Regita wahyu cahyantie
Novel
Observer
Bahara azwa
Novel
SAKURA
Ejas Intan
Novel
Bronze
No Tikung Tikung Club
Sasa Ahadiah
Flash
Yogyakarta
Elvira R
Flash
Bronze
Persentase yang Tertinggal
Ahmad Wahyudi
Cerpen
Dunia Hijau milik Cemara
Reveniella
Novel
Bronze
QUINNSHA
Gina Hartina
Novel
Bronze
Stone Tower
Ananda Putri Safitri
Novel
MARRIED CIL
Safira
Novel
BUKAN SALAH JODOH
Author Cimot
Novel
Bronze
Love Of Rayya
Aizawa
Skrip Film
T(EAR)IMISSU
Atsuka D
Rekomendasi
Flash
Kamu dan "Kamu"
Rakanta
Flash
Kakek, Lihatlah Hari Ini
Rakanta
Cerpen
Nama Itu Doa
Rakanta
Cerpen
Personifikasi
Rakanta
Cerpen
Dia Sahabatku
Rakanta
Cerpen
Cintai Aku Tuhan
Rakanta
Cerpen
Warna-Warna Palsu
Rakanta
Cerpen
Rindu Tak Bertepi
Rakanta